Hinandra
8 min readAug 14, 2023

KARMA : Misery.

Lima bulan setelah dinyatakan amnesia dan tiga bulan sudah berjalan usia kandungan Ares, entah harus bersyukur atau bagaimana mengingat Marco kini ikut tinggal di rumah Jordan demi menjaga sang Omega, di satu sisi Marco masih tak rela akan mengapa Ares enggan menetap di kediamannya, sementara di sisi lain, Marco punya beberapa waktu untuk mengusahakan niatnya untuk mengulik soal masa-masa yang dilupakannya, dari Jordan.

Seperti malam ini, setidaknya setelah dua bulan berlalu, Marco benar-benar punya waktu untuk mengobrol berdua saja dengan Jordan lebih privasi dan serius, sebab Ares tentunya sudah terlelap di kamarnya.

“Terserah lo mau berpikir gimana karena gue mau peringati ‘lo, Marco, apapun yang akan terjadi setelah ini, gue bersumpah akan jadi orang pertama yang maju paling depan untuk melindungi Ares.” Ujar Jordan membelakangi Marco.

Posisinya mereka di balkon, menghadap halaman rumah yang sepi dan Marco hanya diam, mengisyaratkan persetujuan tanpa kata, saat kemudian Jordan berbalik.

“Apa yang lo tau soal kematian Niki?”

Marco mengangkat pandangannya, balas tatapan datar Jordan yang tertuju padanya, “Niki kecelakaan dan nggak selamat,” katanya.

“Lo tau alasan kenapa Niki bisa kecelakaan?”

“Ada masalah sama mobilnya.”

Jordan ngehela napas singkat, “dan setelah kejadian itu, semuanya lo lupakan?” tanyanya.

Marco mengangguk, “iya,” jawabnya.

“Ares bukan temennya Niki,” kata Jordan.

Seperti katanya kepada Marco, Enigma satu itu harus siap dengan segala risikonya, sama halnya dengan Jordan, ia siap dengan amuk amarah Kala, Nicholas, Jake dan bahkan Ares jika akhirnya ketauan membantu Marco mengingat semuanya.

“Ares musuh Niki di Sirkuit.”

“Suatu hari, Niki nantangin duluan dan Ares seorang Alpha, lo tau sendiri gimana arogan dan ego seorang Alpha, Co,” ujar Jordan yang bikin Marco mendengarkan dengan fokus sampai alisnya mengkerut.

“Yang berani nantangin Ares malah Omega, Niki pendatang baru dan cukup hebat di Sirkuit, Ares terlalu bodoh untuk merasa gak tertandingi, dan menurut ‘lo, apa yang selanjutnya terjadi?”

“Duduk.” Kata Jordan saat Marco meraih kepalanya, mencengkram rambut terlihat kesakitan.

Dan Marco benar-benar duduk setelahnya, napasnya berat dan dadanya terasa sesak, Marco coba untuk membayangkan setiap apa yang ia dengar dari Jordan, berusaha memancing ingatannya untuk kembali.

“Lo yang dikenal Ares sekarang bukan ‘lo yang dulu, sama halnya dengan Ares yang lo tau saat ini, juga bukan Ares yang dulu, Takdir kalian sakit, terlalu menderita sampai sejauh ini, semakin lo coba untuk inget semuanya, gue yakin cuma rasa sakit yang mendominasi, karena cuma itu yang banyak tertinggal di masa lalu kalian.”

Jordan ngehela napas, berat rasanya harus ada di posisi seperti ini, biar bagaimanapun, bukan sebuah ide yang baik menyembunyikan semuanya, memberi Marco larangan demi larangan untuk mengingat masa lalunya justru akan semakin membuat dia berpikir keras dan secara paksa mencoba mengingat sendiri ingatan yang ia lupakan.

“Ja-jadi, siapa Ares yang sebenarnya?” tanya Marco dengan raut payah, tatapi Jordan yang menyorot lelah.

Jordan muak dengan segala masalah rumit yang seolah tiada akhir di antara Marco dan Ares ini.

“Ares, dia yang udah sabotase mobil Niki sampai adik ‘lo itu kecelakaan saat balapan sama Ares dan akhirnya nggak selamat.”

Detik itu juga pandangan Marco buram, kepalanya semakin sakit terasa menusuk hingga tak sanggup buka mata, mendengar penuturan Jordan membuatnya merasakan sebuah hantaman keras menikam hati dan pikirannya.

“Singkatnya, Ares adalah orang yang udah bunuh Niki.”

Jordan hela napasnya kemudian, melihat Marco yang menepuk-nepuk kepala dengan kepalan tangan, “semua yang gue omongin seratus persen kenyataan, gue gak dapat untung apapun kalau berbohong, lagipula gue sendiri terlalu malas untuk ngibulin ‘lo, semua sejauh ini udah rumit, jadi apa lo masih mau dengar sampai akhir?” ujarnya kemudian di akhiri dengan tanya.

Marco berusaha menetralkan alur napas, berusaha mengontrol diri, walau tangan bergetar hebat dan jantung terus berdetak cepat.

“Lo udah inget belum?” tanya Jordan saat Marco hanya diam.

“Sakit ‘kan? masih mau dengerin gue atau udahan aja?” tambahnya kemudian.

Walau ia sudah siap jika esok Ares akan memarahinya kalau selepas berbincang dengannya Marco langsung sakit atau apapun sejenisnya, Jordan sudah bertekad untuk membuat Marco menyadari segalanya, mencintai Ares sebagai dirinya yang sebenarnya, tanpa ada amnesia yang membuatnya melupakan masa lalu mereka.

“Lanjut, Jo,” kata Marco, walau wajahnya nampak sedikit pucat akibat menahan rasa sakit yang menyerang kepala, “gue mau denger semuanya, gue mau ingat segalanya,” katanya penuh kukuh.

Maka Jordan pun bersedia, “gue akan jelasin sesuai dengan sudut pandang gue, okay?” katanya dibalas anggukan Marco, “dengerin baik-baik, kalau lo udah gak kuat sama sakit kepala ‘lo itu, bilang, walaupun gue tau risikonya gimana, tapi kalau sampai lo mati di rumah gue, itu bakal jadi sangat merepotkan,” imbuh Jordan yang semakin meyakinkan Marco bahwa masa lalu yang melibatkan Jordan ke dalam linimasa yang sama dengan dirinya dan Ares pun meninggalkan pengalaman yang buruk bagi Jordan.

Dan Marco ingin tau perihal semua itu tanpa melewatkan sedikitpun ingatan.

“Gue siap,” kata Marco.

“Lo balas dendam, dengan bantuan Jake yang juga marah soal fakta bahwa Niki sahabatnya meninggal gara-gara ego Ares, Jake sempat cerita soal pertama kali lo dikasih tau sama dia, di pemakaman soal siapa pembunuh Niki.”

“Waktu berlalu sampai Jake berhasil bantu lo untuk balapan sama Ares dan sampai di moment lo ngalahin dia, di Sirkuit yang rame dan ribut itu jadi saksi gimana gak manusiawinya lo menghakimi Ares di depan segitu banyak orang, Co, lo perkosa dia di publik dan buat Ares nanggung malu yang bahkan Niki gak mengalami itu, maksud gue, seandainya memang balas dendam bukankah seharusnya adil? Niki meninggal, bukankah Ares juga lebih baik lo buat sama seperti Niki alih-alih membuatnya hidup serasa mati?”

Jordan menyeringai kecil, emosinya ikut andil, namun bagaimanapun, semua itu tak akan mampu ia tahan.

“Lo mengubah Ares menjadi Omega, malam itu lo tinggalin dia yang bonyok dan mengenaskan setelah lo perkosa dia, gue yang bawa dia ke rumah sakit dan gue yang ngurusin semuanya, gue pikir semua udah selesai, tapi nyatanya Jake masih bantu lo untuk nemuin Ares di rumah sakit, dan lo tau apa yang lo lakuin, Co?”

“Dengan gak berotaknya lo kembali memperkosa Ares di kamar inapnya, buktinya adalah Dokter dan Suster yang menemukan sisa-sisa seks di ruangan Ares, lo culik dia, lo bawa dia ke rumah lo, lo siksa dia terus disana, gue gak tau apa aja karena gue gak punya akses untuk temui Ares, cuma Jake yang selalu bilang kalau Ares pastinya gak baik-baik aja di tangan seorang bajingan haus akan pembalasan dendam seperti ‘lo.”

“Gue sempat ribut sama Jake karena hal itu, biar gimanapun Ares adalah sahabat gue tapi Jake itu Omega gue, dia Mate gue tapi dia yang bantu lo merusak hidup Ares atas nama Karma dari perbuatan Ares yang udah bunuh Niki, adik lo.”

Semakin jauh, semakin terasa emosi dari setiap kalimat Jordan dan semakin sakit kepala Marco dibuatnya, namun ia tetap mendengarkan, dengan isi kepala yang berputar-putar acak, riuh rusuh seperti putaran kaset kusut dalam kepalanya yang berdenyut.

“Dan, waktu gue takut Ares akan mati di tangan lo, Jake justru bilang kalau ternyata sebelum semua terjadi, ‘lo udah jatuh dan suka sama Ares lebih dulu.”

Jordan tergelak sarkas, “what a fuckin' fate?!” ujarnya pedas.

“Bahkan setelah semua yang terjadi, bang Kala pun bilang kalau itu benar, ‘lo pernah pulang subuh-subuh dengan begitu bahagia cerita soal gimana lo jatuh dan suka sama seorang Alpha bernama Ares setelah lo datang ke Sirkuit karena gabut, kasian banget deh ‘lo, Marco.”

“Tapi dendam membutakan mata hati ‘lo, yang terjadi bahkan lebih jauh dari ekspektasi kami, sampai akhirnya lo dengan gak berperi kemanusiaan membunuh anak yang Ares kandung, anak ‘lo sendiri dengan kedua tangan ‘lo itu, Co, semua itu lo lakukan dengan sengaja, sampai Ares lebih gak hidup daripada mati itu sendiri.”

“Ares bilang karena menurut lo itu adil, setara dengan Ares yang membunuh Niki, tapi apa sekarang semua rasa sakit ini udah bisa melunasi hutang Karma Ares?”

Jordan tau, satu demi satu ingatan sudah mampu Marco rasakan, namun amarah yang selama ini ia pendam muncul ke permukaan, sulit bagi Jordan untuk merasa kasihan pada Marco yang kesakitan, sebab bagaimanapun bagi Jordan Ares menerima lebih banyak rasa sakit daripada Marco.

Marco memandangi kedua tangannya dengan tatapan rumit, pikirannya kacau, perasaannya rancu, kepalanya sakit hingga mati rasa, dadanya sesak namun ia tak peduli, apa yang kini berputar-putar dalam ingatannya seakan mengurung Marco dalam labirin penyesalan, suara-suara dari masa lalu merengkuhnya dalam lingkaran kesedihan, ketakutan, kesakitan.

“Disaat Ares menyerah, disaat gue mau bawa dia jauh dari ‘lo untuk selamanya, lo malah bilang kalau lo menyesal, lo menginginkan Ares dan mengakui kalau lo jatuh dan cinta sama dia, lo mengakui kalau dia Mate ‘lo, setelah semua drama yang menyedihkan, lo malah menyatakan kalau ‘lo gak akan bisa hidup tanpa Ares tapi gue ragu, lo menginginkan dia ada di sisi lo, karena lo takut mati kalau berjauhan sama dia karena kalian adalah Mate.”

“Lo nggak benar-benar mencintai Ares.”

Detik itu juga Marco mengangkat pandangannya, menatap penuh pada Jordan, jadi inilah mengapa selalu ada selip kebencian pada tatapan Jordan yang tertuju padanya.

“Lo cuma takut dijemput maut seperti Tahel yang menyusul kematian Niki, bukan karena lo mencintai Ares dengan sepenuh hati, karena kalau iya lo mencintai dia, bagaimana bisa lo melakukan semua kebangsatan itu ke Ares, Co?”

“Ares adalah pembunuh— ”

“Kamu sudah ingat semuanya ya?”

Seketika Marco dan Jordan bawa atensi mereka ke belakang, ambang balkon dimana Ares berdiri disana, wajahnya nampak sendu.

“Ares…” gumam Jordan lirih.

Sementara Marco hanya memandang Ares lurus dan rumit.

Marco bergerak, hendak mendekat, namun sekali ia melangkah maju maka Ares ambil dua langkah mundur.

“Ares.”

Empunya nama menggeleng, tatapannya penuh dengan keresahan, rasa takut dibalut air mata, wajah sedih yang jelas ketara, tak mampu ucapkan kata, ia hanya terus mundur saat Marco hendak meraihnya.

Tangan Ares memeluk tubuhnya sendiri, gestur seolah melindungi perutnya dari benturan.

“Ka-kamu sudah ingat…” katanya, lirih terbata, ketakutan teralun jelas dari kalimatnya.

“Ares…” lirih Marco berhenti melangkah, berharap Ares pun akan berhenti menghindarinya.

Namun Ares kemudian berbalik lantas berlari, membawa langkahnya menuju kamar dan langsung menutup pintu tak lupa dikunci, biarkan Marco membubuhkan gedoran keras memohon untuk dibukakan.

“Ares! Buka pintunya!”

Drak! drak! drak!

“Ares, Kakak mau ketemu kamu, buka pintu!”

Tak peduli seberapa sakit kepalanya saat ini, Marco bahkan turut benturkan kepalanya ke pintu, sandingkan dengan ketukan tangan yang tak jua mampu membuat Ares bukakan pintu untuknya.

Marco belum sempurna mengingat semua, saat tubuhnya merosot dan berakhir duduk bersandar lemah di pintu, susul sebuah benturan dari kepalanya yang begitu sakit, tangannya terulur menjenggut rambut.

“Kenapa kamu lari, Ares?”

“Kenapa kamu biarin Kakak sendirian padahal kamu yang minta supaya Kakak nggak ninggalin kamu pergi?”

Sepasang mata Marco meredup hingga akhirnya tertutup, telan ludah berat berusaha turut menelan pedih yang melanda perasaannya, dalam rengkuh pening yang menguras tenaga, hingga kata demi kata terdengar semakin lirih intonasinya.

“Ares… Kakak masih disini, Kakak nggak akan pernah pergi.”

“Kakak, sudah janji.”

Tetapi mohon mengertilah bahwa selain cinta dan kasih sayang, Marco juga memberikan Trauma yang membuat Ares memilih berlari, menghindar, menjauh, membatasi dirinya dari jangkauan Marco.

Selain cinta dan kasih sayang, yang tentunya selama ini Ares rasakan dari Marco, entah bagaimana maksudnya Jordan justru membantu Marco kembali ke masa lalu, berusaha mengalahkan amnesianya.

Tiga pagi, Ares isi kalutnya perihal esok, sandarkan tubuh yang lemah pada pintu yang membatasi dirinya dengan Marco.

Bagaimana caranya Ares menjelaskan? Kalau sulit rasanya mengusahakan diri untuk menerima, disaat kini ia kembali diberikan kesempatan untuk mengandung dan disaat yang sama Marco telah mengingat kembali masa lalu mereka.

Bagaimana jika Ares harus kembali diberikan duka yang sama?

Bagiamana jika, benar kata Jordan, bahwa Marco tidak pernah benar-benar mencintainya, melainkan hanya naluri Enigma yang takut mati jika dijauhkan dengan sang Belahan Jiwa?

Bagaimana jika Marco tak bisa menerima semuanya? Bahwa Ares adalah awal dari kehancuran hidupnya.

Lantas, apakah ini adalah akhir dari Takdir mereka jiwa-jiwa yang tak termaafkan atas Karma?

“Atau mungkin kita hanya terlalu hancur untuk bisa disatukan kembali menjadi utuh, maafkan aku, Kak, sejak awal semua adalah salahku karena memilih menjadi seorang Pembunuh.”

—Selesai.

No responses yet