Hinandra
8 min readJul 4, 2023

marco–ares; dialog kita lihat kemarin.

Ares menjepit pangkal hidungnya dengan telunjuk dan ibu jari tangan kiri karena tangan kanan mengapit sebat, suara geberan berbagai macam motor berisik diluar Markas dan diliriknya Nicholas dan Jake tergelak muak, tatapan mereka mulai julid sementara Juwi datang dari arah pintu masuk bersama Yuan, si bocah gingsul terkekeh nampilin taring gemasnya dan berkata;

“Lapor Kapten, Bang Komar datang membawa Pasukan tuh,” gitu, “mana rame banget, kayaknya dia bawa seluruh masyarakat Indonesia deh,” tambahnya.

“Temuin sana,” suruh Jake.

“Daripada makin dicuekin makin jadi, bisa dibakar Markas kita lama-lama,” ujar Nicholas dengan wajah sengak, nyebelin.

Gak supportive banget memang ya kawan sebangsat setobatnya itu.

TINTIN!

TINTIN! TIIIINNN!

“PANGGILAN KEPADA KAPTEN BINTANG, TOLONG KELUAR SEBELUM MARKAS INI KAMI RATAKAN DENGAN LANGIT!”

Nicholas tepuk jidat, terdengar suara Kala dengan entah Toa Masjid mana yang dia pinjam kali ini;

“Mau diratakan dengan langit,” ujar Juwi, “udahlah, Bang, keluar aja, temuin, turutin aja apa maunya Bang Komar, habis itu tinggalin dah, beres,” katanya semudah melepaskan kentut.

“Tai lah!” umpat Ares dengan sinisnya, sambil bangkit setelah meneguk tandas segelas Beer sampai bersendawa lalu berjalan keluar, membawa serta penat di pundak yang berat, yang lainnya mengekori sang Induk.

“STOP BERISIK, YANG DIAMUK WARGA NANTI GUE BUKAN KALIAN!” seru Ares setelah keluar dan berdiri di teras Markas.

Waktu Marco langsung bertatapan sama dia, cowok setahun lebih tua darinya itu narik turun kain yang menutupi setengah wajahnya, dan langsung angkat kedua tangan setara telinga, begitu saja langsung bikin pasukan demo yang mengekorinya mematikan mesin motor mereka.

“Apa mau lo? cepetan, gue gak punya waktu buat basa-basi!” kata Ares setelah Marco berdiri di hadapannya, cowok dengan rambut cepmek itu gak menjawab, melainkan mengulurkan tangan buat meraih dagu Ares, dibuatnya si Alpha Kecil menatap balas sedetik kemudian langsung sinis, pula tangan Marco pun ditepis.

“Yang…” guman Marco, lembut.

Seketika Pasukan Marco mual, mau sebiasa apapun liat Komarudin ngebucin, tetap aja mereka gak terbiasa, sumpah, jijik banget, sial.

“Gausah bacot bisa nggak? gue—argh! Udahlah, lo mau bicara apa sih, bisa cepet nggak?!” kata Ares dengan ekspresi depresot yang membuat Marco menghela napas sejenak.

“Ayo kita jalan,” kata Marco.

“Jalan kemana lagi sih, gue lagi—”

“Ayo, kita, jalan.” Tuntut Marco, suaranya kecil, mungkin cuma Ares yang bisa denger, tapi aura Enigma mana bisa dipungkiri.

“Gak usah pegang-pegang!” larang Ares dengan galaknya, waktu dia berjalan duluan dan Marco hendak genggam tangannya.

Seketika Pasukan Marco langsung pada membaur tanpa disuruh, main selonong ke Markas Bintang, gak peduli sama Kapten dan Komandan mereka yang jalan berdua, jaga jarak semeter, keep in a halal gap. Halah.

“Apalagi sih yang mau lo bicarain? Kurang jelas ‘kah, kita udah putus, Komar!” Omel Ares sepanjang jalan sore itu, tangannya tersemat apik dalam saku hoodie, sementara disebelahnya, Marco terkekeh, walau dalam hati sedih juga sih.

“Gue nggak mau bahas itu,” kata Marco.

“Terus buat apa kita bicara?” Ares menoleh, tapi Marco lagi ngeliat bangkai cicak dimakan semut di pinggir jalan yang mereka lewati.

“Buat melihat kemarin,” kata Marco, ganti dia yang noleh ke Ares, tapi si Alpha Kecil sedang memperhatikan pintu masuk menuju Rel Kereta di depan sana.

“Kemarin yang mana?” tanya Ares bernada dingin.

“Kemarin kita yang banyak,” sahut Marco.

“Yang waktu kita tawuran tapi ujungnya malah jatuh cinta.”

“Emang siapa yang bisa nahan buat nggak jatuh cinta sama ‘lo?”

“Gue rasa kalau satu alam semesta dikasih satu aja alasan buat suka sama ‘lo, mereka nggak akan ragu buat bilang iya.”

“Mau ngomong apa sih? belibet banget, ah!” kesal Ares dibalik tudung hoodie yang membantu menutup rona di wajahnya.

“Atau, waktu pertama kali kita ngobrol, setelah keluar dari rumah sakit, kelingking tangan kiri gue patah dan tangan kanan ‘lo retak, sampai sekarang masih suka nyeri kalau dipakai berat-berat, kecuali pegangan setahun nggak dilepas-lepas, gue sanggup.”

“Omong kosong,” ujar Ares, terdengar kekehan ke udara, namun senyumnya terbit, langkahnya tetap konstan, berseiring dengan Marco yang diam-diam tersenyum.

Mengingat soal kemarin yang banyak dengan Ares;

“Mana ada omong kosong, ‘kan tinggal dibuktiin?” sahut Marco.

“Gak usah modus!” kata Ares, menolak.

“Dasar ya, Omega, semua sama aja—”

“Oh, nggak!” sela Ares, “don’t you try, jangan samakan gue dengan orang lain, or whoever, gue bahkan seorang Alpha—”

“Alpha?”

“Alpha.”

Marco berhenti berjalan, tepat saat tubuh tingginya mencegat jalan Ares, menutup akses matahari senja menyentuh wajah merona si Alpha Kecil Songong.

“Sekarang masih Alpha?”

Ares udah mau ngamuk banget, tapi sialnya feromon Marco menghimpit penciumannya, menundukan sisi Alpha dalam dirinya, namun gak menuntut Ares untuk merendahkan diri.

“Kenapa putus?” tanya Marco, waktu dia rasa Ares cukup tenang, dilihat dari gurat frustasi wajah sang Sigma telah memudar.

Feromon Alpha murni dengan aroma Madu yang khas dari Ares tercium oleh Marco, membantunya berpikir lebih bijaksana.

“Kenapa tanya lagi?”

“Jelas-jelas, seluruh Dunia udah tau kalau Komandan Bulan mana mungkin cocok sama Alpha Kecil Songong yang udah matahin kelingkingnya.” Ujar Ares dengan ekspresi dicuek-cuekin, ia bawa tubuhnya naik, meraih pembatas menuju padang rumput yang digoyang angin sore, matahari meluruhkan cahaya oranye yang hangat.

“Emang seluruh dunia bilang gitu? mana rekamannya?” tanya Marco, berdiri di sebelah Ares yang merem. Nyeri hati, buset.

“Kak.” Tiba-tiba sopan, begitu membuka mata dan hamparan rumput bergoyang syahdu menyapa pandang, dan Marco gak sedetikpun memindah atensinya dari alasan kenapa kelingking kirinya bengkok seumur hidup.

“Sebenarnya gue nggak masalah kalau seluruh Dunia mau bilang gue nggak pantes untuk cowok Effortlessly Perfect kayak ‘lo,” ujar Ares dengan rasa dingin di pipi, sebab angin membuat basah di wajahnya menjadi lebih dramatis lagi, “masalahnya ada di dalam diri gue sendiri, lo tau? setiap hari, setiap malam gue berpikir, kenapa ‘lo mau pacaran sama Alpha Kecil Songong kayak gue disaat banyak banget dan mungkin siapapun juga bakal siap buat menyerahkan dirinya ke ‘lo, tapi, nyatanya lo malah macarin gue, notabene kita punya kelompok yang musuhan, bahkan sampai masuk rumah sakit bareng habis tawuran, tapi kenapa dari seribu orang yang bakal lari ke lo buat melakukan segala macam cara supaya lo ngeliat mereka, lo malah lari ke gue yang gak pernah ada bagusnya kalau di bandingin sama orang lain, entah itu Alpha atau bahkan Omega, gue nggak tau apa alasannya, gue juga malah ngijinin diri gue jatuh ke ‘lo.”

Marco diem banget, Ares kira mantannya itu ketiduran sambil berdiri, lagian anginnya sedep banget sih, saking sedepnya, Ares sampai pilek.

Padahal mah perkara baper sama Overthinking sendiri, angin yang disalahin.

“Ya itu alasannya.”

Ares dengan planga-plongo khasnya menoleh waktu Marco melepas ikatan kain dari menggantung di lehernya, terus dia lipat membentuk segitiga sama sisi, dia gunakan untuk mengusap air mata di wajah Ares, yang di usap membeku, terjerat pesona Marco yang kelewat menawan, sedih, susahlah dijelasin, Ares kepalang jatuh cinta sampai gak mau bangun tapi insecurities memaksa dirinya untuk berpikir terus hingga muak;

“Karena lo nggak tau alasan kenapa gue milih lo, bukan orang lain.”

“Katanya, cinta sejati itu, yang kita nggak akan pernah menemukan alasan kenapa bisa cinta, disaat yang sama, kita bisa aja menggambar alasan-alasan itu dengan cara yang kita mampu, misal karena mata lo cantik, gue suka, karena bibir lo manis, gue suka, karena pipi lo gembil, gue suka, karena hidung bangir ini, gue suka, karena—”

“Stop!” sela Ares dengan wajah semakin merah, degup jantungnya seakan sedang ingin mematahkan rusuk dan lompat ke pelukan Marco.

“Cinta boleh punya banyak ‘karena' tapi cinta yang sesungguhnya itu adalah cinta yang selama apapun lo mencari jawaban dari ‘kenapa' lo nggak pernah menemukannya, kenapa coba?”

“Kenapa?” tanya Ares dengan polosnya.

“Ya nggak tau, ‘kan cinta gue buat lo cinta yang nggak ada alasannya, kayak bintang di langit,” kata Marco.

“Banyak?” tanya Ares.

Marco mengangguk, seraya mengikatkan kain tadi di siku Ares, “tapi mau sebanyak apapun Bintang di Langit, cuma Ares kok Bintang yang gue simpan di saku, nggak akan gue balikin ke Langit, ‘kan punya gue.” Katanya.

Ares menggebuk bahu Marco sampai beneran kedengeran ‘Bug!’ yang cukup bikin Marco meringis.

Coba lihat Kemarin, kalau melihat Esok rasanya berat, tapi sebenarnya nggak masalah mau satu dunia ini naksir gue, ‘kan gue naksirnya cuma sama ‘lo, Res,” kata Marco, memang ya dia tau dia Attractive, Effortlessly Perfect, Enigma incaran segala Bangsa.

Bajingan Santun yang meruntuhkan Arogansi Alpha Kecil Songong bertahta Kapten Bintang, Ares.

“Aturan juga gue yang ketar-ketir, karena sama aja ‘kan, yang suka sama lo banyak, cuma lo sukanya emang sama gue doang, jadi gue percaya diri aja, ‘lo nggak akan di ambil orang, siapa juga yang berani cari mati sama gue?” Kata Marco dengan representasi dari katanya sendiri, ‘percaya diri' yang Ares selalu goyah untuk mampu melakukannya dengan sempurna seperti Marco.

“Jangan diem aja, nanti tau-tau kemasukan setan loh, udah sore ini,” ujar Marco, kurang ajar, sengaja bikin Ares langsung parno karena Kapten-kapten gini juga Ares takut sama hantu-hantuan.

“Cie, dempet-dempet, nggak mau peluk sekalian?” ditanya begini oleh Komar, Ares langsung mendengus julid.

“Bacot aja, eksekusinya mana?!” kata dia.

Marco jelas, langsung memeluk tubuh si Alpha Kecil Songong dari belakang, ngeratin rengkuhan di pinggang Ares, “jadi sekarang, udah boleh?” tanyanya, ambigu.

“Boleh apa?” tanya Ares, udah merem aja, nyandarin kepala peningnya di bahu Marco.

“Boleh reda badainya?”

Ares biarin suara Kereta lewat dulu sambil meredakan debar berisik jantungnya, lagi-lagi cuma kalimat sederhana dari Marco untuk merangkai kembali hati Ares yang dia remuk redamkan sendiri;

Segabut itu memang, ya mau gimana lagi, namanya perasaan, sulit dikendalikan, namanya pikiran, sulit diabaikan.

“Kata Mbak, hancur lebih mudah dari bertahan.”

“Mbak siapa?”

“Mbak Nadin.”

“Terus?”

“Jangan hancur dulu, sesulit apapun kita usahakan bertahan itu.”

Ya, gimana ya?

Kalau modelan Marco ada disetiap Kabupaten pasti persentase kaum depresot oleh kelakuan Bajingan akan turun.

Tapi, nggak. Modelan Marco sebaiknya memang hanya untuk Ares seorang. Yang mau, minta sama Tuhan, yang ini, buat Ares satu-satunya.

“Kak.”

“Iya?”

“Mau muntah.”

Tiba-tiba perut Ares dipukpuk Marco, “begini ini kalau Bayi begaya minum segala,” ocehnya.

“Siapa coba yang bikin gue stress?” balas si Alpha Kecil Songong, mana mau kalah.

“Yang overthinking ‘kan lo, kok seakan-akan jadi gue yang salah?” lah, malah diladenin.

“Ya emangnya gue yang salah? emangnya kalau lo cakep banget sampai seluruh masyarakat dunia bejejer mau sama lo, itu gue yang salah?” nahloh, galak.

“Lebay.” Ujar Marco, seraya meraih tangan kanan Ares, yang gak bisa genggam tangannya sendiri dengan erat oleh karena Marco retakin, dulu, waktu musuhan.

“Mau pulang nggak?” tanyannya, Ares ngebiarin tangannya dibawa masuk kedalam saku jaket Marco, di genggam erat-erat, seperti Ares adalah balon yang tinggal empat.

“Mau.”

“Mau kemana?”

“Pulang?”

“Kan udah?”

Ares noleh, memberikan tatapan bingung ke Marco yang juga sedang menatapnya.

“Kan kita Rumah untuk satu sama lain.” Kata Marco.

“Disini,” kata Marco, mengangkat genggaman erat tangan mereka ke hadapan Ares, “Rumah Kita.” Katanya.

Ares langsung mau gumoh, cringe banget, bahkan Marco sendiri pun pasang gestur muntah setelah mengatakan kalimat dangdut itu. Dasar pasangan Gila.

“Suka kenapa sih?!” sebel Ares karena geli-geli ngeri dibuat oleh Mode Words of Affirmation Marco.

“Gak suka kenapa-napa sih, sukanya Ares doang ini,” ujar Marco, udah deket sama Markas Bintang, eh disambut oleh cie-cie asu dari segenap masyarakat Markas Bintang dan Bulan yang bersatu membentuk Aliansi Ngecengin Komandan dan Kapten yang gak jadi putus.

“Emang boleh segandengan ini, Co?” tanya Kala dengan siulan dari arah samping, Jordan terkekeh sambil mengkode Marco dengan tangan kiri membentuk lingkaran dan telunjuk kanan nyoblos lingkaran itu, yaudah, YTTA.

Plak!

Jordan yang cabul, Marco yang dipukul.

Tapi biar kata Ares love language-nya Physical Attack dan Misuh of Affirmation pun Marco tetap bersedia membucin si Alpha Kecil Songong sampai mampus;

Jangan tanya kenapa, soalnya ‘kan Cinta-nya tanpa karena, intinya kalau itu Ares, Marco akan usahakan yang terbaik untuk Esok masih bersama dan Kemarin yang baik-baik saja;

—Tamat.

©pandu

No responses yet