suatu saat, di hari lainnya. 🔞
Ayah dan ibu pergi ke kampung buat ketemu nenek dan kakek sekaligus buat dateng ke acara keluarga dekat, Hanan dan Juwima gak ikut. Seperti biasa, Juwima menghabiskan liburnya untuk istirahat dan Hanan emang gak suka aja diajak ketemu keluarga besar. Siang itu, Hanan pamit ke kakaknya, “gue mau nongkrong, Kak, nanti pulangnya mau dibawain apa gitu gak?” dari ambang pintu kamar Juwima.
Empunya menoleh, terus nutupin layar laptopnya dari Hanan, bikin adiknya narik satu alis, heran tapi berusaha cuek, “apa aja, Nan, yang penting kamu yang beliin,” kata Juwi, ramah seperti biasa.
Hanan ngeliatin kakaknya untuk sejenak sebelum berlalu dan melambai dan bener-bener pergi setelahnya.
“Ah! sial, gue lupa bawa dompet!” ucap Hanan tepok jidat, terus muter arah motor balik ke rumah buat ambil dompetnya.
Motor dia parkir di depan rumah, terus lari masuk dan —
“Ahh- ahh- ahh! eung- eumhh!”
“Ouhh… iyeahh, ituhh… itu enak banget, eungh!”
Seakan disamber petir, Hanan langsung puter tubuhnya dan lari sekencang-kencangnya meninggalkan rumah, langsung tancap gas ngebut sambil benerin nafas yang berantakan. Kedua kali, dan Hanan gak bisa ngerti kenapa lagi-lagi dirinya yang harus ngeliat Juwima sedang bermasturbasi ria dengan mainan seks kesayangannya itu!?
Begitu sampai tongkrongan, Hanan langsung lari ke toilet umum dan basuh wajahnya yang merah, semua kata tersangkut di tenggorokan, kepala Hanan kacau dan berantakan, tatapannya khas orang tersiksa, dan Hanan keras lagi, di keadaan seperti ini, dia cuma bisa mengumpat dan memaki diri sendiri yang gak bisa lebih kuat untuk mampu mengendalikan diri.
“Dia kakak lo! Hanan, dia kakak lo! karena itu — karena itu dia gak milih lo! dan gak mungkin, gak akan pernah, lo… selalu jadi adik kecil buat dia, jadi cepet sadar! sadar sama posisi lo, Hanan.”
Dan berharap dengan ribuan kali sebut mantra itu, Hanan akan tetap teguh menahan segala hasrat yang menggila di dalam dirinya, terhadap Juwima, kakak kadungnya.
— to be continued.
Hinandra’s property.