Hinandra
3 min readJun 19, 2023

KARMA : Fate II

cw//tw : mention of psychology issues and suicidal.

“Marco?!”

Ares terbangun dan langsung terduduk menyeru nama itu, tubuh yang hangat dalam balutan selimut tiba-tiba dipeluk dinginnya pagi buta dan Ares mengusap wajahnya dengan telapak tangan yang bergetar.

Jantungnya berdebar resah, apa yang terjadi hanya mimpi?

Apa Marco yang datang dan terlelap sambil memeluknya hanyalah tanda bahwa Ares sudah benar-benar tidak waras dibuat oleh sang Enigma?

“Marco!” seru Ares sekali lagi, suaranya menggema seisi ruangan.

Kamar yang setiap hari setelah pulang dari Rumah Sakit, menjadi ruang melamun untuk Ares tenggelamkan dirinya dalam kelana pikir yang tak berujung, abstrak pula rumit.

Pandangannya awas, segera bangkit tanpa peduli telapak dingin tak beralas, melangkah gaduh menuju pintu kembar dan membukanya rusuh, “Marco! Marco dimana?!” serunya berisik, resah, alisnya nyaris menyatu, air mata mulai jatuh, tangannya bertautan di depan dada, langkahnya tergesa.

Pandangan Ares sibuk kesana-kemari memastikan eksistensi yang dicari, hingga sampailah langkah tertahan pembatas balkon, tubuhnya seketika terkena cahaya matahari pagi, sejuk suhu menusuk tubuh yang hanya dibalut piyama dengan feromon sang Enigma melekat disana.

“Cuma mimpi, ya?” tanya Ares nan sendu.

Jemari yang tenggelam dalam piyama biru bergaris milik Marco kini mengepal, menusukkan kuku-kukunya pada telapak tangan, kemudian biarkan rasa sakit menjalar menuju hati yang tertawan.

Tidak. Ares tak tau apa lagi itu Cinta, yang ia tau hanya Simpul yang mematikan perjalanannya untuk berlabuh pada satu jiwa, Enigma yang telah menghancurkan seluruh Masa Depan yang sempat Ares bangun dalam impian.

Simpul Takdir yang menuntut Ares untuk tetap hidup lebih mati daripada kematian itu sendiri.

“Marco…” mata Ares terpejam, bukan karena silau akan cahaya matahari yang menyorot wajahnya, namun enggan melihat dunia saat ia hendak jatuhkan tubuhnya dari lantai tiga Istana Megah milik sang Enigma.

“I dedicate to you my Life, and, i will Sacrifice a death to you, Enigma.”

Dan kedua tangan Ares menyentuh pembatas, kaki kiri yang siap menopang tubuh lebih awal untuk naik kemudian siap untuk jatuh namun—

“ARES!”

Hap!

Brugh!

Sebuah teriakan keras menyusul tarikan kencang dengan jatuhnya tubuh Ares kini pada sebuah pelukan erat tubuh dengan Feromon yang sama yang melekat pada dirinya.

“Marco—”

“LO PIKIR APA YANG MAU LO LAKUIN, HAH?!”

Tubuh Ares tersentak saat dengar teriakan dengan wajah merah marah dan urat-urat mencuat dari leher Marco, matanya nyalang menatap Ares yang ciut, takut, merasa kecil, ingin menangis, bingung; sebab ini Marco.

“Ke-kenapa….?” tanyanya lirih.

Brugh!

“Akh!” ringis Ares saat Marco mendorong tubuhnya, disandarkan ke dinding, dikunci pergerakannya, ditatapnya Ares lamat-lamat, napas memburu sang Enigma menerpa wajahnya, kian gentar dibuatnya sang Omega menutup mata dan biarkan kristal demi kristal basah jatuh menganak sungai.

“Jangan pikir lo bisa mengakhiri hidup lo sendiri!” bentak Marco.

“Cuma gue yang boleh melakukan itu, Omega, cuma gue!” katanya lagi.

Ares segera mengangguk, sisi Omega dalam dirinya tunduk, bahkan sudah tidak lagi mampu mengenali sisi Alpha dalam dirinya, kini, Ares tak ubahnya sebuah bola kapas kecil yang tak berdaya.

“I-iya.. Marco, minta maaf…” ujarnya tanpa menatap balas.

“Lihat mata gue kalau bicara!” tuntut Marco.

“Ares.”

“Iya!” sentak Ares, dengan sepasang mata terbuka, fokuskan pada Marco yang menutupi akses cahaya matahari memapar wajahnya.

“Ar—”

“Tapi aku udah nggak sanggup, Marco.”

Ares menggeleng lamat dengan sorot mata yang rumit, sarat kesakitan nan lelah tak berujung.

“Aku udah nggak kuat lagi hidup untuk rasa sakit yang nggak ada habisnya.”

“Aku tau. Aku berdosa dan aku berhak atas Karma, aku pembunuh, a-aku yang membuat Niki pergi ninggalin kamu, aku egois, aku antagonis yang sangat jahat, maka dari itu, akhiri aja hidupku, Marco.”

“Akhiri aku, Enigma.”

Marco diam, hanya terus menatap dan menonton tangisan Ares kini dengan ekspresi wajah yang sulit dijelaskan.

“Akhiri semua ini, aku muak. Aku capek, aku mau—”

“Ok. Ares, i will Free you.” Sahut Marco menyela.

Ares tersentak.

Akhirnya, Marco akan menyudahi semuanya.

Marco akan menjadi maut untuk Ares.

Marco, menerima pengorbanan diri Ares atas Karma, Kematian dibalas dengan Kematian.

—to be continue.

No responses yet