— Kehilangan juga sebuah Pilihan.
semesta menjatuhkan lee heeseung hingga hancur berkeping-keping. jay menghilang tepat saat heeseung mencarinya, malah heeseung yang ditemukan hendak membawa kabur jay, jelas dari koper yang dia siapkan di dalam mobil.
“bukan kami yang menyembunyikan jay, tapi jay yang memang nggak ingin bersamamu.” kata ayah yang semakin dalam menancapkan panah gak kasat mata mengoyak pertahanan heeseung.
jay pergi saat heeseung mengusahakan segalanya untuk kesatuan mereka.
atau sejak awal memang, heeseung benar perihal jay yang hanya mempermainkan perasaannya.
karena dicari kemanapun hingga pekan demi pekan berlalu, sampai heeseung seperti sebatangkara di rumah sendirian, lebih berantakan dari tuna wisma, yang lebih sakit adalah saat ayah dan mama biasa-biasa aja tanpa kehadiran jay, atau memang mereka sejatinya tau jay saat ini ada dimana.
maka barangkali, beginilah cara mereka menghakimi heeseung, ya?
menatap matahari dari jendela yang berdebu, rumah lebih seperti wahana rumah hantu saat ini, matahari mengintip dari tirai yang gak pernah disentuh, heeseung runtuh sampai titik terjauh.
“apa cerita kita nggak ada artinya untuk kamu, dek?”
satu purnama berlalu, jay melewatinya bersama jungwon, setiap hari dalam hampir sepenuh empat pekan dan jay mulai merasa bersalah dan bingung dengan perasaannya.
sejak awal memang jay ada rasa banget sama jungwon yang ternyata ya suka juga sama jay tapi harus ada caritra dimana jay pun terlibat drama rumit dengan abang tirinya sendiri ini, semua jadi semakin gak karuan untuk dikaji.
makin dipikir, makin gak terpikirkan, woilah.
“kamu nggak perlu membebani pikiranmu lagi dengan hal itu, toh nggak ada yang tuntut kamu untuk memutuskan apapun, sekarang kamu lagi ada dalam pelarian, kamu nggak mau ‘kan terus terjebak sama drama dengan abangmu? jadi ya, manfaatin aja waktu kamu untuk mewujudkan tujuan dari menghilangmu ini.”
jungwon selalu setulus itu, tutur katanya, bahkan cuma duduk memperhatikan jay bercerita, memberi perhatian saat jay melakukan sesuatu atau membagi isi pikirannya, bahkan jungwon menelan semua kejujuran jay perihal segala narasi alam semesta yang telah melibatkan dirinya dengan heeseung, kini turut menyeret jungwon—atau sebenarnya jungwon sudah masuk sejak awal, hanya saja baru sekarang tokoh utama memilihnya, walau kasarnya memang seperti seorang pelarian sama halnya dengan apa yang sedang jay jalani, tapi toh jungwon memang suka jay, dan jay sendiri suka duluan sama jungwon.
“selama kamu nggak sampai hamil anak abangmu, ya kamu masih bisa lari bahkan sampai ke ujung dunia demi menghindari dia.”
segelas kopi tersuguh di depan jungwon, hasil kerja tangan jay yang sudah berjalan setidaknya selama tiga pekan terakhir mereka diizinkan tinggal bersama oleh orang tua masing-masing, kira-kira kenapa bisa sesederhana itu?
“terima kasih, cantik.”
jay duduk di sisi lain, menatap tehnya setelah mengangguk menerima ucapan jungwon.
“kamu sehat ‘kan?” tanya jungwon.
“emangnya aku keliatan seperti penyakitan?”
jungwon terkekeh, menggeleng kecil, “bukan begitu maksudnya, kamu ngelakuin itu sama abangmu lebih dari dua kali dan kamu nggak hamil,” jelasnya kemudian.
“kamu mau aku hamil anaknya abang?” ujar tanya jay dengan raut setengah polos setengah gak senang.
alisnya menukik ditambah bibir manyun, membuat cekung di pipi jungwon muncul sebab lagi-lagi dia gagal menahan senyum.
“bukan begitu, jay, aku cuma sedikit kepikiran soal ini, harusnya heeseung bisa berpikir licik untuk ngebuat kamu hamil dan terikat dengan dia, ‘kan?” ujar jungwon kemudian.
jay diem, berpikir, lalu sesaat kemudian menatap jungwon dengan raut ngeri.
“villain yang jungwon…” katanya.
yang disebut cuma menggedik bahu dan senyum khas kayak psiko, tentunya bercanda aja.
“kalau aku jadi heeseung, aku mungkin lebih baik membuat kamu hamil, daripada mencetuskan ide kawin lari, atau bisa jadi memang dia terlalu buntu untuk mikirin ide lain karena terlalu cinta sama kamu.”
jay menarik napas dalam kemudian, menatap jungwon yang menunduk buat meneguk kopinya, jay tau selalu ada nyawa yang berbeda dari setiap kali jungwon menyebut cintanya heeseung untuk jay karena jungwon pun punya dan dia butuh validasi tapi kemungkinan pertama dia gengsi, atau positivenya memang jungwon gak mau memaksa jay untuk memilih.
“kenapa kamu harus jadi bang heeseung dulu untuk ngelakuin itu?”
lantas jungwon segera membawa atensinya yang kaget itu pada jay.
“gimana?” tanyanya.
jay hembus napasnya panjang, seraya menatap lekat jungwon, “kenapa kamu nggak lakuin itu sebagai yang jungwon?” tanyanya.
“lakuin… apa?”
“hamilin aku.”
rona merah wajah jay gak menyurutkan gebu adrenalinya saat ini, rasanya seperti menembus sebuah pembatas kaca demi membebaskan diri dari sekapan bayang-bayang heeseung dan segala cerita rumit mereka.
mungkin jay tetap luka tapi setidaknya dia terbebas dari kurungan perasaan-perasaan yang sebaiknya segera ia padamkan.
saking shocknya jungwon cuma bisa terdiam tanpa memutus fokusnya pada jay yang dia yakin sekarang seakan bisa aja meledak tapi barangkali jay butuh melampaui batasan untuk menyelamatkan hari esoknya.
“kamu mau tau apa aku sehat atau enggak, ‘kan? kenapa nggak kita buktiin aja, jungwon?”
dan jay lupa kapan tepatnya dia jatuh cinta sepenuh hati pada yang jungwon, jay pun gak mencatat jelasnya kapan dia mengizinkan dirinya terbawa perasaan dengan dramatisnya oleh heeseung, tapi detik ini jay melepaskan diri dari segala di masa lalu, juga berhenti menerawang masa depan yang belum jelas dan abu-abu.
jay menyerahkan segalanya pada waktu yang bergulir di masa kini.
masa dimana jay berada di rentang waktu yang sama dengan jungwon.
dan jika detik ini jay telah kehilangan, maka itu adalah pilihan yang jay ambil untuk hari esoknya bersama pilihan baru untuk masa kini yang gak akan jay sesali.
“kamu yakin, jay?”
“sama kamu?”
“sama pilihanmu sendiri.”
“sekalipun aku ragu, detik ini dan seterusnya, aku cuma punya kamu, jungwon.”
— to be continue.
demonycal property.