the moon is beautiful, isn’t it?
Mungkin Yuma memang bodoh. Mengiyakan pesan Taki dan menghampirinya, membuka gerbang Rumah untuk kemudian duduk bersisian di kursi taman, menatap langit dan bulan dari sudut pandang yang berbeda, biasanya terdengar canda tawa, tapi sekarang hanya ada senyap, hening sebab Yuma memilih diam sembari menghayati waktunya bersama Taki, yang ia tak tahu bahwa pemuda itu hanya terus menatapnya tanpa berhenti.
Seraya mengumpulkan keberanian yang luruh setelah melihat gurat sendu pada wajah nan manis Yuma saat datang menghampirinya.
“Yuma.”
Taki degdegan sampai mau mati.
“Uhm?”
Baru deheman semata dan Taki sudah kehilangan setengah kewarasannya.
Mau cium Yuma.
“Yum—”
“Oh, ini malam minggu ‘kan? kok kesini sih, bukannya jalan sama Niki?”
Dor!
Jantung Taki serasa ditusuk belati.
“Buat apa jalan sama Niki?”
“Kalian udah balikan, ‘kan?”
Yuma tidak menoleh, tak melihat betapa ingin Taki menciumi wajahnya sampai basah oleh ludah seperti biasanya.
“Waktu di lapangan itu, gue liat kok, Niki ngajak lo balikan, dengan gaya dia yang sangat manis itu, kalau gue jadi ‘lo, gue juga pasti lebih milih Niki sih, daripada—”
“Coba kalau bicara liat orangnya.” Sela Taki, menengur setelah rasanya kesal sekali begitu tahu kemana arah kalimat Yuma.
Yang terdengar hanya kekehan, namun atensi Yuma kembali pada rembulan, indah memang, seindah Yuma.
“Lihat gue, Yuma.”
Sulit.
Yuma terus melihat ke atas, demi menahan air matanya. Malam ini, Yuma tidak mengizinkan dirinya untuk terlihat lemah walau sejatinya ia hancur.
Taki menghela napas, saat Yuma kukuh tak mau melihat dirinya, maka Taki bangkit, berdiri menghadang pandangan Yuma menitik rembulan.
“Gue mau bicara, jadi lihat gue. dengerin gue baik-baik, Yuma.”
Taki meletakkan ponselnya di pangkuan Yuma, membuat si manis mengerutkan kening bingung, meraih ponsel Taki kemudian tiba-tiba Taki berlutut di hadapannya.
“Gue gak balas chat lo kemarin karena gue tau lo emosi, lo butuh waktu, lo pasti gegabah dan gak mikirin ketikan lo, gue tau itu karena gue sering begitu sebelum gue sama ‘lo, Yuma.”
“Iya, dan itu artinya lo gegabah, lo nyesel udah putus sama—”
“Ssst! dengerin gue dulu, Yuma, dengerin gue, jangan potong.”
Yuma yang disela langsung kicep, ditambah tatapan menuntut dari Taki, Yuma diam.
“Gue gak membela diri, karena disaat seperti ini gue pasti akan selalu salah di mata lo, jadi gue lebih milih untuk selesaiin satu-satu.”
“Gue sama Niki gak balikan.”
Yuma langsung sewot, “tapi kemarin—”
“Makanya kalau nonton itu sampai tuntas, Meng.” Kata Taki menegur.
Yuma berdecak sebal, “tapi lo menikmati ciuman itu, ngaku!”
“Mau gue bilang nggak juga nanti lo bakal kukuh kalau gue iya, jadi gimana maunya lo aja, Yuma.” Kata Taki, pasrah, tapi memang ada benarnya juga.
“Mau lo apa?”
“Gue udah jelasin, gak ada yang balikan, gak ada ciuman yang gue nikmati, kecuali cium ‘lo.”
“Nonsense.”
Taki yang denger itu jadi kesal sekali, asli.
“Gue gak mau putus, itu mau gue.” Kata Taki.
“Bajingan,” lirih Yuma, jantungnya sudah ribut sejak tadi.
Yuma belum tau apa semua ini cukup untuk kembali percaya atau sebetulnya Yuma memang tidak pernah sempat untuk menendang Taki jauh dari hatinya karena hanya marah, hanya kesal, hanya emosi dan gegabah.
Yuma mau Taki.
Masih, dan selalu.
“Pulang sana.” Malah ngusir.
“Gak, sebelum kita baik-baik aja.”
“Jadi, kalau lo mau gue pulang, sekarang kasih tau gue apa yang lo mau, gue kabulin, begitu kita oke, baru gue pulang.” Ujar Taki dengan tekad kuat.
Yuma dengar, diam, mengulum bibir, malu mau bicara, masih emosi, kesal, ingin pukul tapi malas, tidak anggunly.
“Gue mau semua orang, tau kalau kita Jadian, kita Pacaran.” Pintanya mutlak.
“Ok.” Jawab Taki, santai.
“Gue mau, Lo jaga tingkah lo sama siapapun itu, terutama sama Niki, gue tau ya lo itu buaya cap kaki kuda, gesit banget! gue gak mau lo tebar pesona apalagi sama kakel-kakel, gue benci liatnya, mata gue iritasi, lo tau? mau gue tonjok ‘lo tapi terlalu berantakan banget nanti rules hidup gue yang manis dan lucu!”
Taki tergelak tanpa suara, “iya, si paling manis dan lucu, iya, laksanakan, tapi kalau khilaf itu diluar rencana ya,” katanya.
“Gue pukul beneran kalau iya.” Balas Yuma.
Love Language-nya Physical Attack.
Taki berpindah untuk duduk di sebelah Yuma.
Minimal sudah jinak, sudah senyum walau ditahan, sudah merona walau samar, sudah marah-marah dan mengomel, setidaknya ini lebih baik daripada suasana dingin mereka tadi.
“Sekarang, apa?”
“Ciumanlah! Apalagi?”
bugh!
“Akh!” Taki meringis saat kepalan tangan Yuma menonjok perutnya.
Pandangannya jatuh pada wajah geram Yuma.
“Makan tuh ciuman tangan gue!”
“Sekali lagi Kita ada di posisi yang sama, kita gak akan bisa Balik lagi kayak gini.” Kata Yuma memperingati Taki.
Ceritanya berniat mengancam, namun Taki tahu bahwa Yuma hanya begitu menginginkan ceritanya menjadi sebuah buku dengan begitu banyak lampiran dimana Taki dan Yuma menjadi pemeran utamanya.
cup!
Taki memiringkan wajahnya, menjatuhkan sebuah kecupan di bibir Yuma dan tanpa menjauhkan wajahnya, Taki berbisik di depan bibir Yuma yang empunya sedang sibuk nge-blank.
“Yuma.”
“Ha?”
“The moon is beautiful, isn’t it?”