what if marco–ares punya bayi kembar?
Sesampainya di rumah yang semua lampunya masih nyala bahkan sampai lampu luar pun belum dimatiin sama Ares, Marco bergegas masuk dengan setelan dia main basket bareng Sirkelnya, buru-buru pamit duluan tadi, untung udah mayoritas jadi bapak-bapak juga, jadinya dimaklumi lah kepergian Marco tadi.
Begitu masuk, suara teriakan dan tangisan langsung sahut-sahutan dari arah kamar Si Kembar; Ryan dan Rayyan, biar pendek biasa dipanggil Ian dan Aan.
“Sayang,” sapa Marco begitu masuk. Liat Ares lagi gendong Ian sementara tangannya pukpuk Aan yang rebahan di kasur sambil berusaha guling-guling dan menangis.
“Kenapa kok pada nangis gini, Ian sama Aan?” tanya Marco, begitu raih dan gendong Aan, beruntung Marco belum sempat main lama-lama. jadinya gak kotor.
“Nggak ngerti, setengah jam kamu pergi Ian masih ngoceh di depan tv, Aan udah tidur habis makan malam, setengah jam berikutnya langsung pada nangis, nggak tau kenapa, aku bingung,” jelas Ares sambil cerita, sambil berusaha nenangin Ian dalam gendongannya dengan sentuhan.
Bayi usia 5 bulan itu masih merengek-rengek dalam gendongan Ares, sementara Aan udah anteng aja gelayutan di leher Bapaknya.
“Udah nenen belum?” tanya Marco ke Ares, sambil tangannya pukpuk bahu kecil Aan.
“Udah,” sahut Ares, keliatan banget wajah lelahnya, juga ada air mata di pipi, masih basah, hidungnya sedikit memerah dan alisnya mengkerut.
Begitu Aan udah merem, Marco berniat untuk ambil alih Ian dari gendongan Ares, tapi begitu bersentuhan, Marco merasakan tubuh Omega-nya itu terasa panas sampai dia pun kaget.
“Sayang, kamu demam?” tanya Marco, panik. Untung udah rebahin Aan di kasur.
Waktu Ares akhirnya menatap Marco, air matanya jatuh, bibirnya bergetar, “aku capek,” katanya.
Jantung Marco langsung salto.
“Sayang…” lirihnya.
“Sini biar Ian sama aku, ya? Kamu, cuci muka dulu, udah mandi belum?” tanya Marco, akhirnya ambil alih Ian dari gendongan Ares yang lantas menggeleng.
“Kok belum?” tanya Marco, seraya sentuhannya mencoba menenangkan Ian yang seseunggukan.
Ares menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang Si Kembar dan ngehela napas, nutup mata dan nahan banget buat gak nangis, tapi Ares capek.
“Aku nggak sempat, keburu Ian sama Aan tantrum, aku habis cuci perabot tadi, itupun kayaknya belum semua beres,” kata Ares, dengan suara yang sedikit bergetar.
Marco langsung merasa bersalah banget.
Beruntung setelahnya Ian udah tidur, Ares bangkit buat biarin Marco merapikan sekat di setiap sisi ranjang si Kembar, supaya kalau nanti mereka bangun gak langsung lompat. Alarm akan berbunyi kalau si Kembar Kucing itu bangun.
Jadi kemudian Marco bisa meraih Ares untuk mengurus Bayi Besarnya itu setelah berhasil dengan ajaibnya membuat sepasang Anak Bunda; Ian dan Aan jadi lebih tenang dengan sentuhan Bapaknya yang kadang masih suka sibuk kerja.
Ares pasrah aja dia dibawa ke kamar sama Pak Suami, si Enigma lantas menggiring Ares ke kamar mandi.
“Heh, mau apa?!” tanya Ares, panik dikit sebelum masuk kamar mandi.
Marco senyum kecil, “mandi lah, mau apa lagi orang ke kamar mandi?” tanyanya balik, “ayo, nggak di apa-apain kok, cuma mandi, kamu lagi demam, bukannya bilang gitu, malah ngamuk-ngamuk di chat,” kata Marco, mendorong tubuh lemas Ares ke dalam kamar mandi.
“Kok ikut buka baju?!” tanya Ares, panikan banget Alpha Bunda.
“Ya mandi bareng, aku mandiin kamu,” kata Marco dengan santainya.
Yang namanya suami—suami mah ya, udah biasa saling menelanjangi tapi kali ini kepala Ares malah jadi semakin berdenyut kala Marco memandikan dirinya dengan air hangat.
Aduh, entah kenapa kok de javu bener sama kamar mandi.
Sentuhan tangan Marco membasuh tubuh Ares yang diam, tangannya bergerak buat menyugar rambut yang sudah cukup panjang sekarang, sudah sebahu, saking sibuknya mengurus dua kecebong unggulan Ian dan Aan, satu Alpha satu Enigma.
“Kamu capek banget ya ngurusin rumah sama Si Kembar sendirian?”
Begitu sesi basuh membasuh, tiba-tiba Marco memeluk Ares dari belakang, menumpu dagunya di bahu Ares, dibawah pancuran hangat air yang melebur penat Ares, ada usapan demi usapan sayang dari Marco tepat di bekas jahitan melintang di perut Ares.
Garis Kehidupan Ian dan Aan.
“Sayang?” tegur Marco lembut, sebab Ares malah diam.
Bukan apa-apa, ini Ares sedang menghayati setiap kali penciumannya menghirup feromon Marco, di antara uap hangat dari air yang terus mengalir, juga sentuhan dan belai lembut napas Sang Enigma kala bicara.
“Capek…” jawabnya.
“Tapi aku seneng, tapi ya memang capek, gimana?” tanyanya kemudian.
“Kita cari Babysitter, mau?” tanya Marco, pelan-pelan, sebab tau banget kalau Omega-nya itu takut buat kasih kepercayaan ke orang lain, siapapun itu, kalau udah sangkut paut sama Si Kembar, Alpha Bunda langsung mode Super Protective.
“Nggak.” Jawaban mutlak Ares yang udah ditebak sama Marco.
“Okay…” jawab si Enigma, gak hentikan elusan sayang di perut Ares.
“Kalau gitu kita cari Maid, buat bantu kamu urusin Rumah, dan cuma itu, Ian sama Aan tetap kamu yang urus, semuanya, gimana?” tanya Marco menawar.
“Boleh deh,” jawab Ares, yang bikin Marco akhirnya yakin, kalau Alpha Bunda beneran kewalahan selama ini, sudah sampai di titik puncak, sudah gak sanggup kalau harus semua sendiri.
“Okay, besok dicariin untuk secepatnya supaya kamu nggak kewalahan,” ucap Marco kali ini, membalik tubuh Ares dan membasuh wajah sang Omega sebelum akhirnya mematikan nyala air dan menarik handuk untuk terlebih dahulu melilit bagian bawah tubuhnya, barulah membalut tubuh Ares dengan handuk.
Marco tau akan ada saat dimana Ares marah-marah dengan bahasa Jaman Bebasnya, seperti tadi. Dan sangat siap untuk masa-masa seperti Area yang akan kelelahan dengan semua tanggung jawab yang dia pikul, sekarang jadi Alpha Bunda, dari Sepasang Bayi Kembar, mana Alpha dan Enigma pula, kalau tantrum, Alpha Bunda jelas kalah dibanding sama sepasang Bocil Kematian; Ian dan Aan.
Dan, sampailah pada saat yang berpeluk-pekuk hangat. Di atas satu ranjang yang sama untuk malam kesekian setelah pernikahan mereka, Ares membiarkan tubuhnya dibalut rengkuhan tubuh besar Marco pula pelukan selimut yang mempertahankan hangat untuk menetap.
“Aku minta maaf, ya.”
“Kenapa minta maaf?”
Tangan Ares meraih tangan Marco untuk saling menggenggam, sementara kini wajah mereka begitu dekat.
“Bun, kamu itu keajaiban terhebat dalam hidupku. Kamu Alpha teristimewa di dunia.” Kata Marco dengan tatapan penuh puja.
Ares diam, menghayati debaran di dadanya, dibuat langsung secara nyata oleh sang Enigma.
“Sedikit dari sekian banyaknya Alpha di dunia yang bisa mengandung dan melahirkan bayi, sementara Kamu bahkan bisa kasih aku sepasang, Alpha Ryan dan Enigma Rayyan, pernah berpikir nggak, soal betapa hebatnya Ares-ku ini, hm?” Ujar Marco dengan nada penuh kelembutan, feromonnya pun menguar, penuhi setiap rongga dalam tubuh Ares, wanginya menyalakan atensi penuh atas afeksi dari sang Enigma.
Sentuhan tangan Marco di raih oleh Ares, yang lantas genggam tangan besar itu, dan bawa mendekat, menjatuhkan sebuah ciuman di punggung tangan Marco.
“Diem.” Kata Ares, malu.
Marco melepaskan kekehan dan meraih Ares ke dalam pelukan, Alpha Bunda kalau udah dikasih Kata-kata pujangga gak bisa berkutik.
Tapi ajaibnya, sakit kepala Ares sudah reda, walau tubuhnya masih terasa amat lelah. Tapi Marco dan ketenangan Si Kembar saja sudah cukup.
“Maaf ya, tadi aku marah-marah di chat, nggak sengaja, posisinya aku bingung banget harus gimana lagi ngadepin Ian sama Aan, mereka kayaknya nggak mau jauh-jauh dari kamu, padahal biasanya ditinggal kerja nggak masalah,” jelas Ares dengan bibir maju-maju setiap kali dia bercerita, memang alamiah sudah begitu, malah dapet Suami unstoppable macam Marco.
“Aku—hmph!” Ya, disosor.
Bibir Marco melumat bibir Ares yang kenyal, namun terasa hangat, tangan si Alpha Bunda kemudian bertengger di bahu Marco, sedikit berikan remasan, gak menolak ciuman, justru balas dan biarkan Marco meraih pinggangnya mendekat.
“Hmmh…”
Cup!
Suara kecupan yang menggelikan menutup sesi sosor-sosor berhadiah oleh Marco, menjilat bibir bawah Ares yang tinggalkan perisa manis di lidahnya.
“Jangan minta maaf, sayang, aku tau kamu capek, justru aku yang minta maaf malah tetep ninggalin kamu di rumah sendirian, lain kali kalau memang nggak yakin bisa ditinggal, bilang ya? supaya aku nggak jauh-jauh kalau ada kenapa-napa.”
“Ngerti, Ares?”
Ares yang denger itu, mengangguk patuh dan menjatuhkan sebuah ciuman di rahang tegas Bapak Komar alias sang Enigma.
“Ngerti, Enigma.” Katanya.
“Good, sekarang tidur, kamu harus istirahat.”
“Nanti kalau Ian atau Aan bangun, biar aku yang urus, kamu tidur aja biar besok suhu tubuhnya turun.”
Ares terkekeh, “kalau Ian sama Aan minta nenen, kamu yang urus ya?” katanya.
Kali ini Marco mendengus, gemas, dia bawa jemarinya menjawil pipi gembil sisa-sisa Hamil si Bunda Alpha, “kayaknya yang mau nenen itu Bapaknya, bukan Ian sama Aan.” Ujarnya, cabul.
“Nggak, nggak ada Bapaknya nenen-nenen, biasanya suka tuman, akhirnya nggak cuma nenen!” omel Ares yang bikin Pak Suami tergelak ganteng.
Kali ini ditariknya tubuh Ares, pasrah kembali ke dalam rengkuhan erat sang Enigma.
“Yang penting ‘kan the Moon is beautiful, Bun.”
“Apa hubungannya?”
“Aku cinta kamu.”
Ares menahan tawa dan gigit main-main bahu Marco;
“Dasar, Komar Jamet!” hardiknya.
“Jamet-jamet gini juga Ayes only loving Komar.” Ujar Marco dengan santainya.
Bangga aja dia mah dikata Komar asal Ares yang berkata.
“Bucin.” Ledek Ares.
“Tujuan hidupku setelah menikah memang untuk membucin Istri dan Anak-anak kok, tenang aja.”
Marco emang dah, si paling ada aja jawabannya.
“Komar.”
Lama hening, akhirnya Ares bersua, terdengar mulai gak sanggup tetap terjaga.
“Ya, sayang?”
“Ayes juga.”
Marco gigit bibir karena gemas;
“Ayes kenapa?”
“Ayes juga, cinta Komar.”
Marco mimisan.