Hinandra
6 min readJul 3, 2023

KARMA : Foreshadow.

You are the Sun that lifted my Darkness.
Even if were to be burnt by that light.
I will Sacrifice for you all Eternity.

“Namanya Ares, dia temennya Nicholas dan Jake.”

“Dia Alpha, nah, waktu lo sadar itu, dia lagi check up, terus ya mampir buat liat keadaan lo karena kebetulan Nicholas juga mau nge-cek, gue yang nitip.”

“Dia juga temennya Niki, Bang?”

“Lah iya dong, mereka berempat itu temenan, Co, makanya dimana-mana ngedempet terus, cuma memang selama ini si Ares ini tinggal di Amerika, nah, jadi dia baru balik kesini setelah Kecelakaan Niki.”

“Kenapa kepo? Naksir ya?”

Lirikan jahil Kala tak selaras dengan isi hatinya, sibuk memohon maaf kepada Tuhan sebab telah berbohong soal masa lalu yang Marco lupakan.

Ingin rasanya Kala teriakan, “ANJING!” dengan keras tetapi tidaklah, kapan-kapan saja. Kali ini, ia sudah membuat sebuah konspirasi bersama Jordan, Jake dan Nicholas.

Konspirasi pembelotan Takdir yang diharapkan mampu menciptakan Garis Baru dari hubungan Rumit Marco dan Ares.

“Ditanya Co, bukannya jawab malah bengong,” ujar Kala menegur lamunan Marco.

Soal Ares.

“Tanya apa tadi?”

Iya, dalam keadaan Amnesia, Marco sulit untuk mengingat Masa Lalu, dan akan lebih lambat soal mengingat hal-hal baru.

Setidaknya begitu kata Dokter.

“Lo naksir nggak sama Ares?”

Marco yang ditanya, berpikir sejenak, “entahlah, Bang,” katanya, bodoh sekali pula raut wajahnya.

Kala yang duduk di sofa ruang kerja Marco tersenyum kecil, julid.

“Apa yang lo rasain waktu ngeliat dia?”

“Kenapa lo tanya soal itu? Ada apa sama dia?”

Maklumi usia Kala, mulai lupa bahwa Marco setidaknya sangat peka dan teliti walau sedang Amnesia, “ya siapa tau aja lo merasakan ada yang beda sama Ares, toh selama ini lo nggak pernah tuh jatuh cinta sama orang,” katanya.

“Gue jatuh cinta? Sama Ares?”

Kala tepuk jidat.

Baru tau kalau Amnesia juga berarti bloon.

“Ya gue mana tau sih, Marco, yang ngerasain perasaannya ‘kan ‘lo, kenapa malah nanya balik?” Kala kesal, sedikit, gregetan bahasa halusnya.

“Gue cuma, ngerasa nggak asing sama si Ares ini, seperti apa ya, seperti gue udah pernah ketemu dia sebelumnya, Bang,” ujar Marco kemudian.

Seketika Kala ingat dengan moment dimana Marco pulang langsung ngoceh sampai subuh perihal debaran di dadanya saat pertama kali melihat Ares di Sirkuit.

Wah, walau agak benci tapi Kala tetap salut pada pusaran Takdir.

“Iya, lo pasti lupa soal itu, lo pernah liat Ares di Sirkuit, sekali doang itu lo udah heboh bener mengagumi dia,” kata Kala dengan antusias, berharap Marco turut bersuka cita namun justru wajahnya meraut bingung.

Hobby baru Marco setelah sadar dari Koma ya memang itu, bingung.

“Sirkuit?” beonya.

“Iya, di Sirkuit, tempat lo pertama kali ketemu Ares, tapi Aresnya nggak tau ‘lo.” Jelas Kala.

“Kok lo bisa tau itu semua?” tanya Marco, dengan wajah penasarannya.

Kala tersenyum simpul, ingin rasanya ia gebrak Marco dan bilang, “GUE TAU SEGALANYA WOIY!” tapi tidaklah, tidak perlu mengerahkan tenaga penuh, biar ia hayati perjalanan ini sebagai Sahabat yang berbakti.

“Gue saksinya, Co.”

“Gue saksi dari jatuh cinta ‘lo sama Ares.”

Marco tidak bisa memungkiri kenyataan bahwa Ares memang menyita perhatiannya.

Tentu saja.

Setelah sadar dari Koma dan dinyatakan Amnesia, Marco menjalani kehidupan Baru-nya dengan apa adanya, seadanya lebih tepatnya, monoton, datar dan membosankan, namun hanya ada satu hal yang mampu membuat hidup Marco lebih terasa berbeda.

Saat Marco membiarkan dirinya tenggelam dalam pikiran perihal eksistensi Ares.

Pemuda Alpha yang begitu familiar baginya, ya walau memang Marco menelan cerita dari Kala perihal masa lalu dimana ia telah jatuh cinta pada Ares, tapi tetap saja, rasanya berbeda.

Benar, Marco memang merasakan hal yang berbeda namun tak mampu menjelaskannya, secara abstrak pun membuatnya bingung, apalagi secara rinci, lebih rancu lagi.

Langkah kaki Marco meniti setiap susunan batu menuju Pusara Niki, tempat dimana Adiknya beristirahat di Keabadian Hidup setelah Kematian.

Pagi yang cerah dan sejuk, untuk air mata yang jatuh dari Pemuda yang sudah lebih dulu berada disana, menunduk dan biarkan tangisanya terdengar cukup jelas dari jarak beberapa langkah besar di belakang, Marco menemukan Pemuda itu lagi, Alpha yang sama, Ares dengan segenap kesedihannya.

“Niki.”

“Hiks… Aku rindu.”

“Aku rindu… Niki…”

Marco tetap memperhatikan, memasang pendengarannya dengan baik, berpikir bahwa barangkali Ares tengah amat sangat merindukan Adiknya, merindukan sahabatnya.

Langkah kaki Marco reflek mendekat, tangannya terulur bak hendak meraih Ares saat pemuda itu menepuk-nepuk dadanya dengan kepalan tangan, seperti sesak karena begitu banyak menangis, begitu banyak perasaan yang ia simpan hingga muak.

Namun Marco hanya diam, tatapannya rumit, tangannya perlahan kembali ke sisi tubuh, langkahnya terpaku pada tangis bersela kata demi kata yang Ares coba utarakan.

“Sakit… Ki, maafin aku…”

“Aku nggak tau lagi harus gimana.”

Refleksitas Marco kembali menuntun tangannya naik, meremat dada yang terasa sesak terhimpit beban tak kasat mata.

“Se-setelah semua yang terjadi, Marco... Amnesia, Niki.”

Alis Marco berkerut, bingung. Kenapa dengan Amnesia-nya? Apa hubungannya dengan Ares hingga harus begitu payah karena menangis?

“Marco melupakan semuanya.”

“Marco, melupakan aku, melupakan semua yang sudah terjadi.”

“Aku takut. Aku bingung, Ki, aku…”

“Aku rindu Marco.”

Detik berikutnya, Marco melangkah, namun Ares tiba-tiba mendapatkan sebuah panggilan telepon, lantas terdengar bahwa Ares berusaha menelan tangisan menjawab telepon dengan cepat, berkata bahwa ia akan segera pulang dan keadaannya baik-baik saja.

Ares berikeras bahwa ia bisa pulang sendiri dan tidak ingin dijemput.

Marco meletakkan bunga yang dia bawa di atas pusara Niki, berkata, “Ki, Abang kangen, tapi Abang ngga bisa lama-lama, Abang nggak tau apa yang terjadi, lebih tepatnya Abang melupakan semuanya, jadi, Abang mau cari tau apa itu, Niki.”

“Abang pamit, nanti Abang datang lagi, janji.”

“Abang sayang Niki.”

Secepat yang ia bisa, lantas Marco berjalan cepat mengejar feromon Ares yang berjejak pada udara, yang membuatnya sedikit pusing dan berdebar, Marco berpikir ini adalah efek pasca Koma, dimana tubuhnya akan bereaksi berlebihan pada sesuatu.

Tapi tak mampu menghentikannya dari dorongan magis dalam diri untuk mencari sejelas-jelasnya perihal senyawa beda dari eksistensi Ares dalam kehidupannya.

“Ares!”

Lamunan kosong Ares sempurna buyar saat seruan itu menyentak tubuhnya.

Kedipan mata ribut, debar jantung bertalu rusuh.

“Ares!”

Sekali lagi.

Mata yang semula tertutup rapat dan tangan menghadang telinga dari dengungan memekak, bagaimana bisa Ares tak sadar bahwa sedari tadi ada orang yang mengikutinya?

“Ares.”

Suara itu memelan, tepat di belakang Ares yang takut untuk berbalik.

Tapi tiba-tiba Ares lemas, jelas. Sebab Emigma-nya kini berdiri di belakang tubuhnya yang berdiri kaku, napas Ares terasa berat, kepalanya jatuh tertunduk, entah apa lagi yang akan terjadi.

Ares berbalik.

Pandangannya jatuh, menatap sepasang sepatu yang sedikit kotor karena jalanan Sirkuit yang sedikit basah setelah Hujan semalaman.

“Ares.”

Ares mau meledak.

Ini benar-benar suara Marco, nyata, menyebut namanya.

Oh Tuhan, darah dalam tubuh Ares terpompa menggila.

Marco pusing, sesungguhnya, karena yang ia hirup adalah Feromon yang aneh, baginya.

Bukan karena sulit untuk mengenalinya, tapi justru karena ini adalah Feromon miliknya, dan melekat pada aroma dari tubuh Ares, bagaimana bisa?

“Kamu dengar nggak?”

“I-iya, Kak, maaf.”

Ares takut sekali, demi Tuhan.

Ia bahkan tak sadar bahwa intimidasi Marco membuat Omega dalam dirinya memberontak.

Saat sepasang mata memerah basah itu reflek bertaut tak kasat dengan sepasang jelaga milik sang Enigma, disaat itulah sebuah tarikan membuat Ares membeku sempurna.

Marco meraih pinggangnya, menarik Ares jatuh pada pelukan erat Marco, satu tangan sang Enigma menahan punggung Ares.

Darah Ares seakan mengalir dengan begitu derasnya naik dan turun kembali memompa jantung yang berdetak begitu cepat hingga Marco dapat merasakannya.

Disana, tepat di titik dimana Cerita Marco dan Ares dimulai saat Bulan Purnama, kini di tempat yang sama, di pagi setelah Purnama tenggelam, Marco mengulang kembali pertemuannya dengan Ares, dalam keadaan yang lebih baik, walau dalam Pelupaan namun setidaknya kali ini tak lagi ada Keangkuhan.

“Marco…”

Pelukan terlepas, namun kemudian kedua tangan Marco meraih kedua sisi bahu Ares, diremasnya menyatakan keseriusan dari tatapan yang bergerak kecil mematri wajah Ares yang melas, sembab dan basah sebab ia sudah kembali menangis.

Tentunya menambah keyakinan Marco perihal apa-apa saja yang telah ia lupakan memiliki keterkaitan dengan Ares.

"Ares, listen to me. I don’t know what happened to Us, more like i forgot everything."

"But i believe that there is something about You and the two of Us. I was trapped in the Darkness of Oblivion, but you become the Sun that lifted my Darkness."

"Ares, even if i had to be burned by that light, now i know what i have to do. I know."

“Following the Fate and We’ll draw the New Line.”

"It’s you and me in this World, I found you, Omega."

—to be continue.

No responses yet