Take you home.
Jay gak mendapat balasan dari ucapan terimakasihnya. Entah kenapa hatinya berfirasat lain, segala kecamuk yang membelenggu pikirannya jadi lebih mudah membuat Jay memikirkan hal-hal yang buruk.
Kakinya diam terjulur melewati pinggiran brankar. Rumah Sakit Bersalin milik kenalan Sunghoon ini harus dia tinggalkan, berada disini saja rasanya penuh resah, entah gimana kalau sudah di luar nantinya.
Jay yakin akan ada lebih banyak ancaman lagi dari Heeseung untuknya.
“Mungkin… ini karma dari apa yang gue lakukan selama ini?”
“Rasa takut akan kehilangan dan kematian itu rasanya bisa bunuh gue pelan-pelan.”
Satu tangan Jay bertengger di bahunya, meremas lemah bagian itu, kepalanya menunduk dan hela nafas lesu terlepas kemudian.
“Semuanya berat banget.”
Ceklek…
“Jay.”
Pintu terbuka disusul suara Jake, bersama Sunghoon di sisinya.
“Park Jay.”
Dan Heeseung di belakang mereka.
Senyumnya terbit kala mata mereka bertemu tatap.
Sesak menyapa rongga dada Jay, tangannya terkulai lemas ke sisi tubuh. Jake menatap sesal sementara Sunghoon menunduk gak menatap Jay.
Heeseung melangkah melewati mereka, mendekati Jay yang bergeming kaku, mata kucing dengan binar resah itu bergerak rusuh, seperti sedang menganalisa setiap pergerakan Heeseung.
Sampai Pria itu berdiri tepat di hadapannya.
“Boss…” lirih Jay lemah.
Telapak tangannya gemetar dan rasa dingin membekukan menjalar hingga ujung kaki. Cepat matanya terasa panas dan basah.
“Apa kabar?” ujar Heeseung dengan tenang.
Tangannya terulur meraih dagu Jay.
“Kenapa ketakutan?”
“Gue gak akan ngapa-ngapain lo kok.”
Sentuhan tangan Heeseung merengkuh satu sisi wajah Jay, menghapus air mata di pipinya.
“Gue cuma mau jemput dan bawa lo pulang.”
“Gu-gue bisa sendiri.” Balas Jay seraya menunduk. Menghalau tatapannya dari sepasang jelaga Heeseung yang membuatnya takut.
“Apartemen — ”
“Tempat itu kebakaran.” Suara Sunghoon menyela.
Tatapan Jay berubah nanar, Jake di sebelah Sunghoon pun kaget tanda dia gak tau apapun perihal berita itu.
Heeseung terkekeh dan menjentikan jarinya.
“Good job, Sunghoon. Habis ini lo dapet reward dari gue langsung!” kata Heeseung.
Lalu kembali pada Jay, mengabaikan Sunghoon yang benturkan kepalan tangannya ke dinding tepat di depan mata Jake yang terbengong, bingung.
“Jadi, Jay, secara teknis sekarang lo gak punya rumah untuk pulang.”
Kedua tangan Heeseung mendarat di sisi kanan dan kiri tubuh Jay. Wajah Pria itu mendekat, gak lagi biarkan Jay menatap senyumnya, berganti dengan bisikan-bisikan yang membuat Jay gak berkutik.
“Jadi inget masa lalu ‘kan, Jay?”
“Kehilangan segalanya dan jadi sebatangkara, jadi sampah di jalanan luas dan penuh dengan jiwa-jiwa yang buas demi uang, demi kesenangan.”
Grab!
“B-boss…”
Tangan Jay menahan bahu Heeseung, hendak mendorongnya supaya berhenti menanamkan kenangan buruk itu tepat di telinganya.
Dua detik waktu Heeseung menatap tajam sebelum mundur dan menatap wajah Jay.
“Lo itu milik gue, Jay.”
“Selamanya, akan jadi milik gue.”
Dan tegakkan tubuh, gak peduli seberapa tertekan raut wajah Jay dibuatnya, Heeseung ulurkan tangan bak seorang pangeran menawarkan dansa kepada tuan putri.
“Ayo pulang.”
“Mulai sekarang, lo cuma punya gue sebagai rumah untuk lo tinggal.”
‘Rumah rasa neraka maksudnya?’ batin Jay dengan segala kepasrahan, melihat Jake dan Sunghoon yang gak bisa apa-apa melawan Heeseung.
Jay gak bisa menyalahkan siapapun, hidupnya benar-benar jadi semakin menyedihkan.
[ to be continued ]
demonycal property.