let me in era.

Hinandra
4 min readMay 15, 2023

--

nyatanya aydan peduli banget. dia khawatir si nathan kepleset pas jalan di bawah guyuran deras hujan diluar yang ngingetin dia sama kecelakaan-kecelakaan serem di film, dan aydan udah seribu lima belas kali mondar-mandir di ruang tamu sambil pegang hp.

berharap nathan cuma sok iya aja bilang mau datang, tapi satu sisi lainnya, aydan berharap nathan datang, dan itu artinya nathan akan sampai dalam keadaan seperti pohon dan kebun alias basah semua.

aydan mulai ovt dan pikirannya mulai bikin skenario-skenario jelek, di telepon rumah sakit dan bilang kalau nathan nyebur got atau kecemplung galian di tengah jalan dan aydan panik sampai jatuhin hpnya dengan dramatis lalu lari keluar rumah nembus hujan dengan tangis yang bercampur sama air mata dan—wait, what's this?

kenapa aydan sampai ngebayangin drama ala korea angst gini deh?

"stupid!" syukur, mandiri, ngatain diri sendiri.

"but, nathan lebih goblok lagi!" tambahnya seraya letakin hpnya di atas meja dan berlari ke teras dan ngehela-hela napas jengah.

"harusnya udah sampai kalau emang dia kesini tapi udah dua puluh menit dah si bangsat itu gak nongol juga bikin khawatir aja emang kepala batu candi Borobudur!"

demikian omel aydan di teras yang dingin sedingin sikapnya belakangan ke nathan yang terus coba buat bicara dan lebih dekat sama dia.

tiba-tiba aydan merasa kalau jantungnya di cokot dan di remas kuat, sesak dan nyeri, ngilu-ngilu gak sedap, aydan mulai merasa kalau dia keterlaluan sama nathan dengan sikap bodohnya, aydan kekanakan karena trust issue-nya dan insecure yang cuma ada di dalam pikirannya sendiri.

"hiks..." nahkan.

drakor beneran ini mah.

"mama..." lirih aydan seraya mundur buat duduk di kursi sambil gosok pipinya dengan tangan yang dingin.

bibirnya bergetar, dalam hati ngamuk banget karena melehoy begini karena merasa bersalah sama nathan tapi matanya gak bisa dikendalikan oleh logikanya, perasaan telah ambil alih hampir seluruh indera aydan.

"nathan kok lama banget sih...?"

"ka-kalau beneran kenapa-napa gimana?"

mata aydan udah basah natap pagar yang gak sempat dia kunci karena keburu turun hujan, dan sekarang, karena nathan gak kunjung datang, hati aydan ikutan penghujan.

tangan aydan sengaja dia tenggelemin dalam lengan hoodie, karena dingin, bertaut resah di atas pangkuan, kepalanya tertunduk sambil digempur perasaan cemas.

"nathan..." lirihnya.

tintin!

"nathan?!"

sigap aydan langsung berdiri. tapi waktu mau lari ke gerbang, nathan teriak, "JANGAN KESINI, HUJAN!" gitu.

aydan malah ngakak sambil nangis, liatin nathan buka pagar dan masukin motornya, aydan nungguin dengan kedua tangan masih bertaut kini di depan dada, ucap syukur dalam derasnya hujan, nathan datang.

nathan mendekat, waktu liat aydan, nathan basah kuyup, "stop! mau apa lo?" tanyanya ke aydan yang udah mau jinjit dan lompat buat meluk nathan.

"gue basah, jangan mendekat," kata nathan, aydan malah manyun.

wajah nathan yang udah pucat kayak pempayer itu semakin pucat karena pasti kedinginan, "ma-masuk, ganti baju dan basuh rambut, ah, atau mandi sekalian deh, jangan sampai—"

"dengerin gue dulu." sela nathan.

di teras dengan lantai merah yang lembab itu kemudian aydan mundur, merasa tatapan nathan beda banget dari biasanya.

"ja-jangan liat gue kayak gitu!" pekiknya.

nathan ngehela napas dan nunduk, jujur, dia mulai pilek.

tapi apa sih yang kaga demi ayang aydan?

"ganti baju dulu, lo—"

"gue serius aydan," kata nathan, beneran merealisikan makna kalimatnya.

"serius apa...?" lirih aydan, sedih, salting, mau nangis gruar-gruar tapi malu. tapi nathan keliatan banget kedinginan, tangannya mengepal dan bergetar.

aydan langsung merasa jahat banget.

"serius, gue sayang sama 'lo."

"gue gak kayak apa yang lo takutin, gue bukan helmi, gue nathan dan selamanya, gue gak akan pernah jadi kayak helmi atau bajingan lain di luar sana."

"aydan gahitsa."

nathan ngeraih atensi aydan yang dengerin sambil nunduk.

"apa...?" lirih aydan, setengah gentar.

"tolong, jangan tolak gue kali ini, ay."

"nathan!" pekik aydan waktu nathan merosot dan lututnya menyentuh lantai.

seperti seorang ksatria yang tengah menghadap sang ratu.

aydan gahitsa, ratu hatinya nathan.

"nathan berdiri! jangan—"

"kalau pintu hati lo terkunci, dan kuncinya hilang, gue gak akan pernah masuk, gue yang akan simpan hati lo itu di dalam hati gue, dan itu artinya, cuma gue, aydan."

"cuma gue yang bisa memiliki satu-satunya hati lo."

tangan aydan naik buat menutupi bibirnya yang bergetar, suara derasnya hujan seakan gak mampu mengalahkan keteguhan setiap kata yang nathan katakan.

"nath—"

"let me in, aydan."

bibir nathan bergetar karena menggigil, tubuh yang dibalut pakaian basah itu kena angin hujan yang dingin dan suhu yang membekukan, bibir nathan bahkan mulai membiru.

"nath, ayo kita—"

"i can be the one for you, for good."

aydan terdiam, menatap nathan tepat di mata yang memancarkan betapa kukuh niat hatinya sampai pada lumbung rasa milik aydan, menyalakan lentera asmaraloka baru dalam redupnya ruang dalam hati yang aydan sebut sudah mati.

"i wanna be yours." kata nathan.

"i wanna make you mine, aydan gahitsa."

waktu seakan berhenti berderap di sekitar mereka, saat langkah aydan mengikis jarak dan merunduk untuk mendaratkan sebuah ciuman di bibir nathan yang berusaha begitu keras melawan suhu dingin yang membuatnya menggigil.

sejenak lamat-lamat nathan hayati bagaimana hangat belah bibir aydan menjamah bibirnya yang bergetar dan kedinginan, kemudian aydan melepas tautan itu, menatap nathan dari jarak yang sangat dekat, dengan wajah yang bersemu dalam pelukan angin hujan yang dingin.

"i do."

"i am yours, nathan abinaya."

—to be continue.

--

--

No responses yet