Hinandra
4 min readMay 1, 2024

Training Results.

CW // misgendering, male pregnant.

“Siap, Mami Boss!!”

Heeseung yang baru masuk rumah denger seruan itu, yang khas suara Ni-ki.

‘Mami Boss?’ ujarnya bingung dalam hati. Kakinya melangkah masuk dan akhirnya nemu empat orang kumpul di meja makan.

“Makan yang banyak, kalian udah berjuang keras hari ini.”

Heeseung berdiri di belakang Jay yang belum tau kedatangannya, berbeda sama tiga pemuda yang langsung sibuk sama makanan mereka begitu liat Heeseung.

“Sunoo boleh tidur sampai tengah hari besok.” Kata Jay.

“Yess!!” ujar Sunoo kecil tapi bergelora.

“Jungwon harus bangun pagi karena kalah taruhan sama Sunoo, temenin Mami berkebun ya? Nanti Mami ajarin soal tanaman yang bisa untuk obat disaat kepepet terluka dalam misi yang harus dilakuin di tempat yang jauh dari pemukiman warga kaya minggu lalu. Atau racun untuk bantu misi.”

“Okay, Mam.” Jawab Jungwon dengan patuh dan manis, gak seperti saat diajari Sunghoon, anak ini dingin banget dan suka berdecak malas, nantangin kesabaran Sunghoon yang setipis tisu.

“Ni-ki!!” seru yang termuda, yang emang cengeng mampus, Heeseung tau, ditambah juga aduan Sunghoon yang sampai menyerah ngajarin Ni-ki.

“Ni-ki mau apa besok?” tanya balik Jay dengan lemah lembut. Sampai Heeseung terkejut sebab secara tiba-tiba otaknya berhenti berjalan.

Kelembutan ini membawanya jauh sekali pada saat dia masih kecil, jauh lebih muda daripada Ni-ki saat ini. Saat Heeseung masih punya orang yang disebut ‘ibu’ dan bisa merengek saat Ayahnya memaksa Heeseung untuk jadi begini dan begitu.

“Ni-ki mau bantuin Jungwon aja deh,” kata Ni-ki, “Ni-ki juga mau belajar soal racun,” imbuhnya.

“Okay, setuju, ide yang bagus.”

Senyum Ni-ki merekah saat tangan Jay mengusap rambutnya.

Dilihat-lihat, tubuh kurus ketiga anak muda itu sekarang sudah jadi lebih berisi, wajah-wajah kusam dan gak bergairah hidup yang sebelumnya sudah berganti dengan senyum-senyum kecil nan tulus, binar mata mereka juga keliatan lebih hidup dari sejak Heeseung pungut mereka di jalanan. Saat Sunoo digebukin karena mencuri di swalayan, saat Jungwon hampir sekarat dihajar satu geng yang dia tantangin, saat Ni-ki ditendang keluar dari panti asuhan yang bangkrut.

Pikiran Heeseung soal anak-anak ini yang gagal diurus Sunghoon langsung buyar begitu liat mereka bersenda gurau dan ngobrol hangat sama Jay, di meja makan seperti sebuah keluarga bahagia walau obrolannya seputar hal-hal yang berhubungan dengan Pembunuh Bayaran.

Di tangan Jay mereka jadi manusia yang lebih hidup.

“Kenapa bengong?”

Tap!

Heeseung tersentak sedikit, terlebih ketika telapak tangan Jay menyentuh bahunya dan tau-tau cuma ada mereka berdua disana.

“Ada apa dengan ‘Mami Boss’ itu?”

“Ekspresi lo jelek banget, Boss.”

Gyutt!

Kalo di manhwa, muncul perempatan di pelipis Heeseung denger komentar Jay yang sangat berani itu. Terlalu berani, Heeseung kaget.

Dan bingung juga kenapa kaget.

“Sejak kapan lo jadi kurang ajar begini?”

“Lo udah makan?”

Jay mengabaikan pertanyaan Heeseung, dia berbalik dan mempertanyakan hal lain.

Kerutan alis Heeseung makin jadi.

Ditinggal dua bulan, Jay jadi menyebalkan.

“Jawab pertanyaan gue.”

“Yang mana?”

“Sialan!”

Ekspresi santai Jay bikin Heeseung geram entah kenapa.

“Marah-marah terus, nanti cepet mati.”

Grab!

Bahu Jay diputar Heeseung supaya kembali menghadapnya, tarikan yang cukup kencang rasanya sampai Jay meringis kecil.

“Lo bener-bener ya!” desis kesal Heeseung.

“Gue kenapa sih?!” balas Jay yang entah kenapa ngegas.

“Semua orang kaya kaget dan heran sama gue padahal gue sama aja!?” ujar Jay ke Heeseung yang bergeming.

“Lo pikir gue punya jawaban yang jelas kalo lo tanya keadaan gue? Enggak! Gue juga bingung!”

“Gue bingung kenapa gue jadi begini, lo pikir gue ngga overthinking karena perubahan dari diri gue sendiri?! Disaat yang sama gue juga harus memahami mood tiga orang tadi, anak-anak yang jauh dari sentuhan kasih sayang untuk cukup bikin mereka dengerin gue sebagai pelatihnya!!”

“Kenapa jadi lo yang marah-marah?” bingung Heeseung.

“Gue juga gak tau kenapa gue marah?!” bentak balik Jay.

Wajahnya maju, desisnya macam macan bunting yang siap nerkam.

“Gue gak tau kenapa tiap ceritain keadaan gue ke Jake bawaannya kesel!!”

“Kesel banget apalagi karena gue sendirian dan Jake pasti tanyain soal lo!! ‘Si Boss gak pulang lagi?’ ‘Si boss gak ngurusin lo?’ ‘Kok minta Bodyguard, emang si Boss ngga bisa?’ gitu-gitu, lo pikir gue gak berusaha supaya bisa sanggup-sanggupin semuanya sendiri? Gue usaha tapi tetep aja gue gak bisa berhenti mikirin lo!!”

Telunjuk Jay mengacung membentur bahu Heeseung saking serius marahnya, saking serius frustasinya.

“Lo minta apa ke Bodyguard?”

Tatapan Heeseung menajam saat wajah Jay memerah bersamaan dengan perlahan kepalanya tertunduk.

“Jawab.” Suara Heeseung turun, aura hitam dan dominasinya tersalurkan ke jemari yang meraih dagu Jay, membawanya menatap Heeseung.

“S-sex.”

Grab! Brak!

Tubuh Jay terdorong nabrak meja makan dengan tangan Heeseung mencengkram bahunya.

“Sebut nama bodyguard itu.”

“L-lo mau ap — ”

“SEBUT NAMANYA!!” teriak geram Heeseung di depan wajah Jay.

Seluruh tubuh Jay gemetar saat melihat wajah Heeseung yang merah dengan mata menatap tajam, menakutkan.

“Tap-tapi kenap — ”

“KIM SUNOO!!” teriak Heeseung keras.

Suara langkah terburu Sunoo terdengar, “Siap, Boss!!” serunya.

“Kumpulin semua Bodyguard di halaman, sekarang.”

“B-boss….”

Heeseung melepaskan Jay, membawa langkahnya pergi tanpa mengatakan apapun.

Jay berdiri bingung sampai Heeseung hilang dimakan kejauhan.

“Kenapa dia harus semarah ini….”

[ to be continued ]

demonycal property.

No responses yet