Hinandra
5 min readNov 29, 2023

— Ego dan Keserakahan.

jay cuma bisa menunduk dalam sewaktu kedua orang tuanya sibuk menghakimi heeseung; karena apa yang jay takutkan akhirnya kejadian, entah gimana caranya ayah dan mama mereka tau perihal apa yang telah terjadi di antara kedua anak mereka.

“kenapa kamu berani-beraninya melakukan semua ini, seung?”

pertanyaan ayahnya sendiri dijawab hening, heeseung pun cuma menunduk dan tetap bernapas dengan mata yang berkedip lamat-lamat, entah apa yang sedang dia pikirkan, jay gak bisa menebak isi kepala heeseung.

“seharusnya sejak awal kalian nggak usah tinggal bareng!” bentak ayah.

“tinggal bareng akhirnya cuma akan membuat masalah! sekarang kalau sudah begini, gimana membuat suasana kembali seperti dulu?!” omel ayah lagi, heeseung berakhir menghela napas.

“heeseung punya perasaan, yah, mana heeseung tau bakal jadi begini,” katanya.

“ya tapi nggak dengan melakukan dosa besar seperti itu, lee heeseung! kamu ini seperti gak pernah di didik dengan benar, kelakuanmu lebih kotor daripada hewan, jay ini adik kamu sendiri, begitu juga dengan jay, nak, heeseung ini walau tidak sedarah, dia tetaplah suadaramu, bagaimana mungkin kamu menerima saja saat dia melakukan itu, demi Tuhan, anak-anak, begini ‘kah cara kalian menunjukkan kalau kalian mau ayah cepat mati?!”

“yah…. yang sabar, yah… ngga perlu bicara seperti itu….” ujar mama mengusap bahu si ayah yang lemas, kepalanya rancu, rasanya lebih dari pusing.

“bukan seperti itu maksud kami, yah, semua ini ngga bisa kami kendalikan, kita sama-sama jatuh cinta, ayah dan mama pasti mengerti, serius, heeseung dan jay saling mencintai, kami—”

“enggak!” sela jay dengan marahnya.

jay melompat untuk kemudian bersujud di depan ayah dan sang mama.

“semua memang salah kami, yah, ma, mau abang ataupun adek sama aja, kita sama-sama berdosa kepada satu sama lain sebagai saudara, kita berdua berdosa kepada kalian sebagai anak yang seharusnya menjaga kepercayaan kalian, tapi demi Tuhan, yah, ma… jay sudah berusaha…”

jay benar-benar menumpu lututnya di lantai, kedua tangan menyatu di depan dada, menatap kedua orang tuanya dengan segenap rasa bersalah, heeseung di belakang jay menghela napas jengah.

“jay!” bentaknya keras.

tapi jay gak gentar, sekalipun memang benar ucap heeseung perihal kasih dan cinta yang mereka bagi, jay tetaplah tidak akan memilih mengorbankan perasaan besar kedua orang tua mereka hanya untuk perasaan yang ia dan heeseung miliki, lagipula segala yang terjadi di antara mereka berdua memang sudah salah sejak awal.

“jay mengerti kalau semua ini memang selalu harus diakhiri, itu satu-satunya jalan keluar, jay—”

“jangan egois dong, dek!” bentak heeseung kemudian.

“JUSTRU ADEK NGGAK EGOIS BANG!” bentak jay balik.

“abang yang egois! abang yang gak sadar batasan, udahlah bang… udah… semua dosa kita udah bukan jadi rahasia kita berdua sekarang, adek capek, tau? adek nggak suka sama ide hidup seperti ini, demi apapun, adek pernah bilang untuk berhenti tapi—”

“tapi adek pun cinta sama abang!” bantah heeseung membalas gak kalah keras.

“dan apa itu bisa ngebuat kita dengan tega mengorbankan perasaan ayah dan mama?! abang mikir nggak sih perasaan mereka?! kita begini aja mereka udah ngerasa jadi orang tua yang gagal segagal-gagalnya, gimana kalau kita ngikutin ego kita terus, bang?! kita cuma akan lebih jauh dari kebahagiaan!”

ayah dan mama yang ada disana, perhatikan baik-baik apa yang sedang terjalin dan hendaknya memang lebih baik diputuskan, sesuai dengan apa yang jay inginkan, walau heeseung terlihat amat sangat tidak berkenan.

jay kembali memutar atensinya, ke ayah dan mama yang menangis tanpa suara, patah hati jay gak pernah sampai sesakit ini sepanjang dua puluh satu tahun hidupnya dan heeseung cuma diam dengan tatapan nyalang, seakan dia sama sekali gak terima dengan apa yang sedang dan jelas-jelas akan terjadi.

jay mengangkat kedua tangannya setara dengan kepala, seakan-akan melepaskan semuanya, pasrah sama apa yang akan dikasih takdir ke dalam hidupnya.

“sekarang adek serahin hidup adek kedepannya ke tangan ayah dan mama, apapun keputusan kalian, adek akan terima.”

pas banget kemudian, ketika ayah hendak bicara, heeseung mengangkat pandangannya dan bertemu tatap sama sang ayah.

mereka berbagi gen ambisius dan determinasi yang sama, tapi situasi saat ini jelas mereka berlawanan, heeseung menginginkan jay sementara ayah menentang keras hal itu.

“ada banyak pilihan, heeseung akan menikah, atau jay yang harus menikah.”

“NGGAK! APAAN KAYA GITU?!” amuk heeseung lantas berdiri.

“kamu nggak mau menikah?” tanya mama.

“YA NGGAKLAH!” bentak heeseung.

“ya berarti jay yang akan menikah.” balas ayah.

“YAH!” seru heeseung.

“kamu gak berhak untuk mengatur ayah kalau jay sendiri yang menyerahkan semua keputusan ke tangan ayah dan mama, kamu mungkin punya cinta untuk jay, tapi jay saat ini punya ayah dan mama, kalau kami nggak berkenan, ya kamu bisa apa?”

kekecewaan ayah dan mama ada di puncak tertinggi, sampai air mata anak-anak pun gak bisa membasuh luka di hati mereka, kalau bukan karena mereka jaga-jaga soal kondisi jay dan heeseung dengan memasang cctv rahasia, mungkin ayah dan mama akan terus dikibulin jay dan heeseung.

“ini nggak adil, yah…” lirih heeseung frustasi.

“terus, menurutmu kalau kamu bisa memiliki jay seperti apa yang ada di kepalamu itu, gimana nasib ayah sama mama? coba kamu jelaskan arti adil yang benar.”

heeseung terdiam.

“kamu minta adek untuk gak egois tanpa kamu sadar, kamulah yang paling egois disini, heeseung.”

kebungkaman heeseung bertahan lama kemudian, kepalanya rancu terasa, hampa, kosong tapi juga berisik dan memekakkan.

“kamu bisa pilih, kamu menikah atau jay yang menikah dan atau kalau kamu masih gak bisa terima dua hal itu, tanpa sedikitpun rasa keberatan ayah akan coret namamu dari kartu keluarga.”

jauh dalam hati jay terluka karena perasaannya nyata, karena segala yang tumbuh untuk heeseung benar-benar terealisasi tanpa campur tangan adiksi akan apa yang mereka lakukan sejauh ini, saling membuai dengan kenikmatan satu sama lain.

ada satu titik yang menyala, api yang oleh keadaan harus dipadamkan jay dengan segenap ketidakberdayaannya, jay menyerahkan segalanya sekaligus semua rasa cinta yang telah tumbuh dalam hatinya.

drrtt… drrttt…

ponsel jay bergetar, nama heeseung muncul di layar.

mereka gak boleh ketemu, makanya teleponan.

“kenapa, bang?”

“adek, ayo kita kawin lari aja.”

“abang gila ya?!”

“abang hilang bahkan ayah dan mama pun ngga boleh menentang abang untuk milikin adek, abang serius, dek.”

“adek gak mau! adek gak bisa percaya lagi sama abang, adek takut nambah dosa!”

“adek gak punya pilihan lain, adek harus ikut sama abang.”

“abang… jangan gini…”

“abang terlalu gila untuk berpikir jalan lain, dek, abang gak bisa hidup tanpa adek jadi milik abang.”

dan, jay gak pernah tau kalau mencintai dan dicintai seorang lee heeseung akan berakhir serumit ini.

— to be continue.

demonycal property.

No responses yet