kaisar–rigel; random talk.
Sumpah, Rigel tuh gak habis pikir banget sama apa yang dia ceritakan ke Kaisar tadi; kayak, bener-bener nyesel banget karena mood dia rusak setelah ngeliat tweet tidak bermoral itu, sakit hati dan sedih banget membayangi Rigel sampai gak bisa tidur hingga Kaisar benar-benar pulang entah berapa menit setelah pesan balasan terakhir Rigel.
toktoktok! pintu kamar Rigel diketok dong sama siapa lagi kalau bukan Kaisar?
“Gel, bukain,” sua Kaisar dari luar sambil sesekali terdengar nyedot ingus padahal gak ada, terus bersendawa macam orang-orang habis minum pada umumnya.
“Tidur di kamar sendiri aja, Mas,” sahut Rigel yang tetap 50% mager bukain pintu.
“Bukain, Gel,” tapi Kaisar malah kukuh dong, mau nginep padahal kamar mereka dempetan banget, edan.
Rigel akhirnya bangkit, jalan males dan bukain pintu. Begitu berhadapan udah bisa cium aroma alkohol menguar dari tubuh si maniac kopi.
Beberapa saat kemudian tau-tau Rigel udah ada dalam pelukan Kaisar.
Mana Rigel pasrah aja lagi di kekep padahal gak dingin, tapi suka aja gitu dipeluk Kaisar.
“Tidur.” Kata Kaisar.
Dia cuma dateng, meluk Rigel, dan bernapas, udah, gitu doang.
Padahal Rigel udah mikir kemana-mana, ya jangan salahkan, suruh siapa tweet bejingsot itu muncul di pencarian?
“Nggak bisa tidur,” lirih Rigel, yang dia rebahan berbantal lengan Kaisar, tapi Mas-nya dipunggungin, soalnya kalau berhadapan jantung Rigel bisa meledak.
“Lo masih kepikiran yang tadi?”
“Hu-um.”
“Serius?”
“Iya…”
Sahutan Rigel terdengar sedih banget, terus saat dia berusaha menghayati rasa prihatinnya, Kaisar memeluknya dari belakang, ngebawa tangannya melingkari pinggang Rigel dan ditarik mendekat sampai dempetan, waduh, waduh, kacau.
“Gausah mikirin yang nggak seharusnya ‘lo pikirin nanti asam lambung lo naik karena stress.”
“Udah,” sahut Rigel.
“Udah apa?”
“Udah naik.”
Kaisar terdengar mendengus, lalu mengusalkan hidungnya di rambut Rigel yang selalu wangi, wanginya itu macam madu, manis dan sejuk, fresh, lembut, buat Kaisar selalu ingin mengusak rambut Rigel.
Gemas.
“Lo tau, Gel?”
“Apa?”
“Kadang ada hal-hal yang sangat-sangat memprihatinkan dan harus kita lihat tanpa disengaja, dan kita nggak bisa berbuat apa-apa, cuma untuk tau kalau nyatanya dunia ini memang sebajingan itu,” ujar Kaisar terdengar santai dengan nada bicara setengah mabuknya, namun nyata pula terasa isi dari kalimatnya.
“Hati lo sakit dan sedih, itu wajar, ambil sisi positive-nya, perasaan lo masih bekerja dengan baik,” ucap Kaisar kemudian.
Sebab entah sudah kapan kali terakhir Kaisar menangis untuk kesedihan dan sakit hati; sudah lupa kapan kiranya perasaannya mati.
“Tangisan adik itu masih kebayang-bayang sampai sekarang, please, Mas, gue sedih banget, rasanya langsung prihatin banget, tapi lo bener, gue nggak bisa apa-apa, dan entah sudah jadi seperti apa mental anak itu sekarang, gue — gue…”
Pelukan Kaisar mengerat saat Rigel mulai terbata saat bicara, betapa bapernya cowok yang lebih muda darinya itu; Kaisar dan Rigel adalah dingin dan panas yang berlawanan, si beku dan si hangat yang bertentangan.
“Ssst, jangan overthinking, berhenti mikirin itu,” kata Kaisar.
Rigel mendorong tubuhnya membuntal dalam pelukan Kaisar, biarin punggungnya bisa merasakan detak jantung yang lebih tua.
Kaisar mungkin mencoba mengerti, namun kebaperan Rigel tak hanya karena prihatin biasa.
Ini karena lebih dari itu, Rigel adalah salah satu manusia yang pernah ada di posisi yang sama di masa kecilnya namun dengan kasus yang berbeda, tinggalkan trauma besar hingga masa remaja dan beranjak dewasa.
Rigel adalah bintang yang jatuh untuk mati lebih cepat;
“Mas.”
Rigel bersyukur dia membelakangi Kaisar, sehingga cowok Libra itu gak akan melihat air matanya.
“Iya?”
“Makasih udah pulang.”
Kaisar gak menjawab, tapi Rigel tau cowok itu belum tidur.
“Peluk gue sampai tidur ya, Mas?” Pinta Rigel sambil tunggu sahutan Kaisar untuk setelahnya menutup mata.
“Gue peluk sampai pagi, gue disini, Rigel.”
Tapi sedingin dan sebeku apapun perasaan Kaisar, satu yang bisa membuat dia percaya bahwa hatinya gak pernah mati cuma untuk mencoba memahami Rigel dan segala macam berisik di kepalanya;
Dan Kaisar pun bisa takut, bisa lemah, bisa gila tapi Kaisar bakal usahakan seberani, sekuat dan sewaras mungkin, apapun itu, demi Rigel;
“Lo aman sama gue.”