encounter.
Heeseung itu punya dua sisi, satu sebagai pangeran kampus yang jadi pusat perhatian dimanapun berada, selalu jadi incaran para gadis dan cowok submissive. Heeseung itu kalo diomongin sih kaya, “laki-laki idaman” banget.
Padahal, aslinya, Heeseung juga seorang otaku yang punya kamar khusus dengan pernak-pernik berbau anime, rak-rak yang penuh dengan manga, beberapa kali juga Heeseung pernah ikut event cosplay, dan yang tau sisi Heeseung yang ini cuma Sunghoon.
Sunghoon pikir ya oke aja Heeseung punya ambisi khusus untuk dijalani dalam hidup, sama kaya Sunghoon yang hobby olahraga dan menjaga kesehatan, atau kaya Jake — pacar Sunghoon — yang cinta musik dan jadiin biola sebagai warna hidup, tapi Sunghoon gak pernah bayangin kalau Heeseung nyatanya bakal serius dengan obsesi yang gak sengaja Sunghoon sebut, udah layaknya kutukan yang bikin Heeseung jadi lebih sableng lagi.
“Mata lo item, ngepet tiap malem apa gimana?” tanya Sunghoon.
“Mikirin Miya,” kata Heeseung.
“Lo yakin gak mau ke psikolog?”
Plak!
“Jangan melecehkan pilihan hidup gue!”
Sunghoon digeplak, pengen geplak balik tapi Heeseung lagi nyandar di pembatas roof top, kalo Sunghoon terlalu bertenaga nanti Heeseung jatuh, berabe.
“Emang gak ada info soal si Voice Actor itu?”
“Namanya, atau biodata dia di internet, mungkin?”
“Lo pikir gue gak berusaha buat cari tau soal itu? kalo dapet info tentang dia, gak mungkin gue begadang terus tiap malem — ”
“Itu lo marathon anime lain, ‘kan? makanya bega — ”
“Dengerin gue ngomong sampai selesai!”
Sunghoon ngehela nafas lagi, dan lagi, Heeseung emang udah kelewat sengklek kayanya.
“Cuma ada nama samaran dia sebagai voice actor.”
“Siapa namanya?”
“Jay, Park Jay.”
“Coba cari di sosmed? muka orangnya kaya gimana, mungkin?”
“Gak ada.”
“Yakin?”
“Menurut lo?”
Sunghoon terkekeh dan nepuk bahu Heeseung.
“Mungkin emang ini saatnya lo berhenti dengan obsesi gila lo ini, berapapun duit yang lo keluarin buat cari dia, kalo emang bukan jodohnya, kalian gak akan pernah ketemu.”
Deg!
Heeseung tertegun merasakan anak panah fiksional yang menancap di dadanya seketika itu.
Sunghoon membuatnya jadi lebih dramatis lagi ketika dia berbalik dan berhenti berjalan, saling memunggungi sama Heeseung.
“Lo itu Lee Heeseung, Bukan Ishikawa Toru, Miyamura nggak akan pernah bisa jadi milik lo, jadi stop, sebelum obsesi itu menggerogoti kewarasan lo, Bro.”
Keesokan harinya…
Sunghoon masih cengengesan tiap inget nasehat dia yang sangat keren abis kemarin, bener-bener bikin Sunghoon ngerasa jadi sahabat paling baik sejagat raya.
“KETEMU!”
“Eh?!”
Teriakan Heeseung bikin Sunghoon menoleh ke sahabatnya yang lagi nonjokin angin sambil mangku laptop itu.
“Hoon, ketemu, Hoon!”
“Si- siapa?”
Sunghoon sampai afk demi ngasih atensi ke Heeseung yang lagi happy setengah mati itu.
“Miya!” kata Heeseung.
“Mi- Miya?” perasaan Sunghoon jadi gak enak.
“Miyamura Izumi!”
“HAAHH???” Sunghoon pun nge-bug setelah berseru dungu.
Dan keesokan harinya, lagi.
“Namanya Jongseong, Park Jongseong, gue bayar orang untuk cari dia, sial, gue sampe gak inget berapa uang yang gue kasih ke mereka saking excited nya, Hoon!”
Sunghoon berjalan malas di belakang Heeseung yang senyum terus sampai bikin silau, aura pangeran yang lagi super happy itu juga berdampak ke setiap titik kampus yang dia lewati, Sunghoon sampai gak keliatan oleh para gadis dan boti-boti yang manfaatin keadaan buat nanyain kabar Heeseung.
Tapi masalahnya bukan itu, Sunghoon gak yakin Heeseung beneran nemu orang yang sama dengan Voice Actor kecintaannya itu, gimana kalo info dari orang yang dia bayar nyatanya palsu? gimana kalo si Park Jongseong ini ternyata cuma nama tanpa wujud? atau, gimana kalau Park Jongseong ini gak punya suara yang sama dengan si Miyamura Izumi versi Korea?!
Sementara itu, Heeseung tengah berusaha membebaskan diri dari kerumunan yang mengurung dirinya dan mau lanjut ajak Sunghoon menemui Park Jongseong, “iya, permisi dulu ya, saya masih ada urusan sama temen… iya iya, lain kali kita ngobrol lagi kok… permisi, permisi, anu — ”
Gedebuk!!
“Yyyaaa!!???” semua orang kompak tercengang, terkejut terheran-heran waktu Heeseung keserimpet kakinya sendiri lalu jatuh dan menubruk tubuh seseorang lalu berakhir menindih sosok itu.
“Eh… maaf, maaf, saya gak sengaja!” Heeseung panik waktu dia sadar di bawahnya ada orang.
Orang dengan kacamata melorot akibat terbentur Heeseung, wajahnya merona kayanya malu karena jatuh, “a- anu, ma- maaf tapi, bisa tolong… menyingkir dari atas saya?”
“Hah! Iya, iya maaf, saya — eh? ”
Heeseung udah bangkit dan dengan alami ngeraih tangan sosok berkacamata itu, menariknya untuk berdiri dan saat Heeseung menyadari sesuatu hingga menyentak kesadarannya, genggaman Heeseung mengerat pada tangan sosok yang dia tabrak, mata boba Heeseung begitu fokus pada fitur wajah si nerd di hadapannya.
“A- anu… ta- tangan saya — ”
“Miya! Miyamura Izumi!” seru Heeseung dengan bodohnya tepat di depan mata dan telinga si nerd yang langsung terkejut, tersentak hingga melepas paksa tangan Heeseung dan kemudian berlari pergi dari halaman kampus nan ramai itu.
“Tunggu! tunggu, jangan lari, Miya!”
“OIY TOLOL! BERHENTI GAK LO!”
Disaat Heeseung gak bisa keluar dari dunia imajinasi nya, Sunghoon pun berlari untuk menakol kepala Heeseung dengan sepatu sampai sang sobat terjerembab hingga mimisan.
“Astagaaaa! Heeseung idiot! lo itu bener-bener tolol setolol-tololnya!”
Sunghoon mungut sepatunya yang jatuh di sebelah kepala Heeseung, terus sang sobat bangkit buat duduk di tengah jalan itu. Heeseung ngesot dan berakhir bersandar di beton yang memagari sebuah pohon, angin berhembus saat Heeseung mengusap mimisannya dengan lengan hoodie. Mimisan itu bukan karena dia jatuh, tapi karena denger suara yang jadi candunya secara nyata.
“Haaahhh! lo hampir aja ngebongkar sisi kelam diri lo sendiri di depan semua fans lo!” kata Sunghoon, nyiram kepala Heeseung yang menunduk sambil meremas dada yang berdetak kencang, persetan deh, biar ini bocah waras dulu.
“Terserah kalo mau buat malu diri lo sendiri, tapi jangan bawa-bawa orang lain, goblok!” kata Sunghoon.
“Ta- tapi, dia, Miyamura…”
Heeseung angkat pandang dan ngeliat Sunghoon ngehela nafas, Heeseung juga udah gak peduli lagi soal opini publik setelah ngeliat tingkah nya hari ini.
“Dia bukan Miyamura Izumi, dia manusia yang hidup di dunia yang sama kaya kita dan — ”
“Suaranya!” Heeseung nonjok bahu Sunghoon, biar sobatnya itu liat seberapa serius dan bertekadnya Heeseung sekarang, “suaranya, itu Miyamura Izumi, gue gak mungkin salah, gue dengerin desahannya setiap malem — ”
“KENAPA HARUS DIBUKTIKAN DENGAN CARA ITU SIH, GOBLOK!!?”
Duagh!!
Botol minum Sunghoon menggeplak kepala Heeseung.
Tapi bukannya marah, Heeseung malah tergelak renyah.
“Gue bakal temuin dia lagi dan wujudin obsesi gue!”
“Heeseung!” bentak Sunghoon.
“Gue gak akan macem-macem kok, lo tenang aja,” kata Heeseung seraya bangkit dan berjalan meninggalkan Sunghoon yang masih jongkok di bawah pohon, Heeseung membuatnya lebih dramatis, sebagai balas dendam untuk ucapan nyelekit Sunghoon tempo hari.
“Gue memang bukan Ishikawa Toru, jadi Miyamura Izumi gak akan pernah jadi milik gue, tapi gue adalah Lee Heeseung, yang pasti akan menjadikan Park Jongseong sebagai milik gue.”
— to be continued.
Hinandra’s property.