KARMA : Faith.
Kini Marco tau alasan Ares tak pernah sedia menetap dikediamannya, sebab bahkan Marco sendiri mulai merasakan begitu banyak hal-hal yang mencekik kewarasannya dari setiap titik yang mencekam dan menghamburkan ingatannya kembali pada masa-masa yang terlupakan.
Ares tak pernah pergi, Marco yang terlampau jauh dengan dendam dan arogansinya, dengan tekad dan amarahnya, membungkus cinta dengan kebencian, Marco telah sempurna mengacau takdir hidupnya sendiri.
“Marco.”
Satu pekan berlalu, dua hari di sela tujuh malam yang berlalu dengan tantrum Marco, menyalahkan keadaan dimana Ares tak ingin bertemu dengannya.
“Bukan Ares gak mau, Co, Ares takut, biar gimanapun, lo udah jadi trauma terbesar di dalam hidupnya.”
Marco tau.
“Usahakan pembaruan, Co, sejujurnya gue udah gak tau lagi mau bantu ‘lo dengan cara apa, karena sekarang gue pikir lo udah tau sendiri keadaannya.”
Ibaratnya, suara Kala adalah angin yang kibarkan bendera putih, keterlibatannya harus cukup sampai disini, selebihnya setelah ini, bagian Kala hanya akan doakan yang terbaik untuk sang sahabat.
Sama halnya dengan Jordan pada Ares, tentunya.
“Kenapa gue sejahat ini ya, Bang?”
Wajahnya nampak lesu, sepasang mata menghitam sebab tak pernah bisa nyenyak dalam tidur, setiap mimpi yang memeluknya justru terasa mencekik, mencekam, Marco ketakutan dan sendirian.
Kala menghela napas, sudahlah.
Terlalu sia-sia untuk mempertanyakan hal yang tidak bisa dibenahi.
“Ares juga pernah jahat, tapi sekarang dia baik, lo yang ngubah dia ‘kan? jadi seharusnya Ares juga bisa mengubah ‘lo yang kayak setan itu jadi lebih baik.”
Marco terkekeh kosong, sandarkan tubuhnya di dinding, tatap figura Niki yang tersenyum di sebelah foto dirinya.
“Ares benci sama gue, Bang.”
Kala jadi sedih. Prihatin.
“Yang tau soal itu cuma Ares sendiri, lo gak berhak menyatakan hal yang belum tentu pasti.”
“Tapi Ares gak mau ketemu gue, Bang, gue kangen…”
“Nicholas ‘kan bawain vidio yang diambil diem-diem pas jenguk Ares.”
“Nggak cukup, Bang, rasanya gue mau selalu di dekat Ares, gue mau jagain dia, gue mau, tebus semua yang udah gue lakuin ke Ares.”
Melas nan menyedihkan, raut Marco seperti tak gambarkan sosok Enigma jika dilihat dari sudut pandang manapun, Marco benar-benar dibuat kacau selepas amnesianya lenyap.
“Tapi Ares nangis terus kalau ngeliat gue, harus apa lagi gue usahain semuanya, Bang?”
Kala juga harus bagaimana pula memberi dukungan untuk Marco kalau begini?
“Lo liatin aja dari jauh, minimal lo tau kalau Ares dan Anak ‘lo baik-baik aja di dalam perlindungan Jordan.”
“Ah… Jordan,” Marco terkekeh lagi, suaranya samar-samar bergetar, “sepertinya sesusah itu buat gue perbaikin semuanya,” ujarnya.
“Belum dicoba.” Kata Kala.
“Mau kemana?”
Marco bangkit buat Kala lempar tanya, si Enigma rapikan tatanan pakaiannya yang sebetulnya tetap berantakan, hela napas panjang sebelum beranjak.
“Bunuh diri.” Katanya.
“Gila.” Rutuk Kala.
“Gue udah janji untuk gak pernah tinggalin Ares, Bang, gue gak akan ingkar.”
“Gue siap, sekalipun nyawa sebagai taruhannya.”
Semalam Niki datang ke mimpi Ares, dengan senyum tipis yang singkat, lalu lenyap bersama alih mimpi yang buat Ares terjaga seketika, Marco meregang nyawa dalam mimpinya.
Peluh basahi sekujur tubuh, deru napas buatnya sedikit pusing sebab terburu, debar jantungnya berpacu, nyala lampu benderang tak mampu mengusir ketakutannya.
Bisa-bisanya Ares ditempatkan pada situasi yang mencekik kewarasannya seperti ini, tangisnya mengudara saat begitu banyak rasa ingin bertemu dan bertatap muka dengan sang Enigma, namun sisi lain dirinya memaksa Ares ‘tuk sembunyi, bayangan-bayangan rasa sakit dan ujaran kebencian buatnya hampir tak mampu bedakan mana yang nyata dan mana halusinasi semata.
“Jordan.”
Sahabatnya itu menoleh, balas pandang Ares yang datang temuinya di ruang kerja.
“Kamu sibuk?”
“Nggak kalau buat ‘lo, ada apa? duduk, Res.”
Ares limpahkan beban tubuhnya di kursi tepat bersela meja kerja Jordan, bawa pandangnya jatuh pada aksa sang sahabat yang tatapnya fokus.
“Aku mau tanya sesuatu, tapi aku mohon kamu jangan marah,” pinta Ares, pilin fabrik satin yang balut tubuhnya.
“Gue ngga akan marah, jadi tanya apa aja, jangan nunduk, lo nggak perlu sungkan sama gue.”
jordan selepas malam itu jadi semakin protektif pada Ares, isi bicaranya selalu perihal bagaimana memastikan Ares aman dan nyaman.
Dan itu artinya, apapun yang tidak berhubungan dengan Marco, tentu saja.
“Soal Marco.”
Tatapan Jordan segera berubah, tatapannya berubah lebih tajam.
“Dia ganggu ‘lo? gimana caranya dia, manjat ke kamar ya?”
Ares menggeleng, “enggak, Jo, nggak gitu,” katanya.
“Lantas?” tanya Jordan, sudah sempat panik dan siap menghajar Marco.
“Kenapa kamu kasih tau semuanya? maksudku, aku udah bilang kalau Marco nggak perlu maksa untuk melawan amnesianya, ‘kan?”
“Tapi semua udah telat, dia udah ingat.”
Ares termenung begitu mendengar jawaban Jordan, tatapan sang sahabat jelas nampak tak suka dengan topik yang ia bawa.
“Maafin aku.”
“Kenapa jadi ‘lo yang minta maaf?”
Ares balas tatapan Jordan, menghela napas dengan tangan reflek mengusap perutnya.
“Semua ini nggak akan terjadi kalau aja aku nggak memilih untuk jadi pembunuh.”
Jordan marah dan Ares tau itu, tapi fakta lebih menikam daripada hujam belati, nyatanya apa yang Ares katakan adalah sebuah kebenaran.
“Gak bisa ‘kah ‘lo anggap semuanya udah adil?” tanya Jordan, penuh penekanan.
“Jangan lupa Marco udah bunuh bayi yang pertama kali lo kandung dulu,” katanya.
“Kalau bicara soal dosa, anggap aja kalian setara dan ya udah, mau lo apa lagi sekarang?”
“Jo…” lirih Ares melas.
“Lo mau ketemu Bajingan itu? lo mau kasih dia kesempatan untuk dengan mudahnya dimaafkan? lo akan ngelawan trauma lo untuk ngebiarin si Setan itu bisa menikmati harinya besok dan seterusnya bareng lo seolah gak pernah terjadi kekacauan di antara kalian?”
“Gitu, Res?”
“Aku— ”
“Dia berhasil mengubah ‘lo jadi orang yang jauh berbeda dari Ares yang dulu gue kenal, dan itu udah cukup jadi sakit hati yang besar dari hidup gue sebagai sahabat yang dari kecil bareng sama ‘lo, Ares.”
Ares menunduk saat biarkan Jordan terus mencecar dan suarakan patah hatinya perihal apa yang menimpa hidup Ares berkat tangan Marco yang berbalut dendam dan kebencian.
“Kalau lo izinkan gue bahkan gue siap ikut jadi pembunuh untuk anterin nyawa Marco ke Neraka sekarang juga.”
“Jo!”
“Stop membela dia, Res, dia itu—”
“Enigma-ku, Jo!”
Pandangan Ares penghujan balas badai dari amuk emosi dan amarah Jordan.
“Bajingan itu, Enigma-ku!”
Walau napas serasa tersendat, tak Ares biarkan semuanya berakhir tanpa hasil.
“Marco itu, Ayah-nya anakku.”
Nan menggebu Ares suarakan fakta lainnya, yang buat Jordan sontak tergugu, diam membisu. Isi kepalanya rancu, hatinya penuh sembilu, bingung harus bagaimana, hanya sedih dan kacau yang Jordan tau.
“Ares…”
“Aku menderita, Jo.”
“Setiap malam dengan mimpi buruk, setiap hari dengan perasaan yang kacau, aku sedih, aku mau nangis tapi aku harus ingat kalau aku hamil, aku harus sehat, tapi mentalku rusak!”
“Aku berantakan, Jordan.”
Tertunduk jatuh kepala Ares, biarkan titik-titik air mata berjejak pada perutnya yang dibalut satin biru itu, sewarna dengan kondisi hati Ares yang penuh sembilu.
“Semuanya sampai hari ini membuat aku sadar, kalau aku ketakutan, Jo.”
Rautnya putus asa, usaha ‘tuk berikan kebebasan pada hidupnya untuk lepas dari belenggu sesak yang menghimpit dada.
“Berada di dekat Marco memang membuatku takut, tapi jauh-jauh dari Enigma-ku itu membuat aku lebih berantakan, yang aku butuh cuma hidup yang bersedia menghidupi aku.”
“Jadi, lo mau ketemu Marco?”
Ares diam sejenak, sebelum akhirnya bersua;
“Aku akan tunggu Dia, meski nggak tau apa lagi yang mungkin akan terjadi, yang kutau semesta selalu punya jawab untuk setiap tanya, kalau Marco akhirnya ingkari janji, maka aku yang akan tepati, Aku akan berhenti.”