Hinandra
5 min readNov 30, 2023

now, let me in.

demi apapun jay rasa dia bakal depresi deh habis ini (lebay). habisnya gimana?! jay gak bisa berhenti inget semua yang dengan bodohnya dia lakukan sama lee heeseung and even more setiap kali mereka berada di radius yang cukup dekat, heeseung pasti selalu memerangkap jay dengan tatapan lekat yang demi apapun, jay takut sampai dia ngungsi selama dua hari ke kamar sungjake berdalih di kamarnya ada setan padahal setannya ada di kepala dia sendiri.

tapi masa bodo kalau heeseung menganggapnya pengecut karena selalu menolak saat bertatap mata, selalu buang muka kalau heeseung ngeliat ke dia, selalu kabur duluan sebelum heeseung berhasil mendekatinya dan what the hell!

“ih ngapain dia masuk bus ini?!”

jay meringkuk nemplok di jendela bus ketika segerombolan orang datang dipimpin oleh heeseung, dan sialannya lagi —

“eh, hoon! sunghoon kenapa malah masuk bus itu woiy! anjing ini gimana masa gue sendiri, what the fuck, dia kesini lagi, bangsat, gue harus gimaan ya ampun demi apa — ”

“hey, jay.”

“AAAA HEESEUNG!!”

bukan cuma heeseung yang kaget diteriakin sama jay tapi semua orang yang ada disitu bahkan kenek bus yang ada di luar aja ikut noleh liat salah satu penumpangnya tantrum.

“ke-kenapa, jay?”

lah heeseungnya bingung, sirkelnya pada duduk sekitar itu pun pada bingung, semua orang sekelas jay pada pindah ke bus sebelah yang tadi dimasuki sunghoon.

“ahh… ini gue salah bus ya?! pantes, hehehehee… permisi, lee heeseung, saya harus — ”

“kamu nggak salah bus, jay.”

jay udah siap minggat, kepalanya nunduk terus karena malu buat natap heeseung lagi, anjing nervous banget sampai rasanya badan jay gemetar, langit bumi bersaksi, jay mau mati.

“tap… tapi—”

“penumpang tolong duduk yang rapi ya, bus akan berangkat dalam tiga, dua, satu….”

glek!

kenek bus yang bicara kaya pramugara itu seolah ngetawain nasib jay yang jantungnya berasa merosot dan lompat-lompat di atas rahimnya, begitu juga dengan suka cita sirkel heeseung yang lagi bercanda-canda.

GAK MENGHARGAI KERUNGKADAN JAY BANGET YA KAN?!

jay duduk dengan tatapan kosong, heeseung pun menoleh lalu memandangi jay tanpa henti, bahkan kalau bisa gak kedip, heeseung gak akan kedip.

“kamu kenapa, jay?”

“kamu belum sarapan ya?”

“atau kamu sakit?”

“wajahmu merah, jay, kamu demam ya?”

WHAT THE HELL???

kenapa heeseung starboy dingin ngalahin himalaya ini jadi selembut sutra dan teduh seteduh embun pagi begini ya jay makin gak tau harus gimana tolong siapapun cokot jay sekarang juga!

“jay—”

“salting itu, seung! gitu doang gak paham!” celetuk temen heeseung bikin jay ingin meledak.

kok tau sih jay salting mampus sekarang?

“eheheh, kamu lucu banget kalau lagi salting.”

lahhhhhh!??!

tatapan jay jadi melas banget, mengingatkan heeseung sama moment panas mereka tempo hari dan sekarang heeseung menelan ludah berat ketika menatap jay.

“kamu marah ya sama saya?”

“jay…” tiba-tiba raut wajah heeseung jadi sendu, tiba-tiba dia jadi sedih dan jay kaget, “kamu menyesal ya, untuk apa yang kita—”

“enggak!” reaksi cepat jay.

heeseung sampai mundurin wajahnya, bukan takut kesembur tapi jay kayak kucing mau nyaplok tikus, rawrr! gitu.

“terus kamu kenapa?”

“jay… jangan diemin saya…”

ini kenapa sih heeseung yang kaku dan seram jadi mlehoy gini, jay takut.

“jay — ”

“kamu yang kenapa lee heeseung!? kenapa kaya gini sih saya jadi bingung!”

lah, galakan dia.

“saya juga bingung…. jay….”

semua aja bingung.

kedua tangan jay bertaut di pangkuan, “kamu jadi ngga serem lagi,” katanya.

“kamu mau saya jadi seram ya?”

“enggak, jangan!”

lagi-lagi jay bikin atensi orang-orang musat ke dia dan langsung menyusut banget rasanya, kalau bisa dia sembunyi di kantong muntah deh ini.

“kamu ngapain disini sih…?” lirih jay ngumpetin dirinya di tudung hoodie.

“kenapa? saya mau ketemu kamu.”

KENAPA JUJUR BANGET SIH?!!

jay meringis sampai kepentok jendela terus makin meringis tapi heeseung narik kepalanya terus disandari si bahu heeseung, bukannya jay ngerasa romantis tapi malah flashback sama kakinya yang pernah bertahta di bahu tegap ini. wtf…..

“kamu takut sama saya ya?”

“ngga usah ditanya, please….”

“saya ‘kan ngga pernah apa-apain kamu… yaa… setidaknya sebelum kamu masuk kamar saya waktu itu.”

jay menjauh, dia naikin kakinya dan meringkuk di kursinya, bikin heeseung ilfeel?! enggak dong, justru heeseung pengen karungin jay, dibungkus terus bawa pulang.

“malu ya, jay?’

dari jaman kapan jay udah malu baru ditanya, konyol!

“kamu lucu banget, aduuuh….”

“dia suka sama lo, dek!” kata temen heeseung yang bikin jay mau nangis.

jenis rollercoaster kehidupan mana lagi yang melibatkan jay saat ini???

“kok kamu nggak marah sih?!” kesel jay waktu heeseung malah cengar-cengir ngeliatin dia.

“kenapa marah? harusnya saya bilang terima kasih malah, sekarang kamu jadi tau kalau saya suka kamu.”

reflek jay noleh dengan mata kucing membola, bibir menganga lucu, wajahnya merona perlahan semakin jelas menggerus kewarasan heeseung, boleh gak dia makan jay sekarang juga?

“serius?” tanya jay gak yakin.

heeseung mengangguk mantap, dia mainnya emang santai, jujur itu yang utama, tapi kejujurannya justru membantai jay sampai jantungnya kerasa dobrakin tulang rusuknya.

“lucunya…”

“boleh cium nggak jay?”

suara sirkel heeseung mulai berisik bikin dunia jay jadi makin riuh, seriuh itu juga jantung jay ketika heeseung maju buat meninggalkan sebuah ciuman di sudut bibirnya.

“kamu boleh keluar dari kamar saya, tapi kamu nggak boleh keluar dari hidup saya, jay.”

“ngerti?”

berat ludah jay tertelan, kedua tangannya megepal di depan dada dan matanya menatap heeseung penuh terpaku, gemas banget.

“jawab, ngerti nggak, cantik?”

“sa… saya…”

heeseung keburu mendorong jay dan meletakkan telapak tangannya di belakang kepala jay sehingga kepala si cantiknya heeseung itu nggak kepentok jendela sewaktu heeseung kembali menciumnya, melibatkan lumatan lembut bahkan tersenyum di sela ciuman yang membuat jay kehabisan kata-kata.

fuck, heeseung ganteng banget bajingan?!!!

“saya suka kamu jay, suka banget.”

emang boleh sesuka ini?

“kamu juga harus tanggung jawab soal ini.”

“terima kasih karena sudah masuk kamar saya hari itu, sekarang, boleh saya yang masuk ke dalam hidupmu?”

senyum heeseung terbit ketika jay hanya menatapnya dengan mata cantik itu pun mengangguk untuk lantas menarik heeseung mendekat dan menciumnya, lagi.

jay gak pernah tau kalau tingkah impulsifnya akan mengantar ia pada pintu masuk baru ke dalam hidup lee heeseung si seram yang ia takuti itu.

“kursi bus nggak nyaman ‘kan jay, mau dipangku aja nggak?”

“stop it, hissh! lee heeseung!”

dan hari-hari jay yang penuh flirting heeseung, resmi dimulai.

• selesai.

demonycal property.

No responses yet