Hinandra
5 min readNov 11, 2024

‘Jace to Suoh’ 🔞

Sudah satu pekan Suoh menjadi ‘penyihir’ yang bisa dengar suara hati dan pikiran orang yang disentuhnya. Kabar terkini, Suoh benar-benar lelah. Hidup menjadi Suoh yang sebelumnya saja sudah berat, sekarang ditambah harus menahan reaksi cepat tiap mendengar suara hati orang tanpa sengaja itu benar-benar menekan mentalnya.

Tapi yang jelas, dari semua orang yang dekat dengannya, hanya Jace yang paling Suoh hindari. Seniornya itu punya pikiran yang menakjubkan, sekaligus menakutkan baginya. Suoh akui dirinya juga paham hal-hal berbau erotisme, namanya juga laki-laki dan dia juga orang dewasa. Tapi baginya, bersenggama itu untuk dua orang yang saling cinta. Bukan sok polos atau apa, tapi Suoh memang kelewat gentleman aja, dia bahkan gak pernah nonton film porno, itu gak baik untuk kesehatan, tapi bukan berarti Suoh gak bisa sange. Suoh normal, sehat dan perkasa, karena itu dia sangat menghindari Jace.

Merasa cukup tau aja kalau Jace memang punya pemikiran yang diluar dugaan dan berusaha menerima kenyataan kalau Suoh jadi salah satu pemain utama fantasi liar sang senior. Berpikir, kelak kalau sudah saatnya pasti Jace akan berhenti.

Suoh kurang tidur, alhasil dia jadi agak loyo pas masuk kerja. Berniat untuk buat kopi, Suoh berpapasan sama beberapa pegawai wanita yang menyapanya, tersenyum paksa untuk membalas, gak mau merasa bersalah karena membuat senyum mereka redup. Memang sulit jadi laki-laki yang kelewat gentleman.

Suoh menguap dan meregangkan otot-otot nya sambil jalan masuk coffee station lalu — byurr!!

“Shh!! Panas!” keluh Suoh begitu liat tubuh bagian depannya tersiram kopi.

“Su- Suoh…” Jace, orang yang megang cangkir, kopinya di badan Suoh, mengotori kemeja biru langitnya.

Suoh yang baru sadar itu Jace langsung terkejut, “ah! Senior, maaf — ”

“Maaf, Suoh, saya nggak sengaja!” kata Jace dengan wajah resah. Gercep letakkan cangkir yang dia baca ke atas meja, lalu mengambil lap di dalam laci untuk membersihkan kemeja Suoh yang kotor, dari dada sampai perutnya, bahkan bagian atas celananya juga basah.

Suoh termenung begitu melihat wajah Jace terus pasang ekspresi resah, dengan cekatan menggerakkan tangannya menepuk-nepuk kemeja Suoh yang basah karena kopi.

“Shhh…” desis Suoh tanpa sengaja.

“Maaf! i- itu sakit ya?” tanya Jace, mendangak, Suoh berkedip kikuk seraya mengangguk canggung.

Grab!

“Kita ke ruang kesehatan aja!” kata Jace, pegang erat tangan Suoh, lalu diseret ke ruang kesehatan.

Lagi-lagi Suoh termenung, menatap tautan tangannya dengan Jace, Suoh bisa mendengar begitu jelas resah hati Jace tentangnya.

‘Astaga! bodoh banget, saya nggak fokus karena kepikiran Suoh kenapa ngehindarin saya terus! bukannya bikin situasi jadi membaik, saya malah nambah bikin masalah! sekarang Suoh pasti sangat benci sama saya!’

Begitu Suoh sadar, mereka udah di dalam ruang kesehatan, Jace masih narik Suoh menuju ke brankar di sudut, “Suoh, tolong buka baju mu,” kata Jace.

“Hah?!” panik Suoh.

‘KENAPA?! APA YANG MAU DIA LAKUIN?!’ heboh batin Suoh.

Jace pergi cepet banget terus balik lagi bawa mangkuk besi dengan lap dan air, “saya mau basuh tubuhmu, jadi lepas bajunya, ya?” ujar Jace, entah kenapa terdengar begitu lemah lembut.

‘TAKUT!’ batin Suoh ngegas.

“Su- Suoh…” ujar Jace, tangannya megang lap yang udah dia peras.

Menatap Suoh penuh harap, entah kenapa wajahnya merona, Suoh jadi kasian. Alhasil meski gemetar sekujur tubuh, Suoh tetap melepaskan kemeja kotor itu dari tubuhnya.

Dan Jace jadi semakin merona, begitu Suoh jadi shirtless di depan matanya, “be- benar, perutmu, sedikit melepuh,” ujar Jace, wajahnya sejajar dengan dada Suoh.

Empunya menahan nafas, tangan Jace mendekat dan — tap!

“Aah!” erang Suoh tanpa disengaja.

“Maaf! Suoh, maaf, saya nekennya kekencangan, ya?!” lalu Jace pun panik, mendangak menatap Suoh yang menahan nafas, hampir semaput.

Lalu reflek menggeleng, wajahnya merona, “sa- saya bisa sendiri,” katanya, ngambil lap di tangan Jace, tapi bukannya dapet lap, malah genggam tangan sang senior.

‘AAHHHHHH!! SAYA JADI GUGUP KARENA BADAN SUOH HOT SEKALI!’

‘Astaga! astaga! astgaa! perutnya, itu pasti keras! saya sampai gemetar, Tuhaaaannn… Suoh… ahhh… badannya tipe saya sekali, jadi pengen jilat luka di perutnya… terus… semakin ke bawah… aahh… Suoh…’

“Su- Suoh…”

Lap hangat itu pindah tangan juga akhirnya, Suoh mendengar semua itu dengan jelas, tubuhnya jadi panas dan kepalanya terasa aneh, pikirannya jadi gak karuan, Suoh buang muka saat Jace memanggil namanya.

“Sa- saya bisa sendiri, Senior.” Katanya, mulai membasuh tubuhnya sendiri.

‘Otaknya bener-bener mesum! gimana bisa disaat gue terluka begini dia malah berfantasi liar tentang gue?! ahh! brengsek!’ batin Suoh, tanpa sadar dirinya jadi kesal tanpa alasan yang jelas.

“Sa- saya punya beberapa kemeja di mess, bi- biar saya ambil dulu!” ucap Jace yang sepenuhnya diabaikan oleh Suoh.

Karena udah gak tau lagi mau menanggapi Jace gimana. Suoh hampir tersedak karena terus-terusan menahan nafas demi mengendalikan dirinya sendiri, tubuhnya benar-benar bergejolak di dalam sana. Melihat luka melepuh di perutnya, membuat Suoh teringat isi pikiran Jace tentang tubuhnya.

‘terus… semakin ke bawah…’

Plak!

Suoh menampar keras pipinya sendiri saat suara itu kembali terlintas di pikiran nya. Bawah mana yang dimaksud Jace? kenapa, itu membuat Suoh merasa semakin panas? sampai akhirnya ‘bawah’ yang dimaksud menjadi ‘keras’.

“Aaaah… siaaal!” gumam Suoh penuh penekanan.

Lima menit kemudian, Jace kembali dengan kemeja putih miliknya. Suoh ngehela nafas berat, penderitaan hari ini sungguh luar biasa. Mungkin Suoh harus serius tentang ide resign.

“Biar saya obati dulu lukamu.”

“Nggak perlu, Senior, nanti — ”

“Rasa sakitnya bakal ganggu pekerjaan mu, Suoh. Biarin saya obati lukamu, ya?”

Habis sudah. Suoh hanya diam sebagai jawaban. Gak menolak lebih jauh. Biarin Jace mengoleskan salep ke beberapa luka melepuh di perutnya. Kali ini dua jari Jace benar-benar bersentuhan langsung dengan perut Suoh.

Ragu-ragu Suoh menunduk untuk melihat ekspresi wajah Jace. Seniornya itu menahan nafas, wajahnya merah padam, bahkan dia juga mengulum bibir, di posisi nyaris menungging itu, Suoh bisa lihat jelas satu tangan Jace ada di selangkangan, terjepit disana.

Lalu…

‘Aaahh… Suoh cuma duduk diam sambil saya obati tapi bisa bikin memek saya basah dan gatel begini… astaga… Suoh…’

Dan…

‘Punya badan sebagus ini pasti kontolnya juga besar dan panjang… astagaa, lagi-lagi saya kelepasan! … tapi ini bukan salah saya! sekarang aja saya mati-matian tahan diri supaya gak ciumin kontol Suoh…’

Kemudian…

‘Brengsek.’

Suoh benar-benar muak.

Grab!

“Senior!”

Tiba-tiba Suoh raih tangan Jace yang sedang mengoles salep di perutnya, lalu bangkit dan mendorong Jace ke dinding, ekspresi bingung Jace berhadapan dengan raut jengkel Suoh yang sedang mencengkram erat pergelangan tangannya.

“Su- Suoh?” ujar Jace penuh ragu dan bingung.

‘Ada apa…? Suoh… kenapa??? tatapannya… tangannya… itu kuat sekali… apa… Suoh marah?’

Disela mendengar suara hati Jace, Suoh tersentak kecil saat tangan lain milik Jace menyentuh bekas tamparan di pipinya, dengan tatapan yang terkesan begitu lembut, Jace membuat Suoh semakin geram.

“Wa- wajahmu, kenapa?” tanya Jace.

Dan pegangan Suoh di pergelangan tangan Jace, plus sentuhan Jace di pipi Suoh, membuat keduanya berdebar tanpa sadar.

‘Apa Suoh mau — ’

“Terimakasih, Senior. Saya permisi.”

“Eh? Suoh? tunggu — Suoh?!”

Yang punya nama udah keburu jauh, bawa kemeja Jace yang dia pakai asal-asalan, meninggalkan ruang kesehatan dengan isi kepala carut marut, tubuhnya benar-benar panas dan selangkangan nya kepalang keras.

Sementara itu, Jace jatuh bersimpuh di lantai ruang kesehatan, memegang kemeja kotor milik Suoh yang kemudian dia cium-cium dengan wajah merona merah, kepalanya terasa kacau. Selangkangan nya basah dan benar-benar gatal, walau dalam hati berkontradiksi. Sange tapi takut Suoh sudah benar-benar benci.

“Suoh…” lirih Jace teredam kemeja milik Suoh yang dipeluknya.

— to be continued.

Hinandra’s property.

No responses yet