Hinandra
5 min readJun 23, 2023

KARMA : Bloody Bet.

Marco tidak membalas pesan dari Jake, sebab lebih dulu terperangkap dalam kecemasan yang tiba-tiba langsung menyergap, dingin telapak tangan, bergetar hingga jatuhkan ponsel, suara benturan benda pipih itu pada lantai menggema di pendengaran.

Marco menoleh cepat, tiba-tiba merasa begitu ketakutan, langkah ia bawa serampangan, berlari ciptakan suara rusuh buat gema sepanjang jalan, mendorong pintu kembar yang seketika biarkan pandangan kembali jatuh pada brankar yang dimana Ares masih berbaring disana.

Marco langsung menutup pintu, menguncinya dari dalam, menyandarkan tubuh dan merosot terduduk, payah. Marco memang telak telah kalah, bagaimanapun kejamnya ia, telah tak lagi mampu bantah fakta bahwa ia pasrah.

Ares membawa hatinya tertidur lelap.

Namun bagaimana ini?

Bagaimana bisa Marco biarkan Jordan membawa Ares-nya pergi?

Mungkin ini adalah cara Tuhan menunjukkan bahwa Marco tidak bisa mengatur Takdir, bahwa Ares berhak atas kehidupannya tapi Marco ingin egois, Marco akan pertahankan Ares tetap berada di sisinya.

“Ares.”

“Omega,” lirih Marco, dekatkan diri dengan telinga sang empunya, kemudian berbisik.

“Ayo bangun. Ayo bilang ke Jordan, kalau ‘lo mau disini sama gue.”

“Ares, — ”

toktoktok!

Cepat Marco menoleh ke pintu, lantas kembali tatap wajah pucat Ares yang masih lelap tertidur.

“Marco, Ada Jordan mau ketemu sama ‘lo.” Suara Kala terdengar sedikit teredam.

Sejenak Marco memejam lamat dan menghayati sakit kepalanya berdenyut di pangkal hidung kemudian mengambil napas panjang dan buka sepasang netra itu, menatap lagi Ares yang bernapas damai.

“I would sacrifice anything to make you stay, Ares.”

“Lo pikir gue bisa biarin Ares terus-terusan menderita di bawah kaki lo, Co?” tanya Jordan dengan seringai sarkas dan sorot mata tajam yang khas.

Sangat Jordan sekali. Namun Marco jelas tak gentar, tapi tetap sadar bahwa ini adalah Jordan, satu-satunya Manusia yang akan selalu menjadi benteng terkuat untuk Ares.

“Kami Mate, Jordan.” Ucap Marco.

“Omong kosong,” balas si Alpha.

Mereka hanya berdua di dalam ruangan itu, Jordan sengaja meminta satu ruangan khusus untuk bicara saat Marco menggiringnya untuk Diskusi.

Diskusi, tawar menawar Takdir.

“Kenyataannya bahkan ‘lo gak pernah melakukan yang selayaknya Mate lakukan; Marco, lo cuma membunuh Ares, dan lo gak mungkin serius dengan ‘penyesalan' itu, toh apa gunanya? Ares koma lagi dan itu karena apa kalau bukan karena dia capek, Co? Dia capek hidup di bawah siksaan yang lo kasih ke dia.”

“Lo bener-bener Monster.”

Marco menghayati setiap kata yang Jordan lontarkan untuk merealisasikan emosi dalam dirinya, Marco bisa mengerti bagaimana rasanya, sebab, apa yang Jordan rasakan ini, Marco rasakan pula dahulu, saat dimana ia kehilangan Niki.

“Gue akan bawa Ares.”

“Gak bisa.” Sanggah Marco.

“Kenapa lagi, sih, Bangsat?!” kesal Jordan.

“Belum puas ‘kah lo nyakitin dia? Apa belum selesai acara balas dendam lo sama Ares yang udah bunuk Niki?!”

“Co—”

“Bukan.” Kata Marco menyela.

“Lantas kenapa? Udahlah, Co! Udah cukup, biarin Ares bebas, dia gak akan pernah sembuh selama dia masih ada sama ‘lo!” amuk Jordan putus asa, kesal, marah, benci dan muak.

Selalu setiap kali dapet kabar soal Ares, pasti sakit lagi, sakit lagi.

“Apa lo bisa pastiin dengan bawa dia jauh dari gue maka dia akan sembuh?!” bentak Marco balik.

“Jordan, apa lo bisa pastiin setelah Ares jauh dari Mate-nya maka dia akan hidup dengan baik?!” ujarnya keras dengan tatapan menuntut.

Emosi Marco sang Enigma menekan pertahanan Jordan, hingga Alpha itu lantas mundur. Menatap Marco tak gentar namun sulit rasa ‘tuk bersuara.

“Tapi… kenapa lo mau Ares tetap disini, Co?”

“Gimana bisa gue biarin Ares di bawah kuasa orang yang justru selalu memberikan rasa sakit ke Dia?”

Marco mengerti. Bagaimana sulitnya menerima Takdir yang rumit ini.

“Kami Mate, Jo.”

“Gue dan Ares, kami Terikat, dan ‘lo tau sendiri gimana akhir untuk Mate yang dipisahkan.”

“Lo takut mati?” tanya Jordan, dengan seringai meremehkan.

“Lo takut Mati ‘kan, Marco? Lo akan terus menyakiti Ares tanpa membunuh dia, karena tau kalian adalah Mate, jadi selama Ares hidup, lo akan tetap hidup untuk terus bisa menyiksa Ares, betapa Kejamnya ‘lo Marco.”

“LO GAK BERHAK MENGHAKIMI GUE, JORDAN!” teriak Marco membalas.

“TERUS APA HAK LO MENGHAKIMI ARES, MARCO?!” balas Jordan, dengan emosi meninggi.

“LO MONSTER! LO KEJAM, IBLIS!” hardik Jordan.

“STOP!” teriak Kala, yang berlari dan menyela di antara Marco dan Jordan yang sudah jelas sekali siap saling tikam.

Jake dan Nicholas berdiri di ambang ruangan tanpa pintu itu.

“Cukup!” bentak Kala.

“Cukup sudah semua ini, Marco, Jordan!” imbuhnya penuh penekanan.

“Selama kalian terus egois dan gak mau mikirin keadaan Ares, kalian gak akan pernah nemu jalan keluar!” ujar Kala dengan wajah serius.

“Daripada memperebutkan Ares harus pergi atau tetap disini kenapa gak kalian berdua berbaikan? bergabung buat jagain Ares, buat nuntun Ares kembali, bangun dari Koma dan Hidup sebagaimana mestinya, kenapa ribut lagi dan ribut terus!?”

Jordan dan Marco menunduk dalam, benar. Memang ucapan Kala tak salah, tapi amarah menuntut keadilan.

“Ares harus jauh dari dia, Bang,” kata Jordan dengan sinisnya menunjuk Marco yang bergeming.

“Jo…” lirih Jake yang lantas mendekat, mengusap bahu Jordan, berharap sang Alpha bisa sabar ditengah tekanan situasi ini.

“Jake… Ares udah ngga akan sanggup lagi—”

“Jo, inget! Ares nggak mau pisah sama Marco di hari itu, Ares nolak untuk dipulangin, inget!” kata Jake dengan kalimat payah bersela air mata.

“Tapi—”

“Alpha, please… Kasihan Ares,” lirih Jake kemudian.

Jordan buang muka, dan ngehela napas jengah.

“Gue minta maaf.”

Tanpa disangka, Marco tiba-tiba sudah berdiri di sebelah Kala, lebih dekat pula berhadapan langsung dengan Jake dan Jordan.

“Gue nggak berhak menghakimi Ares, gue dibutakan oleh dendam dan sakit hati, maafin gue.”

“Percuma, lo sama Ares sekarang malah lebih jahat ‘lo, Co, lo lebih sinting daripada Ares yang egois, lo lebih arogan daripada Ares yang— ”

“Jordan, cukup!” Jake menyela, lagi.

“Jake!” bentak Jordan tak sengaja.

“Semua nggak akan pernah selesai kalau kalian sibuk ribut!” ujar Nicholas.

“Cukup, udah. Ares nggak butuh keributan kalian, yang Ares butuhkan itu semangat Hidup, bukan suasana yang membuat Ares merasa lebih baik untuk Mati daripada bertahan.” Kata Nicholas, pada Jordan dan Marco, Jake bahkan Kala.

Hingga sampai pada saat Marco kembali bersitatap dengan Jordan.

“Biarin Ares tetap disini. Gue nggak akan membatasi waktu kalian untuk bisa ketemu Ares, serius.”

“Alasannya?” tanya Jordan, “kasih gue alasan untuk percaya sama ‘lo, Marco.” Tambahnya penuh penekanan.

Sejenak Marco menatap Jake, sebelum akhirnya menjawab teguh, bahwa;

“Gue mencintai Ares. Dan itu, bukan omong kosong.”

“Jadi, ayo kita bertaruh, Jordan.”

Raut wajah tak percaya Jordan seketika berubah, “bertaruh?” tanyanya jelas nampak tertarik.

Dengan sekali tarikan dari saku celana dan— crass!— darah pekat mengalir jatuh dari luka sayat di telapak tangan Marco, akibat goresan pisau lipat yang dia simpan dalam sakunya.

Semua mata terperangah, tak terkecuali Jordan sendiri; menyaksilan tetesan darah Marco jatuh menyentuh lantai.

“Biarin Ares tetap disini, sama Gue.” Ujar Marco.

“Ngga akan ada lagi balas dendam dan penderitaan, gue akan berusaha menyembuhkan Ares.”

“Kalau lo ingkar dan gagal, apa taruhan lo?” tanya Jordan.

“Nyawa.”

—to be continue.

No responses yet