Hinandra
5 min readApr 3, 2024

Melatih pernafasan.

Hari ini Jay datang ke rumah Heeseung. Beliau tinggal sama Dua sahabatnya yang merantau, waktu Jay kesana mereka ketemu tapi langsung pamit, baru Jay seneng gak berduaan doang sama Heeseung, langsung kacau lagi karena akhirnya Jay cuma sama sang Pelatih doang, berduaan.

“Kita latihan, belajar, fokus, pikirin tentang tujuanmu ada di bidang ini, jangan mikirin apapun selain itu, ngerti?”

Jay mengangguk di depan Heeseung, sebenarnya dia ‘kan memang sudah mengerti seluk beluk Renang, cuma entah kenapa berhadapan sama Heeseung rasanya kaya baru pertama kali melakukan hal ini, nervousnya demi Tuhan.

BYURR!

“HAH!”

Jay terdorong nyebur ke kolam renang, seluruh tubuhnya basah kuyup bahkan jantungnya pun berdebar ribut banget karena kaget, Jay memandang kesal pada Heeseung yang melipat kedua lengannya di dada dan melihat Jay di dalam kolam dengan wajah merah, kesal.

“Kenapa — ”

“Jangan marah, kita latihan Renang, tempatmu memang disana.”

Kesal sekali rasanya, untung Jay udah ganti baju dan gak pakai sepatu, benar memang sudah siap latihan, tapi gak termasuk didorong ya, sialan ni pelatih! batin Jay dalam hati.

Anak itu berenang ke pinggir, menghampiri Heeseung yang sekarang menekuk lututnya, “tahan emosi, simpan tenaga hanya untuk berenang,” katanya.

“Jangan marah, Jay.”

Sialan banget suara lembut Heeseung itu.

“Saya ngga marah…” ujar Jay dibuat selembut mungkin menyamai Heeseung.

“Bibirmu ngga marah, tapi matamu seperti siap penggal kepala saya.”

Seringai Heeseung menambah pasokan amarah dalam hati Jay yang tiba-tiba menenggelamkan dirinya sendiri dan berteriak di dalam air.

Hal itu bikin Heeseung terkekeh.

Tangannya terulur dan sampai di pucuk kepala Jay lalu —

“Sa — akkk!!”

Menekan kepala Jay dan membuat anak itu kembali tenggelam.

Beberapa detik kemudian, Heeseung melepas tangannya, dan Jay muncul dengan wajah super merah dan raut tersungut yang sangat jelas.

“KAKAK MAU BUNUH SAYA YA?!”

“Jangan marah.”

“Tapi kakak — ”

“Jangan. Marah.”

Jay gak menyahut, tapi matanya bicara, semua pisuhan seolah bisa dia suarakan lewat tatapan mata elangnya yang garang, Heeseung menatapnya dengan tenang, seperti tidak habis melakukan dosa. Sialan!

“Ada saatnya kita buru-buru, cuma ada beberapa detik untuk ambil nafas, kamu harus belajar untuk itu.”

“Ya tapi nggak dengan — ”

“Katanya kamu mau saya jadi Pelatihmu? apa susahnya nurut saya saya?”

Jay munduran, menjauh dari Heeseung yang masuk ke dalam kolam, “kenapa menjauh?” tanya yang lebih tua.

“Saya nggak mau di — ”

“Sini.”

Jay menggeleng ribut, gak mau dilatih dengan barbar lagi seperti tadi, bisa cepet mati Jay.

“Saya baru tau ada latihan kaya gitu.”

“Saya yakin Kepsek bilang saya bisa melatih kamu dengan ‘cara saya sendiri’ dan itu sudah masuk ke dalam kesepakatan ‘kita’ berdua.”

Heeseung tau raut wajah Jay super sewot dan sama sekali gak keliatan bahagia. Tapi Heeseung serius soal kata-katanya, dan semua yang akan dia lakukan demi melatih Jay.

“Kamu mau jadi Pemenang ‘kan?”

“Mana Jiwa Kesatria mu itu?”

“Aah… atau, kamu cuma pandai bermulut manis supaya bisa bikin saya terkesan dengan semangatmu yang ternyata palsu itu?”

Heeseung berbalik begitu menampilkan senyum remehnya, berniat keluar dari kolam.

“Saya nggak bohong!” seru Jay dengan kedua tangan mengepal di sisi tubuhnya.

Heeseung berhenti bergerak.

Jay menutup mata dan mulai ngamuk, “saya serius soal ingin jadi pemenang! saya mau medali emas! saya mau dikenang sebagai sesuatu yang penting untuk sekolah setelah lulus nanti! saya nggak membual demi membuat Kakak terkesan! saya serius mau latihan demi meraih tujuan saya itu! saya…,” Jay terengah saat menjeda seruannya.

Heeseung berbalik dan kembali menatapnya.

Jay kehabisan kata-kata, tapi dia bergerak mendekati Heeseung sampai benar-benar berdiri di depan sang Senior.

“Maaf saya kaget, saya akan membiasakan diri dengan cara pelatihan Kakak, apapun…. tolong lakukan apapun, Kak, bantu saya….”

Tangan Heeseung terulur, jantung Jay berdebar keras, matanya tertutup dan tangisnya tersamarkan air kolam, walau begitu Heeseung tetap sadar bahwa anak itu menangis, lagi.

Tangannya bertengger di pucuk kepala Jay.

“Jay.”

“Ha — eump!!”

Sebuah panggilan membuat Jay membuka mata dan disusul dengan tarikan dari tangan Heeseung. Bukan, kepala Jay masih di luar kolam, tidak lagi ditekan Heeseung masuk ke dalam air tapi HEESEUNG MENCIUMNYA.

LEE. FUCKING. HEESEUNG. MENCIUM. JAY.

Dunia Jay berhenti seketika, matanya membola, barangkali Heeseung tau tubuhnya jadi lemas, cowok itu memutar posisinya, menyandarkan Jay di dinding kolam dan menekan tengkuk Jay dengan telapak tangannya.

Lumatan demi lumatan diterima Jay tanpa ada keberanian untuk membalas sebab terlalu bingung dengan situasi bodoh yang sedang melibatkan dirinya dengan sang Pelatih.

“Eumgh — eumhhh!!”

Dadanya yang sesak menyadarkan Jay dari lamunan, tangannya reflek menepuk bahu Heeseung, tapi cowok itu masih terus melahap bibirnya, walau dia membuka mata, walau dia tau Jay mulai kehabisan udara, walau Jay yakin Heeseung tau seberapa malu dan frustasi Jay saat ini, Heeseung malah meraih kedua tangan Jay dan mengunci di kedua sisi tubuhnya, menghimpit tubuh Jay sampai benar-benar menempel.

Tiba-tiba Jay ingat omongan Heeseung.

“Ada saatnya kita buru-buru, cuma ada beberapa detik untuk ambil nafas, kamu harus belajar untuk itu.”

Dan otaknya secara cepat berpikir kritis, Heeseung sudah menciumnya untuk waktu yang cukup lama dan masih bisa terus melakukannya tanpa lelah, Heeseung pasti sudah handal betul perihal mengendalikan pernafasannya.

Dan entah keberanian darimana, Jay membalas ciuman Heeseung, membalas lumatan dan pagutan yang lebih tua, untuk berhasil mengais nafas sedikit demi sedikit, walau kaku dan amatiran, Jay tetap trabas dan ketika kedua kuncian tangannya lepas, Jay mengalungkan lengannya di leher Heeseung.

Heeseung yang berhasil membuat Jay paham perihal ‘melatih pernafasan’ versi Lee Heeseung.

“Heumhh…. eumhhh…”

“Eumg — euh… Haaahhh! Haahhh!”

Akhirnya…. akhirnya Heeseung melepaskannya.

Mata Jay berkunang-kunang, lengannya masih mengalung di leher Heeseung dan dahinya bersandar di bahu sang Pelatih, mengambil banyak udara dan mengisi dadanya yang sesak.

“Haaahhh…. gila….” ujar Jay belum sadar kalau dia bicara tepat di sebelah telinga Heeseung.

Heeseung yang terkekeh tanpa suara, meletakkan kedua tangannya di dinding pinggir kolam.

“Jangan gila dulu, baru mulai.”

Kaget Jay mendengarnya, langsung reflek melepaskan diri dari Heeseung yang menatapnya dengan diimbuhi senyum manis.

Manis sekali sampai Jay mual seketika.

“Udah gak marah, sekarang jadi bisu?”

Jay mendangak dan menatap Heeseung, heran kenapa ada manusia yang sesantai ini menghadapi hidup yang banyak bercandanya!?

“Kamu harus sering melatih pernafasanmu.”

“Ya tapi nggak… harus… dengan…. cara ciuman…. juga….”

“Berarti mau dengan cara yang tadi?”

Jay reflek menggeleng.

“Okay, mulai sekarang, ciuman termasuk ke dalam pemanasan.”

“Hah?”

“Tadi bisu, sekarang tuli?”

Jay meringis dan menarik diri untuk duduk di pinggir kolam, menatap kosong pada Heeseung yang terus membuatnya tertekan, bahkan di hari pertama latihan.

“Kamu ngga mau saya puji?”

Jay mengangkat pandangannya, “puji untuk apa? saya belum ngapa-ngapain…. hiks…” jawabnya, sungguh tertekan.

Heeseung sedikit terkejut, mendekat dan membawa tubuhnya duduk di sebelah Jay yang sesenggukkan.

“Hiks… saya pikir latihannya… hiks… ngga akan seberat ini… hiks….”

“Yang tadi termasuk latihan.”

“Hasilnya lumayan.”

Jay menoleh, “pernafasan saya bagus?” tanyanya penuh harap.

Heeseung menoleh, mengangguk, tersenyum, “lumayan, dan,” katanya dijeda.

“Dan?” Jay penasaran.

“Ciumannya juga, lumayan.”

— to be continue.

No responses yet