Hinandra
6 min readJan 4, 2024

ECCEDENTESIAST : Young and Beautiful.

⚠️ // daddy issues, mental disease.

“KO KYUNG — ”

“Ya.”

Seruan Jungwon terpotong, suara Dabeom menyela dengan mata yang tak putus tautnya dengan Kyungjun, segenap debar berseru rasanya hendak tembus dada, Kyungjun gemetar hebat seketika.

“Ya, gue mau. Jadi pacar lo.”

Semua kaget, jelas, bahkan Kyungjun.

“Apa-apaan ini?!” seru Jungwon, hendak maju tapi Somi menahannya.

“Kenapa?” tanya Dabeom pada semua, tatapannya berhenti pada Jungwon, “kenapa, ngga boleh?” tanyanya.

Junhee diam menganalisa keadaan, Yoonseo justru mematut atensinya pada raut Kyungjun, tak ada gurat apapun disana selain tak menyangka dan ketulusan, Yoonseo selalu percaya Junhee, pacarnya itu percaya Kyungjun memang ambisius dan tegas pada hasrat hatinya dan kini Yoonseo membuktikan itu sendiri.

“Ini bukan drama murahan yang karakter pembully dan korban bully nya saling jatuh cinta then end up together! Dabeom, inget baik-baik siapa orang ini, dia yang bikin hidup lo susah, please, sadar! gak seharusnya — ”

“Harus!”

Jungwon tersentak kala Dabeom berseru kembali memotong argumennya, “huh?” heran Jungwon dengan raut heran dan kecewa.

“Harus…. karena gue capek, Kak!”

“Gue capek dibully terus dan ngerasa mending mati aja daripada harus menghadapi hari esok yang sama dengan gue yang dirundung lagi dan lagi, gue muak!”

Pertukaran kata-kata itu kemudian berimbuh air mata, antara Jungwon yang menentang dengan Dabeom yang justru menerima Kyungjun.

“Gue dirundung sampai gue kehilangan kepercayaan diri gue sendiri! sampai gue pikir lebih baik gue mati tapi semalem orang ini yang datang dan bilang kalo semua monster di kepala gue sudah pergi dan…, dan dia gak akan ninggalin gue sendiri!”

“Tap-tapi… Dabeom….”

Dabeom menunduk, biarkan air matanya luruh, Jungwon pun, balas genggam erat tangan Somi, membagi sakit hatinya, bukan karena kecewa dengan Dabeom dan pilihannya, tapi dari semua orang yang berpotensi mampu melindungi Dabeom dari kekejaman dunia ini, kenapa harus Ko Kyungjun?!

“Gue belum pernah memutuskan sesuatu untuk diri gue sendiri sejauh ini, gue pikir sekarang waktunya,” ujar Dabeom seraya mengalih atensinya dari Jungwon ke Kyungjun.

“Save me, Ko Kyungjun.”

“Fuck it, kenapa Dabeom butuh Kyungjun? gak masuk akal banget, kenapa kalian malah dukung bajingan itu, hah?! Kenapa malah biarin Dabeom pacaran sama Preman pasar kaya dia dan demi apapun, ini Ko Kyungjun loh, kalian udah gila ya!?”

Somi dan Junhee menghela napas menghadapi betapa marah dan kesalnya Jungwon setelah adegan menegangkan di ruangan Dabeom tadi. Junhee dan Somi mengajak Jungwon untuk melipir, bicara dan menenangkannya.

“Dabeom berhak mutusin apapun untuk dirinya sendiri, Won.” Kata Junhee.

“Gimana kita jelasin ini ke Hyunho?” ujar Jungwon kemudian.

“Gimanapun caranya, Hyunho pasti ngerti, setidaknya ini kemauan Dabeom sendiri,” kata Junhee.

“Omong kosong,” ujar Jungwon berbalik dan menghentak kaki, kesal.

“Jungwon!” seru Somi, kesel.

“Kenapa marah banget sih?” ujarnya heran.

“Biarin aja Dabeom maunya gimana, toh kita masih bisa mastiin dia baik-baik aja, kalaupun Kyungjun gak perlakuin dia sesuai dengan omongannya tadi, Dabeom pasti milih buat putusin dia nanti!” kata Somi membuat Jungwon berbalik dan menatapnya tajam.

“Lo belain Kyungjun?” ujar Jungwon dengan raut tak percaya.

“Lo belain dia, serius?”

“Jung — ”

“Oh…. sesama tukang bully saling bela gitu, ‘kan?”

“Oh Jungwon!” bentak Somi lepas kendali.

Jungwon melepas kekehan remeh dengan tatapan kecewa, Somi mendekat saat ia menghindar, Junhee menghela napas dan mundur, masalah rumah tangga orang bukan urusannya, tapi Junhee ikut pusing kalau begini situasinya.

“Lo sama Kyungjun sama aja, — ”

“Tapi lo mau sama gue, Jungwon!” kata Somi, marah.

“Gue juga bajingan sama kaya Kyungjun tapi gue bilang ke ‘lo, demi lo Jungwon! Demi lo supaya mau sama gue, gue berubah! gue benci apa yang dulu gue lakuin karena gue jatuh cinta sama lo!”

Junhee masih disana, masih dengan jantung rusuh menjadi saksi dari adegan pasangan dan praharanya.

“Gue liat ketulusan di mata Kyungjun, gue ngerasain apa yang dia rasain, Oh Jungwon, jatuh cinta itu indah, saking indahnya bisa merubah bajingan jadi lebih baik dan apa lo gak bisa liat itu dari Kyungjun dan Dabeom? apa yang kita liat berdua semalam cuma mimpi dan angin lalu untuk lo? Kyungjun gagalin niat bunuh dirinya Dabeom!”

Dan ketika Somi benar-benar sudah di depan mata, kaki Jungwon terpaku saat menatap mata Somi, bagaimanapun kondisinya, Jungwon pun jatuh cinta pada Somi, dengan cara yang hanya Somi sendiri yang bisa lakukan untuknya.

Barulah saat Somi meraih Jungwon ke dalam pelukan, Junhee berbalik dan hendak berlalu, tepat saat Yoonseo berlari mendekatinya.

“Ada apa?” tanya Junhee.

Yoonseo terkekeh, “kayanya kita sama-sama jadi obat nyamuk ya?” ujarnya, menunjuk Somi dan Jungwon dengan dagu.

“Mereka ngapain?” tanya Junhee, merujuk pada Kyungjun dan Dabeom.

“Ngobrol, aku ngga mau jadi tiktok-tiktok di dinding, makanya aku tinggalin aja,” kata Yoonseo, melingkarkan lengannya di lengan Junhee.

“Kamu percaya sama Kyungjun?” tanya Junhee seraya berjalan bersama gadisnya itu di sekitar taman.

“Enggak,” kata Yoonseo, “tapi aku percaya sama Dabeom,” imbuhnya.

“Aku percaya aja sama pilihan Dabeom, kalo dia sendiri yang mutusin untuk terima Kyungjun, yaudah, biarin aja asal Dabeom bahagia,” ujarnya kemudian.

Keduanya berbalik, Yoonseo menunjuk Somi dan Jungwon yang entah sedang membicarakan apa, tapi Jungwon dengan tangannya sedang mengusap wajah Somi sambil menangis dan dibalas Somi dengan kekehan lalu lakukan yang sama, menghapus air mata di pipi gadisnya.

“Semua orang berhak untuk mendapatkan kesempatan apapun dalam hidupnya, ‘kan?” ujar Yoonseo pada Junhee, diimbuhi senyum manis khas yang buatnya gemas hingga berakhir merangkul yang lebih muda dan mengusak rambut Yoonseo penuh sayang.

“Lee Yoonseo-ku udah besar,” kata Junhee nan bangga.

“Hah, iyaaa ‘kaaaann??? heum, Dabeom pasti iri aku udah besar duluan!” kata Yoonseo dengan sombongnya.

Junhee lantas terkekeh, merasakan cinta itu sederhana, pastinya Somi juga begini, kalau tidak, mana mungkin Ratu Ular sepertinya bisa tunduk pada seorang Oh Jungwon yang cenderung tidak suka konflik tapi malah jatuh cinta dengan biangnya, Kim Somi.

Barangkali begitu pula dengan Ko Kyungjun, tak ada yang tahu kapan pastinya ia jatuh cinta pada Dabeom, tak ada yang tahu pula bagaimana Kyungjun merasakan cinta itu hadir dalam hatinya untuk Dabeom, kecuali Kyungjun sendiri.

Pun, tak ada yang tahu bagaimana cara Dabeom menyikapi seorang Ko Kyungjun yang selama ini selalu ia hindari, tak ada yang tahu pasti apakah Dabeom bahkan mencintai Kyungjun atau tidak kecuali Dabeom sendiri.

“Kamu benar, Yoonseo, mereka semua harus ambil kesempatan itu, ngga ada salahnya mencoba sesuatu untuk diri sendiri.”

“Pulang sana.”

“Kok ngusir?”

Dabeom merengut seketika saat Kyungjun manyun dan merengek saat diminta pulang.

Ko Kyungjun loh ini, haduh, menjijikan sekali, tapi Dabeom harus kuat menghadapi kemungkinan lebih banyak sisi lain dari Kyungjun setelah ini.

“Mandi, kerjain tugas, lo udah kelas dua belas, jangan sibuk bolos terus, nanti gak lulus aja tau rasa!” ujar Dabeom mengomel.

“Ya bagus dong, biar aja gak lulus.”

“Biar apa begitu?”

“Biar bisa seangkatan sama lo, jadi nanti gua bisa jagain lo terus.”

“Gausah, aneh-aneh aja, gak lulus kok bagus!?”

“Gua serius.”

“Gue juga serius.”

Kyungjun meraih tangan Dabeom, ambil atensinya kemudian, melemaskan ekspresinya namun tak putus sorot teguh dari sepasang matanya.

“Long before i was sure that i loved you, my eyes always told me that you were beautiful, even when you were upset, that’s why i always wanted your attention, to irritate you and see the appeal in your anger and fear."

Diberinya senyum tipis sebab rasakan panas sewajah pun rona merah yang turut andil menghias paras yang lebih muda, bibirnya terkatup, tapi Kyungjun tak akan sia-siakan waktu, belum tentu nanti kapanpun itu ia masih bisa mengingat semua kalimat yang sekarang tertata di kepalanya, untuk Dabeom.

"But this isn’t a physical thing, my heart keeps beating fast when i think of you, my heart keeps screaming that i want you, do you remember when i asked what you did to me? i was crazy because i really wanted you."

“Jin Dabeom.”

"I’ll show my shameless. I don’t care how much you hate me, i need you more than i want you."

Dan inilah Ko Kyungjun dengan segenap hasrat yang tak ingin ia sia-siakan, inilah ambisi yang akan ia raih bagaimanapun caranya.

"I’ll protect you, i’ll save you, i’ll die for you, let me make love present in your heart more than the hatred i created in the past."

Tertunduk Dabeom sejenak saat debar jantungnya rasa buat ia lelah ‘tuk tanggulangi seberapa keras dentuman itu bertalu karena dan hanya untuk Ko Kyungjun.

"I’ve never wanted anything this far, but this is the first time i’ve taken the chance to choose something that really i want."

Mengangguk tegas Kyungjun dengan netra penuh harap, mendekat guna pastikan ia ada di posisi sedekat mungkin agar Dabeom mampu melihat segenap kesungguhan lewat tautan padang mereka.

"I’ll be here for you, nothing gonna hurt you, baby."

Dan kalimat itu lantas membawa ingatan Dabeom kembali pada malam kemarin, kala tak tertahan rasanya alam bawah sadar menginginkan kehangatan seorang ‘ayah’ mampir untuk menjaganya dari runtuh.

"Now i know what i want."

Kyungjun tersenyum penuh haru, debar jantungnya menggila, kali pertama hatinya jatuh tanpa ingin dan banyak angan, tanpa tau pada siapa dan disangka-sangka, Jin Dabeom yang berinya senyum balas nan manis dengan rona merah muda menghias parasnya.

“I wanna be yours, Ko Kyungjun.”

“I wanna be yours—oh, should i call you Daddy, uhm?"

— to be continue.

demonycal property.

No responses yet