Hinandra
5 min readSep 3, 2023

KARMA : Belief.

"But i believe that there is something about You and the two of Us. I was trapped in the Darkness of Oblivion, but you become the Sun that lifted my Darkness."

"Ares, even if i had to be burned by that light, now i know what i have to do. I know."

“Following the Fate and We’ll draw the New Line.”

"It’s you and me in this World, I found you, Omega."

“Hhhhh!”

Langsung duduk setelah berhasil terbangun dari mimpi buruk kesekiannya, kali ini, satu Purnama terlewati, Bulan Biru berganti Bulan Baru, dan Marco masih belum tunjukkan bagimana ia realisasikan janjinya untuk tidak pergi.

Rasanya setengah tak percaya, bahwa Ares menanti dalam kebimbangan hati, apakah Marco akan kembali, sekalipun Ares nampak begitu membenci, namun Ares tak ‘kan berhenti untuk percaya, sekalipun sulit rasanya diterima akal.

Marco bisa jadi menyerah dan Ares benar-benar harus menepati janjinya sendiri.

“Marco…” lirih Ares dalam bersandarnya pada kepala ranjang.

Benderang kamar kembali peluk jiwa yang bersedih, usap lembut perut yang sedikit nyeri akibat tersentak bangun dari mimpi, entah kenapa tiba-tiba juga teringat Niki, bagaimana ya kabarnya kini?

“Andai ada cara untuk bisa terhubung dengan kamu, Niki.”

“Tapi aku harap kamu selalu bisa mendengar ceritaku.”

“Malam ini aku pikir Marco sudah menyerah, setelah mengingat segalanya, barangkali Marco memilih pergi ketimbang kembali, meski aku terlihat benci, sejatinya aku cuma takut, Niki, tapi tanpa Marco disini, nyatanya terasa lebih nggak aman lagi.”

Senyum sendu terukir kembali, balut duka yang tak kunjung terobati, ada rindu yang menumpuk tinggi sekali, ruang hatinya hampa tanpa Marco disisi, beginikah cara Tuhan membuat Ares menebus Karma-nya lagi?

Kalau begitu, biar Ares rayakan semuanya malam ini.

“Jangan takut, ya, Anakku.”

Sejenak Ares berpikir, lalu terkekeh disela air mata, “harus ku sebut apa diriku sendiri nanti? terlalu aneh kalau disebut Bunda, atau Ibu? Mama? Ah, aku ini tetap alpha walau perutku sekarang ada bayinya,” kelakarnya usahakan hibur diri sendiri.

“Tapi masa Ayah? nanti kalau ditanya, ‘ibuku kemana?’ aku jawabnya gimana?”

Ares tergelak tanpa suara, usap-usap perutnya, andai bisa ia kecup, atau bisa Ares peluk, tapi mungkin akan jadi begitu hangat saat Marco yang melakukannya.

Ahh, lagi-lagi Pria itu.

“Ayahmu orang yang keras, Nak.”

Entah apa, tapi Ares mulai cerita.

Menggambar segala Marco dalam ingatan, melukis semua Marco dalam bayangan. Menceritakan Pria-nya pada si Kecil yang hidup dalam dirinya kini.

“Marahnya besar, amuknya riuh, seperti badai, seperti hujan dengan guntur dan kilat, seperti mendung yang mengabu langit biru, Ayahmu, seperti itu.”

“Dan aku, adalah bumi yang dilewati Ayahmu, aku adalah dataran yang dilahap badainya Ayahmu.”

“Nak, kelak kamu akan tau, setiap Badai akan usai dan hilang, namun tinggalkan kekacauan, kehancuran.”

“Sama halnya dengan aku, kamu tau? Meski menuturkan seberapa kacaunya kombinasi Ayahmu dan Aku, kami tetap Mencintaimu.”

tuktuktuk…

Sontak saja Ares tolehkan kepala, ke pintu kembar yang terturup tirai arah balkon.

tuktuktuk…

Bagi Ares yang penakut, ini benar-benar buatnya siaga, siap panggil Jordan kalau saja yang mengetuk bukanlah tokoh dari ceritanya.

“Kakak?”

Marco berdiri bodoh dibalik pintu, tatapannya jatuh pada sekujur tubuh Ares yang nampak baik-baik saja, terutama perutnya yang mulai buncit dan bagaimana suara itu samar terdengar dari luar.

Tapi Ares tak lagi tantrum saat berhadapan dengannya.

“Ares, Kakak rindu.”

Empunya nama termenung di dalam sana, air matanya dengan cepat berlomba siap terjun bebas suarakan hasrat asa yang terjawab sudah pada akhirnya.

Keyakinan membawa temu, membasuh rindu.

Marco tak berharap apa-apa dari usahanya sekalipun ia akan ditembak mati oleh Jordan kali ini, Marco siap setidaknya hal terakhir yang ia lihat semasa hidupnya adalah Ares yang mengandung Anaknya.

“Boleh masuk?”

“Boleh…”

“Tapi nggak apa-apa diluar aja, kamu jangan buka pintu, Kakak takut kamu jadi kenapa-napa.”

Marco menahan Ares yang hendak buka pintu untuknya, Marco sadar bahwa kondisi Ares bisa berubah kapan saja, terutama ini adalah dirinya, Trauma dalam hidup Ares.

“Tapi diluar dingin.”

“Nggak masalah, daripada kamu yang sakit, Kakak ngeliat kamu dari sini aja udah seneng.”

Karena Marco tau, kepalan tangan Ares ialah untuk meredam vibrasi dari reaksi psikologisnya, tentu saja.

“Jangan ditahan, kalau kamu gak bisa, Kakak pamit.”

“Jangan!” larang Ares.

Tangan kanannya balut dinginnya pintu kaca, “jangan pergi dulu,” katanya.

Tangan yang bergetar, bersentuh payah berbatas bening dengan telapak tangan Marco.

“Kakak…” lirih Ares.

“Iya?”

“Aku juga rindu.”

Marco tersenyum, perlahan rasakan sepasang matanya panas dan napasnya berat, lemah, ia mulai payah menghadapi kehidupan sejak rela dijatuhkan pada tawanannya sendiri.

“Gimana kabarnya?”

Ares pahami pandang Marco jatuh pada perutnya, “nggak tau, dia belum bisa bicara,” katanya.

Marco tergelak tanpa suara, “tapi gimana rasanya? kamu, nggak kesakitan atau kelewat lelah ‘kan?” tanyanya, lagi.

Ares menggeleng, “aku cuma… sering mimpi buruk,” katanya.

“Dan menangis, dan merindukanmu.”

Riuh gemuruh dada Marco, rasanya titik penghidupannya tak pernah beri bukti bahwa nyala jiwanya masih segemerlap ini karena siapa lagi kalau bukan Ares dan kejujurannya yang cantik.

Walau dalam upaya perangi getar telapak tangan, pula gejolak rusuh trauma dalam dirinya.

“Kakak akan cari cara, supaya bisa menebus semuanya.”

“Aku mohon jangan terluka.”

Marco terdiam, terbawa lena akan kasih dari Ares yang tak pernah putus sekalipun situasinya sesulit ini.

toktoktok…

“Jangan pergi…”

Ares memohon, namun Marco tak punya pilihan, menarik telapak tangannya untuk beranjak mundur saat ketukan pintu diluar kamar Ares terdengar semakin menuntut.

“Nanti Kakak datang lagi, tolong jaga diri baik-baik, dan percayalah Kakak Cinta kamu, Ares.”

Belum sempat Ares menjawab, Marco sudah melompat dari balkon dan turun lewat pohon dan berlari pergi sebelum ketauan.

Ares berbalik, menghela napas panjang dan mengusap dadanya yang berdebar kencang.

“Ada apa, Jordan?” tanyanya semasa bukakan pintu.

“Dimana dia?”

“Di-dia?”

“Marco.”

Berat ludah tertelan, Jordan tau, bagaimana mungkin?

“Setelah semua yang tejadi, mana mungkin gue biarin rumah ini tanpa pengawasan, kenapa dia pergi? Bukannya ‘lo mau bareng sama dia?”

“Jo…” Ares jadi takut, lama-lama Jordan seperti seperti seorang Ayah yang begitu protektif pada anaknya.

“A-aku…”

“Terserah aja mau gimana nantinya, Res, yang gue minta cuma satu, sembuh dulu. Lo gak akan bisa terbang dengan satu sayap yang terluka.”

Jordan menariknya ke dalam pelukan, biarkan Ares rasakan dalam hela napas Jordan juga pelukan yang mengerat.

“Sejauh dan seketat apapun cara gue menyembunyikan ‘lo dari si Bajingan itu, gue akan kalah sama Takdir, Res.”

“Lo boleh balik sama Marco, tapi janji sama gue untuk cukup sudah semua kesakitan ‘lo, sekarang waktunya hidup lebih baik, lebih bahagia.”

Karena Ares tak tau lagi harus jawab dengan kalimat apa, yang bisa Ares lakukan hanya balas rengkuh Jordan sama erat dan sandarkan lukanya pada sang sahabat, setidaknya Ares punya esok yang lebih tertata untuk sembuh dari trauma, untuk mengizinkan dirinya merayakan hidup yang normal bersama sang Enigma.

‘Ayo kita usahakan janji itu, Kak, aku akan sembuh, untuk kita kembali Utuh.”

—to be continue.

No responses yet