KARMA : Selene.
Dilihatnya Marco menangis keras meneriakan betapa sakitnya kehilangan dalam hidup, pun Dokter Shakala dan timnya berusaha mengeluarkan bayi dari dalam perutnya walau sudah tidak bisa diselamatkan begitu pula dengan nyawanya sendiri.
Setiap kata serasa lenyap dari ingatan, tuk gambarkan semenderita apa berada di dalam palung gelap penyiksaan, nyatanya setelah segala daya upaya ia kerahkan segenap kekuatan, Ares gagal juga.
Nyawanya tak lagi mampu mengisi raga lemah itu, pula dengan seorang bayi yang turut hadir tanpa nyawanya ikut serta, belum sempat melihat bagaimana indahnya dunia, ia harus ikut menanggung dosa yang dibuat orang tuanya.
Monitor berhenti, mencatatkan waktu kematiannya pula garis-garis lurus yang menunjukkan bahwa tidak ada lagi kehidupan di atas pembaringan ruang operasi itu.
“AREEEESSSS!”
Marco berteriak keras dalam tantrumnya kemudian terpaksa harus diberikan obat penenang hingga akhirnya terlelap dalam kedukaan yang amat besar, telah kehilangan Ares dan juga anak mereka.
“Maaf, Niki, maaf aku gagal lagi.”
“Oh, apa yang bisa Kulakukan untuk menolongmu, wahai Alpha?”
Netra Ares berat terbuka, tetapi cahaya mengelilinginya juga sebuah suara buatnya segera bangkit lalu menemukan satu sosok yang sangat elok rupa, terdapat Bulan Sabit menjadi inti mahkotanya.
Ares menelisik sekeliling yang gelap dan hanya dimana dirinya berada lah yang bercaya putih cemerlang, sosok di depannya tersenyum kecil tanpa ia tau.
“Kau terlalu muda untuk kehilangan nyawamu.”
Ares mengembalikan atensinya penuh pada sosok itu, “maaf…. Anda…” ujarnya penuh keraguan.
“Selene.”
Saat itu juga Jay tunduk, kedua lututnya membentur permukaan lantai yang berukirkan langit.
“Maafkan saya, Moon Goddess, saya telah lancang.”
“Katakan.” Ujar sang Dewi.
Kepala Ares terangkat, begitu pula pandangannya, raut Ares bingung penuh tanya.
“Katakan, apa yang bisa Aku lakukan untuk membantumu.”
Dilihatnya Ares yang terus terdiam, seakan-akan merenungi kehidupannya terutama di saat-saat terakhir.
“Semua sudah berakhir untuk Takdir saya.”
“Benar. Tetapi apa kau tidak menginginkan bantuanku?”
Ares terdiam.
“Dengar, pertama kau membunuh seseorang lalu kedua, kau dihakimi oleh Kakak dari orang itu, lantas ketiga, kalian jatuh cinta dan mencintai hingga akhirnya kau meninggalkannya, hal yang paling menakutkan adalah sebuah kematian, bukankah ini tidak adil, Alpha?”
Ares semakin tak mengerti sebab seluruh isi kepalanya jadi rancu, penuh dengan kedukaan dan ketakutan akan jenis Karma apa lagi yang wajib ia tanggung kemudian setelah kematian.
“Semua ini terjadi karena kelalaianmu menjadi seorang manusia.”
“Mengapa Kau membunuhnya?”
“Saya terlalu… gelap mata, Dewi.”
“Lantas apa karena Enigma itu memberikan begitu banyak rasa sakit untukmu menjadi adil untuk sebuah nyawa yang Kau renggut atas keegoisanmu?”
“Tidak.”
Ares pikir ini memang sudah dalam penebusan dosa tepat di hadapan sang Dewi Bulan.
“Apa Kau mencintainya?”
Ares mengangkat pandangannya dan mengangguk lemah, sorotnya pun sudah cukup menjawab pertanyaan sang Dewi yang lantas menjentikan jarinya, tunjukkan seorang bayi, itu adalah anak yang coba Ares lahirkan.
“Niki.”
Kelahiran Niki kembali, yang telah gagal ia usahakan.
“Ku beri sebuah pilihan.”
Ares menatap lekat pada sang Dewi, sorotnya benar-benar serius hingga tak sedikitpun suarakan kata.
“Anak itu akan tetap hidup bersama Sang Ayah, tetapi risikonya adalah kesakitan yang luar biasa sepanjang hidup karena harus bertahan bersama seorang Anak tanpa Dirimu.”
“Tidak.” Refleksitas Ares menyahut, kepalanya menunduk segera memberi penolakan besar dengan menggeleng.
“Tidak, tolong jangan buat Mereka menderita…” ujarnya penuh permohonan.
“Tak apa, itu karena Enigma itu mencintaimu, orang-orang yang terikat akan dan selalu harus ikut persoalan Karma satu sama lain, itulah kenapa sebaiknya manusia paham betul dan mampu dengan bijaksana memilih cara untuk bertahan dalam hidup.” Ujarnya nan panjang dan Ares tetap menggeleng menolak sebagai jawaban.
Sang Dewi kembali menjentikan jemarinya, membuat sebuah gambaran dimana saat itu Ares dan Niki bertemu untuk pertama kalinya sebelum acara perlombaan yang merenggut nyawa Niki.
“Atau semua akan kembali pada saat itu.” Ujar Sang Dewi.
“Bagaimana mungkin?” tanya Ares dengan raut ragu.
“Kenapa tidak jika aku mau?” balas Sang Dewi buat Ares sontak terdiam.
“Waktu akan berputar kembali pada saat Kalian belum terikat pada Takdir ini.”
“Tetapi, tentu saja ada syarat dan risiko yang harus Kau tanggung.”
Ares berdiri diam menanti dengan segenap asa perihal pilihan yang tak akan mungkin ditolaknya kali ini atau Ares hanya bisa berpasrah atas bertempat di Neraka untuk menebus segala Dosa.
“Kau harus mencegah kematian Niki, dengan cara apapun.”
Ares sanggup.
“Tetapi risikonya adalah, semua yang sudah terjadi akan hilang dari memori semua orang, kecuali kamu sendiri sebagai satu-satunya kunci atas Takdir yang mengikat.”
“Apa—”
“Juga Marco.”
Ares kembali terbungkam dengan sorot serius.
“Ia akan mengingat semuanya.”
“Bagiamana—”
“Sebagai mimpi.”
Sang Dewi membawa haluan atensi pula raganya lurus pada Ares dengan balutan kain putih membalut tubuhnya.
“Marco akan mengingat semua sebagai mimpi yang panjang, tetapi Ia tidak akan mengenal dan mengingat siapa dirimu sama seperti saat ini.”
“Begitu juga dengan apa yang telah kalian bangun hingga akhir.”
Ares tentunya tak lagi mampu berkata apapun, sebab ini adalah apa yang dirinya sendiri akibatkan atas segala ego dan ambisinya dahulu.
“Cinta yang ada di hati kalian saat ini akan musnah.”