‘kutukan Suoh’ 🔞
“Gue bisa denger suara hati orang lewat sentuhan.”
Hael pasang wajah serius, untuk sejenak sampai dia jentikin jari, “ternyata bener, ada yang salah sama kepala lo,” katanya.
Suoh pun mendengus, terus nangkep telapak tangan Hael, “coba ngomong dalam hati,” kata dia, tatapan nya serius banget.
‘Hari sabtu nanti gue mau ajak Jeremy jalan.’
“Hari sabtu nanti gue mau ajak Jeremy jalan.”
“EH?!” Hael pun terkejut.
Lalu malah dia yang pegang erat tangan Suoh.
‘Pagi tadi ada tamu Jepang checkout, dada nya gede banget, bikin pengen remes-remes.’
Ekspresi Suoh berubah jadi sangsi, kesel sendiri denger suara hati Hael yang cabul itu, tapi demi bukti, dia tetep sambatin isi hati kakak sepupunya itu, “pagi tadi ada tamu Jepang checkout, dada nya gede banget, bikin pengen remes-remes.”
“SEREM!!” seru Hael pas ngehempas tangan Suoh yang langsung ngehela nafas jengah.
“Kan?! udah dibilangin, gue sendiri aja ngeri!” katanya.
“Kenapa bisa begitu, Suoh?!” tanya Hael, shock berat.
“Bangun pagi tadi biasa aja, terus pas pergi ke supermarket gak sengaja tangan gue sama mbak kasir bersentuhan dan gue bisa denger suara hatinya,” ungkap Suoh, “dia bilang, ‘mas ini ganteng,’” imbuhnya.
“Terus, lo nya gimana?”
Suoh buang muka karena malu, wajahnya merona, “gue langsung kabur, soalnya kaget,” katanya.
Hael tepok jidat, “dasar cupu!” katanya.
“Mau gimana lagi, gue ini cowok ganteng tapi pemalu!” ujar Suoh.
“Tck! karena itu sampe sekarang pun lo masih perjaka, gak pernah berani deketin orang, padahal banyak banget yang naksir sama lo, tapi ‘lo nya yang terlalu cupu buat milih salah satu, sia-sia muka ganteng, badan bagus, tapi gak lo pake dengan baik!”
Bahu lebar Suoh langsung lesu, gak membalas apapun, soalnya omongan Hael emang bener.
Toktoktok!
“Hallo, hallo.”
Keduanya menoleh, pintu meeting room diketuk, muka Suoh langsung ngeri, Jace berdiri di ambang pintu.
“Ngapain kalian berduaan disini?”
“Ini bukan departemen mu, Pak Hael.”
“Dan kamu, Suoh, mana laporan yang saya minta?”
“Semuanya masih belum ada di meja saya.”
Hael dan Suoh langsung berdiri kaku, “a… anu…” Hael garuk tengkuk yang gak gatel, “saya harus kembali, permisi,” katanya, terus kabur setelah kedip satu mata ke Suoh, yang Suoh nya gak paham apa artinya tapi yang jelas pengen kepret Hael banget rasanya.
“Anu…”
“Stop anu-anu! mana laporan mu?”
Jace masuk, menutup pintu, lalu mendekati Suoh yang degdeg ser, nervous dan cemas, intimidasi Jace itu luar biasa, bikin asam lambung naik.
“Sa- saya kesulitan di beberapa poin, jadi tadi saya minta tolong sama Pak Hael.”
“Kenapa minta tolong sama orang dari departemen lain? itu ‘kan tugas dari saya, kenapa kamu nggak tanya saya aja?”
Suoh gak berani menatap mata Jace, jadi setiap kali mereka bicara itu, Suoh selalu menatap sepatu Jace atau kalau lagi di dalam rapat, Suoh akan menatap bahu Jace, karena untungnya Suoh lebih tinggi dari seniornya itu.
“Malah diem!” tegur Jace, galak.
Suoh tersentak, “maaf,” katanya, “a- akan segera saya kerjakan!” imbuhnya buru-buru.
“Ambil kerjaan mu dan bawa kesini, kita kerjakan sama-sama!”
Suoh tertegun waktu denger itu, tangannya gemetar pegang gagang pintu, terus narik nafas dan keluar, ambil laptop dan berkas yang dibutuhkan, kembali lagi ke meeting room dimana Jace ada disana.
“Kenapa jauh banget duduknya? kalau begini, mana bisa saya pantau pekerjaan mu!?”
Suoh itu pria yang kikuk, orang yang gak pandai bersosialisasi, tapi milih pekerjaan yang mengharuskan dirinya berdiskusi dan terlibat dalam tim, dapet senior modelan Jace yang super stoic, to the point dan realistis, mental Suoh udah sering terbantai selama kerja bareng Jace, seperti saat ini, Suoh sampai lupa soal masalah yang dia bahas sama Hael tadi.
Duduk berseberangan berbatas meja meeting sebesar ini, ganggu memang, bodoh Suoh.
“Maaf.”
Kata itu selalu keluar dari mulut Suoh, hampir setiap kali dia bertatap muka dengan Jace. Ya, walaupun gak secara harfiah menatap muka sang senior sih, Suoh terlalu merasa rendah untuk melakukan itu.
Jace menghela nafas jengah waktu Suoh duduk di sampingnya, dibatasi satu kursi, “kamu pikir dengan empat mata ini saya bisa liat kerjaan kamu dari jarak segini?” tanya Jace, kesel.
Gemetar tangan Suoh megang pinggiran laptopnya, belum dia memutuskan untuk mendekat, Jace sudah menyingkirkan kursi di antara mereka dan mendekat pada Suoh, saking dekatnya sampai bahu mereka bersentuhan, Suoh pun terdiam kaku.
Sebab diposisi itu, Suoh bisa dengar jelas mendengar isi hati Jace.
‘Haahhh… ternyata memang benar Suoh benci sama saya, padahal saya sudah berusaha untuk jadi senior yang ramah. Tapi, tanpa sadar saya terus mengulang sikap yang sama karena saya merasa senang saat Suoh terlihat segan dan takut sama saya.’
‘Padahal sekali-kali, saya ingin melihat Suoh marah. Dengan sikap saya selama ini, bukan nggak mungkin Suoh merasa jengah, ‘kan? uhmm… ternyata memang benar, saya jadi penasaran banget sama sosok Suoh yang sedang kesal, orang seperti dia, apa bisa memaki-maki? rasanya… nggak mungkin… tapi disela ketidakmungkinan itu, saya jadi, lebih antusias untuk melihat mode marahnya Suoh… itu pasti, seksi sekali!’
Dan Suoh gak pernah merasa kaget sekaget ini selama hidup. Dari semua isi hati orang yang udah Suoh dengar hari ini, cuma milik Jace yang membuatnya merasa segila ini, apa artinya semua itu? apa yang dipikirkan Jace tentangnya? kenapa, itu terdengar ‘nakal’?
“Suoh? kamu denger nggak?! Suoh… Suoh? … Su-oh!!”
“Hah! Iya!? maaf — ”
Suoh tersentak sebab Jace membentaknya keluar dari lamunan, tapi sejurus kemudian, Jace menarik dasi Suoh dan membuatnya mendekat, wajah mereka hampir bertubrukan kalau aja Suoh gak nge-rem tubuhnya.
“Apa yang kamu pikirkan sampai-sampai kamu berani cuekin saya, Suoh?”
Deg!
Mata elang milik Jace menusuk tepat jelaga Suoh yang menatap gak awas, sungguh menegangkan, jantungnya berdetak sangat kencang. Tangan Jace masih megang erat dasinya. Dipaksa menatap Jace membuat Suoh hampir hilang akal.
“Anu…”
“Se- senior…”
Tap!
Tangan Jace yang mencengkram dasi Suoh menempel ke dadanya.
‘Ahhh… Suoh… wajahnya, dekat sekali… posisi ini… waahhh… gila!’
‘Saya hampir nggak tahan… pengen cium… pengen cium… Suoooh…’
“AH! Senior, saya harus pergi ke toilet!”
Wusshhhh!!!
Suoh menepis tangan Jace dari dasinya dan segera berlari meninggalkan ruangan itu, juga Jace yang terpaku, wajahnya yang galak perlahan-lahan merona, kedua tangannya beralih tangkup pipi sendiri dan memejam erat, nafasnya memberat dan kemudian mengumpat, “fuck! Suoh lucu banget!” dengan suara kecilnya.
Sementara Suoh kehabisan kata, sampai toilet langsung masuk salah atau bilik dan merenung di sudut, meluk lutut dan merem sambil bergumam pesimis, “suara itu terus muter di kepala gue, gila! gue gak bisa! sumpah, gimana gue bakal ngejalanin hari kalau harus begini setiap hari?! Suooooh! lo bener-bener dikutuk! dasar cupu! gue benci banget sama lo, Suoh!” ujarnya, lagi dan lagi, semua yang terjadi, pasti akan jadi salahnya sendiri, karena begitulah dia hidup selama ini.
Suoh, pria kikuk yang baru aja berusia 30 tahun dan masih perjaka, kena kutukan bisa denger suara hati orang lewat sentuhan, terjun bebas ke dalam tragedi hidup yang melibatkannya dengan Jace, senior stoic namun tanpa dia sangka punya isi hati yang gila, benar-benar bencana!
— to be continued.
Hinandra’s property.