Hinandra
8 min readNov 9, 2024

jatuh cinta tapi marah.

Hari ini Jay pergi survey lapangan lagi bersama Heeseung. Mereka pergi naik bus, padahal ada mobil kantor. Sampai detik ini Jay masih gak ngerti kenapa Heeseung lebih milih bus atau kereta setiap pergi untuk survey lapangan, padahal kemungkinan berdesakan dan bahkan harus berdiri di kereta itu seringkali terjadi, seperti saat ini. Jay harus nemplok ke dinding kereta supaya gak kegencet orang-orang, jam kerja itu ramai banget, Heeseung aja tadi sempat ilang terbawa arus ramainya orang yang bepergian di dalam kereta itu. Seorang siswa SMA nyenggol Jay sampai hampir terjerembab tapi entah datang darimana Heeseung menahan punggung Jay, terus memutar posisi berakhir Jay harus merelakan punggung nya membentur dinding kereta dan Heeseung berdiri di depannya.

Jay itu orangnya gak neko-neko, mikirnya juga gak yang berlebihan atau gimana, tapi Jay gak tau kenapa akhir-akhir ini dia suka ngerasa geli dan gak sanggup natap Heeseung kalau ada di jarak sedekat ini. Jay jadi bingung kenapa dia sampai harus menghindari tatapan Heeseung cuma karena dia ngerasa itu bikin jantungnya ribut gak jelas. Bukan perkara naksir atau apa, begitu liat wajah serius nyaris kaku Heeseung, Jay langsung inget betapa benci nya dia sama pria tiga puluh tahun itu. Enam bulan bekerja bareng, udah berasa enam tahun bagi Jay, aura mudanya seakan terpangkas begitu cepat hanya dengan menjadi bawahan Heeseung.

Dug!

Oh! Seseorang terdorong sampai menabrak punggung Heeseung, buat dia reflek berpegang ke dinding, tepat di sisi kepala Jay, ngagetin aja.

“Hati-hati dong, Pak.” Ujar Jay, gugup.

“Karena itu saya berpegangan.” Jawab Heeseung, begitu dekat, begitu menusuk.

Sepanjang mata memandang cuma ada punggung orang-orang yang saling bersundulan. Kereta terus berjalan ke tujuan, Jay pengen banget kentut rasanya, waktu dia bisa denger suara nafas Heeseung. Jantung Jay berdebar kencang, seakan bisa merasakan nafas Heeseung mengalir mengisi rongga-rongga dalam tubuhnya. Auw!

‘Ini serius gue harus ngerasa kaya begini? ini si boss loh? Jay! lo bahkan pernah saling sundul sampai benjol sama dia tapi gak berdebar seperti ini yang lo rasain! bodoh, ini gak enak banget, gue gak mungkin bener-bener jadi gila sepenuhnya karena jatuh ci—aaaaa! nggak, nggak! mana mungkin begitu! gak akan pernah, Jay! tck! sadar, sadar! dia Lee Heeseung yang sama yang lo benci setengah mati, inget itu baik-baik!’

“Merah.”

“Huh?”

“Wajahmu merah.”

Tap!

‘WOIY WOIY WOIYYY?!!! DI- DIA… DIA NGAPAINNNN???!!!’

Jay begitu panik dalam hati, mulut nya menganga kecil dengan mata bersorot kaget, tubuhnya kaku, Heeseung tiba-tiba maju dan menempelkan dahi mereka, mata yang tajam itu juga gak henti menatap Jay, begitu dekat, saking dekatnya, Jay sampai benar-benar bisa merasakan nafas hangat Heeseung di wajahnya.

“Kamu tidak panas.”

“Tapi wajahmu semakin merah.”

‘HHA — HAAAAHHHHHH?!!!!!!’

Ekspresi Jay berubah perlahan menjadi ngeri, begitu dia melepaskan diri, langsung buang muka dan bernafas brutal, megang dada yang berdebar kencang, sialan! Heeseung masih dengan ekspresi datarnya, tapi waktu Jay malah memalingkan wajah, itu membuat Heeseung bingung.

“Kamu demam?”

Suara Heeseung membuat Jay merasa kesal setengah mati, suaranya yang datar itu dia lontarkan bersamaan kalimat singkat yang membuat Jay merasa resah, ‘DIA KHAWATIR APA GIMANA SIH?!’ tidak ingin salah paham, berharap pada orang yang salah itu hasilnya cuma sakit hati.

“Saya baik-baik aja, Pak. Gak perlu khawatir.”

Heeseung juga bukan tipe orang yang bertele-tele, kalau dia udah dapet satu jawaban itu artinya dia bakal meyakini jawaban itu dari dua pihak dan selesai. Begitu Jay bilang dia baik-baik aja, Heeseung langsung percaya. Walau masih kurang paham kenapa wajah anak itu begitu merah saat cuaca nya cukup sejuk bahkan terbilang mendung berangin dingin.

Seperti biasa, Heeseung akan keliling lokasi untuk menelaah segala aspek yang diperlukan untuk produksi iklan sesuai permintaan klien. Dan Jay akan jadi anjing kecil penurut yang selalu ikut kemanapun Heeseung pergi sambil mencatat segala macam hal yang ditunjuk atau dikatakan oleh Heeseung karena itu semua adalah point-point penting yang akan jadi daya tarik dalam proposal yang akan dibuat.

Dulu, Jay dimarahin habis-habisan waktu survey lapangan pertama mereka. Jay gak mencatat apapun, cuma ikutin Heeseung keliling, berpikir sang atasan udah bawa kamera, jadi gak perlu lah catatan lagi. Jay juga ambil gambar dan vidio di beberapa kesempatan. Tapi waktu mereka kembali ke kantor, Jay dimintai catatan mengenai segala hal yang ditunjuk dan dikomentari Heeseung selama survey lapangan, dan Jay jujur bilang dia gak mencatat apapun, gak mengingat satupun point yang dikatakan Heeseung, “menurut kamu apa hanya dengan sebuah gambar bisa menjelaskan fungsi atau kondisi produk? kita pergi survey lapangan untuk menganalisa setiap hal yang ada pada projek agar kita bisa menentukan hal-hal apa saja yang bisa menjadi daya tarik dari proposal yang nantinya kita ciptakan, tapi kamu sendiri hanya bermain-main dan ikuti saya kesana-kemari seperti anak anjing bodoh yang taunya hanya bilang ‘iya’ dan ‘tidak’.” Marah Heeseung yang membuat Jay menangis tersedu-sedu. Dan berakhir mengulang kegiatan survey lapangan mereka hanya untuk mencatat semua hal yang gak dilakukan Jay.

Mengingat kenangan buruk itu membuat Jay tersenyum penuh dendam dan menyalakan api kebencian di mata kucing miliknya, segera bertemu dengan punggung kokoh Heeseung yang sedang memandangi barisan bunga-bunga berbagai macam warna di hadapannya.

Tatapan kesal Jay perlahan meredup, tatapan nya menjadi fokus pada Heeseung yang kedua tangannya ada di dalam saku celana. Tumben foto-foto nya dijeda.

“Proposal kali ini, kamu yang kerjakan.”

Jederrr!!

‘KAN! APA KATA GUE, GERAK-GERIKNYA AJA UDAH ANEH, UDAH PASTI GUE LAGI YANG KENA INI!’

“Saya nggak bisa, Pak.”

Jay langsung ambil langkah mundur waktu Heeseung memutar posisi, padahal jauh, tapi ini karena situasi nya berat, Jay jadi ngeri. Perutnya mendadak kontraksi, mules banget, pengen kentut, bersendawa, muntah dan lain-lain. Benar-benar hari yang buruk.

“Kita sudah mengerjakan cukup banyak proposal sebelumnya. Apa yang membuat kamu berani untuk menolak?”

Aura yang kejam langsung menekan pundak Jay, tatapan yang tajam seakan bisa menguliti keberanian Jay.

“Sa- saya… anu… Saya masih ragu dengan kemampuan saya secara utuh. Saya mungkin bisa membantu Bapak selama ini. Tapi kalau untuk mengerjakan semuanya sendiri, saya takut saya akan merusak segalanya.”

‘KARENA LO BENCI KEGAGALAN! GUE JADI TAKUT SAMA REAKSI DAN KRITIK LO UNTUK PROPOSAL GUE!’

‘Lo pasti bakal terus tuntut gue berkedok nuntun, sampai proposal iklan ini jadi, terus begitu iklannya rilis, nyawa gue yang habis!’

Jay membayangkan prosesnya aja udah takut setengah mati. Tekanan emosional yang akan dia rasakan itulah yang membuatnya jadi lemah. Tuntunan Heeseung itu lebih seperti pelatihan militer, keras. Sementara Jay punya hati yang lemah lembut dan jiwa yang halus, gak bisa Jay tuh dikasarin atau ditekan-tekan gitu.

“Disini juga ada toko bunga di beberapa titik, jadi selain bisa menikmati pemandangan dari penataan bunga-bunga yang apik, pengunjung juga bisa beli bunga atau souvenir di toko-toko yang ada disini, Pak.”

Itu kata staff yang berkeliling bersama Heeseung dan Jay.

Staff cantik itu kemudian undur diri setelah tugasnya selesai, sisanya tinggal Heeseung dan Jay mau cari kebutuhan untuk proposal mereka sampai kapan. Yang jelas, perintah Heeseung tadi siang masih belum ketemu sama penyelesaian.

Jay disuruh ambil gambar, sementara Heeseung ambil posisi mencatat, ditukar. Katanya biar Jay juga belajar untuk memotret bahan proposal. Jay sih nurut aja, gak berpikir kalau sebenarnya Heeseung belum terima penolakan nya.

“Pak Hee — lah, kemana…” Jay menoleh, Heeseung nya ilang, waktu ditelisik, orangnya lagi mampir ke toko bunga. Jay memperhatikan raut wajah Heeseung yang kali ini terlihat lebih santai, walaupun bahasa nya tetap formal mampus bikin segan. Perlahan-lahan lensa kamera Jay membidik Heeseung, fokus pada pria dengan balutan jas kerennya, sekilas Heeseung tampak seperti Heeseung yang biasanya, si atasan yang selalu tampil rapi dan formal di mata Jay, dengan senyum mahal dan gurat serius di wajah gantengnya, bicara dengan florist yang menunjukkan beberapa jenis bunga, lalu dia sendiri menunjuk beberapa dan mengatupkan bibir untuk pasang atensi penuh pada sang florist yang sedang bicara entah apa.

Cekrek!

Mode ramah Heeseung pun terabadikan lewat lensa kamera yang fokus pada ekspresi kalem Heeseung saat menatap bunga-bunga yang dia pilih.

Cekrek!

Lewat lensa kamera itu, Jay bisa melihat bagaimana Heeseung memeluk dua buket bunga yang dia pesan. Perlahan memburam, bukan karena lensa kamera yang kotor tapi matanya yang panas dan berselaput bening, kristal basah yang perlahan berjatuhan dari matanya.

“Ah… astaga…”

Jay cuma bisa menggumam penuh kesal yang teredam, kamera menggantung di leher, tangan terulur naik mengusap basah di pipi yang nyata adanya, dada yang terasa nyeri dan panas, nafas yang untuk sejenak terasa begitu berat.

“Seharusnya… nggak begini…”

Heeseung yang merengkuh dua buket bunga itu menyebrang, kembali pada Jay yang melihatnya seolah jadi slow motion.

‘Ngawur, ini semua nggak mungkin kaya begitu, ‘kan? masa iya, Lee Heeseung? untuk semua pribadi gue yang sebelumnya memaki-maki dia, apa mereka gak akan mencela gue kalo tau apa yang sedang gue rasain sekarang? ini benar-benar memalukan, bahkan disaat cuma gue yang tau sendirian, apa-apaan?! konyol, ini dunia nyata! bahkan dalam fiksi pun gak segila ini, debarannya, bikin sesak, sinting! boss brengsek ini benar-benar bikin gue ikut gila! sekarang, gue harus gimana?’

“Kenapa kamu menangis?”

Jay menghapus air matanya dengan sapu tangan, “belum pernah liat taman bunga seindah ini di dunia nyata, jadi saya cukup terharu aja tadi, saya sudah ambil foto yang banyak dan bagus-bagus, Pak,” katanya, sekalian laporan, juga mengalihkan topik. Gak mau dikorek lebih dalam kenapa air matanya menetes begitu emo, soalnya Jay sendiri gak punya jawaban yang tepat untuk pertanyaan itu.

“Kamu sudah bekerja keras,” kata Heeseung tiba-tiba. Untuk pertama kalinya setelah enam bulan bekerja bersama.

Jay sampai bingung bagaimana menanggapi apresiasi Heeseung.

Tapi sebelum Jay sempat menjawab, Heeseung sudah meletakkan salah satu buket bunga yang dibelinya ke pelukan Jay.

“Ini untuk sampel?”

Heeseung menatap datar, lalu menggeleng, “untuk kamu.” Katanya.

Sontak membuat jantung Jay bereaksi cepat sampai buat dia sesak nafas, lagi-lagi merona merah.

“Lili oranye berarti kepercayaan diri, energi, kepositifan, kehangatan, walau saya terlihat cuek tapi selama ini sebagai seorang atasan, saya cukup memperhatikan kamu, Jay. Saya mau kamu membuat proposal kali ini dengan baik. Bunga ini untuk kamu, berhenti merasa takut dan berpikir apakah kamu bisa atau tidak, tetapi kamu harus, kerjakan, kerjakan, selesaikan.”

‘INI SERIUS DIA LEE HEESEUNG?!!!’

‘EH GILA GUE GAK MIMPI ‘KAN INI? DIA KASIH GUE BUNGA??? JADI DARI TADI NGOBROL SAMA FLORIST ITU DIA TANYA SOAL ARTI BUNGANYA? CUMA BUAT SEMANGATIN GUE??? SERIUSSSS???’

Teriak heboh dalam hati, tapi meluk erat bunga yang dikasih Heeseung sambil senyum terharu, bingung sama perasaan sendiri, berakhir dicuekin aja buat ngeliatin kalau bunga yang dia peluk itu nyata, juga Heeseung yang ada di depan matanya.

“Bunga ini untuk saya.” Kata Heeseung, kali ini gak tatap mata Jay. Meluk buket bunga yang satunya, yang dia pegang dengan satu tangan.

Tapi ngeliat matahari yang masuk melalui rumah kaca, membiaskan cahaya cantik membuat pemandangan jadi lebih indah berkali lipat.

“Astilbe,” gumam Jay, ngeliat bunga yang sama ada di depan mata, ada plat yang berukir identitas bunganya.

“Artinya apa, Pak?” tanya Jay, kepo.

“Aku akan menunggu mu.”

Deg!

“Hah?” Jay pun termenung.

“Itu artinya, ‘aku akan menunggu mu’ atau, ‘aku akan tetap menunggu’,” ujar Heeseung, lebih jelas, “tidak masalah kalau kamu gagal, kamu boleh datang pada saya, meskipun saya mungkin akan lebih sering marah-marah karena kamu mengulang lagi dan lagi, tapi semua keberhasilan terbentuk dari kegagalan demi kegagalan, jadi, saya akan menunggu kamu, sampai kamu berhasil.”

— to be continued.

Hinandra’s property.

No responses yet