Garis Interaksi.
sedikit tentang pandu dan kaivan;
— Cowok lempeng —
Waktu itu mungkin adalah hari termemalukan sepanjang hidup Kaivan. Yang dengan sokabnya dia ajak ngobrol seseorang secara random dia ketemuin pas nyambangin calon kampusnya.
"Wahh, kamu pasti calon Maba juga ‘kan!?" tanya Kaivan dengan sangat antusias. Melihat orang yang duduk di sebelahnya lempeng aja tapi perlahan mengangguk bikin Kaivan makin semangat.
"Namaku Kaivan, sebenarnya aku mau minta tolong—sih, hehe.."
Dengan perasaan yang malu banget sampai ubun-ubun, Kaivan nahan banget buat gak tenggelemin diri sendiri ke kolam ikan ayahnya saat itu juga karena orang yang dia ajak bicara cuma datar aja gitu ekspresinya kayak gak hidup.
Sampai Kaivan mikir ini yang dia sapa beneran orang atau malah penunggu kampus? Meskipun dia gak pucet sama sekali buat disebut setan tapi tatapan matanya mirip hantu yang pernah Kaivan liat di tv.
"Minta tolong apa?"
"Aku nyasar..."
"Kesini sama siapa?"
"Sama temen-temen, tapi merekanya ninggalin aku!" Kaivan menghentak kaki sebal dan membuat raut wajah kesel.
"Mereka yang ninggalin lo atau lo yang ilang dari pengawasan mereka?" tanya orang itu retoris banget kayak gak ikhlas berbicara tapi terpaksa karena formalitas. Ini kayaknya kalau bukan perkara Kaivan mau minta tolong pasti dia udah pergi karena emang berasa banget si Kaivan ini menganggu dia.
"Eummm..." Kaivan gak tau mau jawab apa.
"Lo mau masuk sini?" tanya cowok itu. Tatapannya kenapa tajem banget kayak caci maki haters.
Nyali Kaivan yang cuma sebiji jagung makin ciut di tatap sama dia, kuat banget intimidasinya padahal dia juga gak keliatan banyak ekspresi. ‘Ngaco banget ni orang pasti anak dukun!’ batin Kaivan ngeri.
"Lo mau kemana habis ini?"
"Pulang," cicit Kaivan kecil.
"Gak tau gerbang dimana?"
Anggukan kenceng Kaivan bikin cowok itu naikin satu alisnya, rada ngeri tuh kepala bisa copot saking dia kencengnya ngangguk.
"Ya udah, ayo gue anterin."
Anggapan Kaivan tentang cowok itu adalah calon Maba kayak dia masih berlangsung sepanjang jalan mereka menuju gerbang. Bahkan Kaivan lupa dia sempet takut sama aura tuh cowok dan malah sibuk ngomentarin setiap hal menarik yang dia lihat, pun juga dia gak sadar kalau cowok itu selalu bisa jawab apapun pertanyaan Kaivan meski nada suaranya kayak gak niat napas.
"Oh iya, nama kamu siapa?"
Mereka udah di gerbang dong.
"Pandu." Cuma itu dan dia berlalu.
Ninggalin Kaivan tanpa repot-repot pamit atau basa-basi berisi harapan akan bertemu lagi. Cowok itu masuk lagi ke area kampus dan Kaivan dengan santainya mikir kalau dia mungkin masih belum puas liatin kampus.
"Pandu kok lempeng banget ya?"
"Tapi serem, ah, takut!"
"Tapi nanti kalau ketemu lagi, aku mau ajakin dia temenan!"
Sepanjang jalan Kaivan terus bahas Pandu, Pandu dan Pandu serta seluruh asumsinya tentang orang itu sampai gak sadar kalau dia bawa tas yang isinya ponsel dan bisa buat telepon Nara—sababatnya—untuk jemput.
Memang goblok.
— Kakak Komdis —
Seakan semesta gak ada habisnya mempermalukan hidup Kaivan. Pas hari pertama ospek kampus, hari dimana semua panitia yang terlibat dalam penerimaan mahasiswa baru akan memperkenalkan diri mereka, saat itu Kaivan ketemu lagi sama si cowok lempeng.
Pandu Jagat Waradhana, memperkenalkan dirinya sebagai salah satu anggota komisi kedisiplinan yang akan turut menambah ujian dan beban hidup Kaivan selama kurang lebih tiga hari.
"Kamu kenapa nunduk terus, sikap siap, pandangan lurus ke depan!" itu seruan Pandu tepat di depan Kaivan yang malu banget.
Bukan karena penampilan dia yang lebih mirip Neneng Pe’a ketimbang calon sarjana Psikologi, ini Kaivan bukannya menyembuhkan orang sakit jiwa malah jiwanya sendiri yang perlu dipertanyakan. Rambut mencuat sana sini karena harus diikat sebanyak tanggal lahir yang dijumlahin sama bulan lahir, untung gak di suruh iket sebanyak tahun lahir, gimana caranya Kaivan ngiket rambutnya sampai jadi 2004 ikatan? ARRGHH, NANGIS BANGET!
"Kalau dikasih tau itu laksanakan, jangan ngeyel!" Pandu kali ini meraih dagu Kaivan untuk di sejajarkan agar lurus menghadap ke depan dimana sang ketua Komdis sedang berorasi.
"Ma-maaf Kak."
Beruntung Pandu titisan papan reklame jadi Kaivan cuma perlu tutup mata sampai orang itu melipir menjauhinya.
Debar jantungnya udah gak karuan rasanya kayak udah kali tuh jantung pindah lokasi migrasi ke kandung kemihnya sekarang.
"Kak Pandu emang gitu, Kai, jangan di bantah, nurut aja udah, daripada kena mental!" bisik temen Kaivan dari belakang dia.
"Aku pusing, kayaknya aku bakal pingsan aja," itu kata Kaivan secara dramatis tapi gak pingsan beneran karena gak mau harus terlibat lebih jauh sama komdis galak modelan Pandu yang dia kira calon maba eh ternyata kakak tingkat.
Seketika Kaivan nyesel pernah janji bakal ajak Pandu temenan kalau sampai ketemu lagi.
—
"Hobi lo emang bengong atau lagi kesambet?" sebuah suara ngagetin Kaivan yang duduk di bawah pohon, lagi ngaso lima menit sebelum lanjut mintain tanda tangan panitia sebagai tugas ospek.
"Eh, Kak.. Pandu," kata Kaivan, masih malu sampai sel terkecil dalam tubuhnya.
"Jangan suka bengong disini, tempatnya rawan bikin sawan, anak bayi mending sana bareng kelompok biar rame," kata Pandu ogah-ogahan. Nunjuk kelompok Kaivan dengan tangan.
Kaivan sebel dong di katain bayi, "aku udah delapan belas tahun!" katanya.
"Ya terus?"
"Aku bukan bayi!"
"Bilang gitu sama bocah yang bengong di bawah pohon kayak bayi sawan."
"Kak Pandu!!?"
Pandu yang tadinya mau pergi itu nggak jadi karena pekikan Kaivan dengan suara khasnya bikin banyak orang pada ngeliatin.
"Nah, lo yang teriak, lo yang malu." Terkekeh aja lah Pandu pas Kaivan reflek menyembunyikan wajahnya di balik punggung dia.
Waduh, ini maksudnya gimana ya tadi marah-marah sekarang malah.. ahhh, dahlah!
"Maaf, Kak."
Kaivan langsung lompat setelah merasa aman dan jalan cepat nyusul kelompoknya, ninggalin Pandu yang senyum kecil sambil geleng-geleng rada heran sama kelakuan Kaivan.
Entah apa masalah internal Gautama Mandala kok nerima bocah paud masuk kuliah disini.
Tapi Kaivan gak sadar kalau tingkahnya itu bikin sang kakak tingkat yang terkenal kelempengannya itu jadi lebih bernyawa karena beberapa kali senyum atau bahkan sekedar terkekeh karena Kaivan.
— Pocky Tobeli —
"Kakak Panduuuuuuuuuuu!"
Kaivan berseru pas Pandu akhirnya angkat telepon dia.
"Selamat malam, Kakak Panduuuu!"
"Iya, selamat malam, Adik Kaivaaan."
"Wuiiih, jawabnya panjang!"
"Mau apa?"
"Lagi otw yaa?"
"Hm."
"Heheheheheheh..."
"Kenapa?"
"Titip ya, pocky tobeli!"
"Hm."
"Iiih, yang ikhlas dong!"
"Iya, Kaivan, iyaa."
"Nahhhh, gitu dong, Pandu jangan bengong ya kalau nyetir nanti nabrak!"
"Lo jangan berisik harusnya, ganggu."
"Sediiiiiiih, masa Kaivan dibilang ganggu!?"
"Nangis sana."
"Aiiih, Panduuuuuuuu….”
Kaivan beneran manyun sambil drama pura-pura hiks hiks biar Pandu meleleh tapi gak, ternyata Pandu malah matiin sambungan teleponnya.
Beralih pada Kaivan.
"Heuh, dasar Pandu!"
Sembari ngerjain tugas, dia menyempatkan diri untuk misuhin Pandu dan segala kelempengan hidupnya itu. Yang setelah hampir enam bulan kenal, yang gak tau kenapa malah jadi deket sampai ternyata semesta makin ngebanyol ternyata Pandu itu temenan sama pacarnya Nara, Kenan namanya.
Hidup Kaivan serasa drama banget gitu, kayak, masuk wattpad dan Kaivan jadi y/n yang ketemu sama cowok dingin nan irit bicara, yang biasanya bakal ada adegan jatuh cinta gitu terus ujung-ujungnya jadian terus nikah punya anak seribu dan life happily ever after.
Hahhhh, jangankan mau ngehalu bisa kayak y/n, bisa denger suara napas Pandu aja Kaivan udah bersyukur. Bukan apa-apa, Kaivan juga cukup sadar diri kalau posisi dia cuma di anggap 'adik' oleh Pandu.
Sampai ketika bel apartemennya berbunyi, Kaivan bergegas berlari ke depan dan mendapati Pandu berdiri disana. Membawa tentengan yaitu paperbag coklat besar yang setelah di perawanin ternyata isinya sejumlah pocky yang rasanya bukan cuma tobeli.
Ditambah berbagai jenis susu, permen, juga beberapa kotak es krim yang bikin Kaivan auto sumringah dan menghadiahkan sebuah ciuman kupu-kupu di pipi Pandu.
"Makasih Kakak Pandu yang baik hati!"
Kaivan berlalu masuk setelah merampas barang yang dia bawa. Ninggalin Pandu yang membeku di ambang pintu.
Berakhir menghela napas karena kelakuan Kaivan yang suka bikin kejutan terutama buat jantungnya.
Sementara Kaivan udah bahagia banget sama setumpuk makanan manis yang pastinya gak di sukai oleh Pandu itu. Gampang aja buat Pandu beliin apa yang Kaivan mau. Semua yang disukai Kaivan adalah hal-hal yang dibenci Pandu.
"Kak Pandu, aaaa..."
Itu Kaivan mengarahkan sebatang pocky rasa tobeli kesukaannya ke Pandu.
"Gue gak suka."
"Harus coba, ayolah, ini enak tau!"
"Manis.. gue ga—"
"Hap! YEYY!! ‘kannn, makan!"
Kaivan mencoba mengintimidasi Pandu dengan tatapannya yang sok garang itu, sementara Pandu mengunyah pocky yang terpaksa dia lahap dengan tampang datarnya.
Sementara setengah dari pocky yang masih ada di tangan Kaivan kemudian masuk meluncur ke dalam mulutnya sendiri.
Kaivan terkekeh lalu kembali fokus mengerjakan tugas dan biarin Pandu jadi pajangan bernyawa duduk diem di sampingnya.
Biar kata Kaivan selalu keliatan kayak ceria terus dan gak menyadari setiap emosi dari orang-orang di sekitarnya, Kaivan ini perasa.
Dan itulah kenapa sekarang Pandu ada sedekat ini dengannya, dibiarkan masuk ke dalam teritorinya yang penuh warna karena Kaivan menghargai gradasi warna hitam dan putih yang dibawa Pandu masuk ke dalam hidupnya.
— Cigarettes —
"Katanya merokok dapat menyebabkan kanker lho, Kak."
Pandu yang lagi duduk anteng sambil nyebat itu noleh sekilas ke Kaivan.
"Udah tau," katanya cuek dan masih lanjut menikmati sebat yang dia hisap, menikmati sensasi hangat yang terasa di dadanya dan sedikit manis di bibir.
"Terus kenapa masih merokok? Kamu nggak takut kena kanker ‘kah?"
"Lo nyumpahin gue?"
"Lhoooo, ya engga! Aku ‘kan ngasih tau?"
"Itu namanya nyumpahin."
Wajah Pandu tetap datar sementara Kaivan mencebik. Bibirnya maju lima senti mirip mainan dia di kamar mandi, rubber ducky you’re the one, jengjet.
"Selain kanker juga bisa memicu sakit jantung."
"Lo mau nakut-nakutin gue juga percuma, Kai, gak ada gunanya." Kata Pandu cuek.
Sekali lagi Kaivan mencebik.
"Dapat mengganggu kehamilan dan janin!" dia masih gencar nakut-nakutin Pandu yang mukanya udah males banget ngadepin bacot Kaivan karena sebenernya dia lagi rungsing.
"Gue gak hamil dan gak akan pernah bisa."
"Oh iya ya, tapi—"
"Diem."
Kaivan yang tadinya masih semangat itu gregetan pengen jenggut rambut Pandu yang keliatan lepek kayaknya udah gak keramas satu abad.
"Nanti impoten, Kak Pandu, mau nanti nggak punya anak?!" nah, Kaivan berseru penuh semangat.
Pandu noleh sekarang fokusin matanya ke Kaivan yang nuntut jawabannya.
"Lo mau?"
"Hah, mau apa?"
"Punya anak."
"Mau lah!"
Setelah itu Pandu cuma terkekeh dan matiin rokok yang baru aja dia nyalain, dia buang sembarang sekalian sama sekotak Marlboro berikut koreknya yang dia lempar dan goal masuk ke tempat sampah di sudut sana.
"Kok dibuang?!"
"Faedahnya lo nakut-nakutin gue apa kalau bukan mau gue berhenti merokok?"
"Hahhhh??!"
Pandu bangkit dan menyandang tasnya di satu bahu lalu menanti Kaivan untuk berdiri.
"Mau kemana?!"
"Pulang ‘lah, lo mau tidur disini? ini udah sore, berani?"
"Enggak!" Kaivan reflek berdiri dan mepet ke Pandu.
Mereka di pelataran perpustakaan kampus, tadi Kaivan habis balikin buku yang dia pinjem terus Pandu nungguin dia di depan sambil nyebat.
"Tapi kamu serius mau berhenti merokok, Kak?"
"Nggak."
"Lhoooo, kok gitu?"
"Lo bisa gak mendadak hidup tanpa pocky?"
"Engga..."
Pandu noleh sekilas dan mencibir tanpa suara.
"Ya sama."
"Sama apanya?"
Raut polos rada blo’on yang di tunjukan oleh Kaivan nyaris membuat Pandu menjitak kepala berambut fluffy miliknya.
"Lo mau gue berhenti merokok?"
"Iya!"
"Nggak bisa, udah candu."
"Pelan-pelan?"
"Ngga janji."
"Tapi mampu ‘kan?"
Langkah Pandu terhenti sampai bikin Kaivan nabrak tubuhnya dari belakang. Adik tingkatnya yang berisik itu meringis kecil.
"Iya."
Kaivan berseru girang tanpa suara, dia menggaet lengan Pandu kayak gak pernah merasa takut sedikitpun sama cowok itu di saat setiap orang kayaknya segan banget sama si Waradhana. Tapi lagi-lagi, Pandu gak pernah mencoba mencari tau kenapa dia biarin Kaivan menjadi suara di dalam hidupnya yang sepi atau jadi warna di harinya yang monokromatis.
Pandu hanya ingin menikmati yang ada untuknya saat ini tanpa banyak komentar, tanpa banyak ekspektasi karena itu bukan Pandu sekali.
Tapi meskipun begitu, sepanjang dua puluh dua tahun hidup Pandu, cuma Kaivan manusia yang berani nyentil dahinya kalau kesel; pukul lengannya kalau sebel; bahkan gak segan nendang kaki Pandu kalau marah. Cuma Kaivan dan Pandu gak juga berniat mengenyahkan siluman kucing satu itu. Gak tau kenapa, Pandu juga gak mau tau alasannya, yang penting saat ini, Kaivan selalu ada bersamanya.
— kkeut —
demonycal property.