ECCEDENTESIAST : Yoon Eunho.
Eunho ada bersama Juwon dan Yoonseo saat Jiho pamit untuk pergi ke toilet, ia diminta menemani dua bumil itu memeriksakan kandungan mereka hari ini, beruntung Eunho bisa mengalihkan suasana hatinya yang buruk sejak pagi setelah bertemu Yoonseo dan Juwon.
Eunho terbangun tanpa Chanyoung di sisinya, Jiho sendiri baru diberi tahu oleh Jaeyong kalau katanya Tuan Yoon yang terhormat itu sangat sibuk hari ini, bahkan ia akan pulang larut.
Aneh karena biasanya Chanyoung akan mengatakan sendiri semua agenda dalam satu harinya, dan ini pertama kali Chanyoung meninggalkan Eunho sepagi itu.
“Ko Eunho?!”
Langkah Jiho terhenti sebelum berbelok dari lorong dimana Yoonseo dan Juwon ada disana. Bersama dua Perawat yang sedang mengobrol bersama mereka, tapi antusiasme Perawat itu membuat Jiho berhenti karena Marga yang disebutkan bukan Yoon.
“Ini Eunho, Ko Eunho yang dua tahun lalu lahir disini, bener!” kata Perawat yang satunya.
Jantung Jiho serasa jatuh dan terbakar, dadanya panas merambat sampai ke mata, ia tak mengerti jenis situasi apa ini, tapi Eunho terlihat tidak senang dari ekspresinya, dua Perawat itu kelewat antusias sampai merebut Eunho dari Yoonseo dan Juwon yang nampak canggung, terlihat bingung menanggapi.
“Astaga, Eunho sudah besar, kami selalu berharap Eunho bisa mendapatkan hidup yang lebih layak.” Kata Perawat yang menggendong Eunho.
“Ah, yaa… itu….” Yoonseo benar-benar tak dapat kesempatan untuk bicara.
Karena kemudian Perawat satunya berkata, “kami senang Tuan Yoon mau merawat Eunho dan lebih senang lagi karena sekarang Eunho benar-benar dalam keadaan yang baik,” demikian.
Kepalan tangan Jiho melemas karena gemetar, dingin terasa menyergap tubuhnya sampai bersandar di dinding rumah sakit itu, pelan-pelan Jiho berusaha mengembalikan keadaan dirinya, dan memutar tubuh membawa langkah cepat merebut Eunho dari Perawat itu, dan tersenyum.
“Eoh — ” kedua Perawat itu kompak terkejut dan menunjuk Jiho seolah sedang mengingat seseorang yang pernah mereka temui.
Juwon dan Yoonseo langsung panik bukan main, sebab sadar Jiho menangis, Eunho dengan raut bingungnya langsung memeluk leher Jiho setelah sadar siapa yang sedang menggendongnya.
“Juwon, Yoonseo, aku pamit duluan ya? aku minta maaf ngga bisa sampai selesai disini, permisi,” dengan cepat tanpa balas memandang dua Perawat itu, bahkan mengabaikan Juwon dan Yoonseo yang menyeru namanya.
“Jiho!”
“Tunggu, Jiho!”
Tapi empunya nama sudah jauh dibawa lari kecilnya, Yoonseo yang hamil besar tak mungkin berlari, Juwon tak mungkin tinggalkan Yoonseo sendiri, tapi Jiho sedang tidak baik-baik saja sekarang, mereka yakin itu.
Saat hendak protes pada kedua Perawat tadi, mereka sudah hilang entah kemana.
Juwon tepuk jidat, dan Yoonseo menghubungi Chanyoung dengan tangan gemetar.
“Haah! Kemana sih ini suaminya kurang ajar, dicariin gak ada!?” sentak kesal Yoonseo hampir membanting ponselnya karena Chanyoung tak aktif.
“Aduuuh, gimana dong ini,” Juwon panik.
“Aku chat Jaeyong, biar dia jemput Jiho, atau langsung kasih tau Kakaknya,” kata Yoonseo dengan rusuh.
Mereka yakin akan terjadi sesuatu yang besar antara Jiho dan Chanyoung setelah ini.
“Kasian Eunho.” Ujar Juwon dan Yoonseo hanya bisa berdoa supaya Jiho dan Chanyoung tak lupa cara menjadi orang tua yang bijak dalam upaya menyelesaikan masalah mereka sebagai pasangan.
Panik Jaeyong segera berlari keluar dari istananya untuk menjemput Jiho tapi gagal, saat ia sampai di tempat parkir, supir Jiho berlari menghampirinya dengan raut resah.
“Jiho tadi langsung masuk bersama Eunho.” Katanya.
“Mereka menangis dan saya kurang paham apa yang jadi masalahnya.” Imbuhnya.
Jaeyong langsung berlari lagi ke dalam gedung dan naik tangga ke lantai sepuluh karena lift penuh, keluar dengan sangat berantakan dan berseru, “Jiho!” tanpa peduli semua orang ikut heboh.
Tapi Jaeyong terlambat meski hampir saja terjungkal karena licin, Jiho sudah disana dan berdiri diam di ambang pintu.
“Tuan Ahn?”
Suasana rapat langsung riuh, jelas semua orang terkejut, tapi Chanyoung di ujung jauh sana mendapat tatapan paling rumit dan sakit dari Jiho, untuk pertama kali setelah ia sadar dari koma, Ahn Jiho kembali menangis menyedihkan seperti Jin Dabeom.
Jaeyong berdiri di belakang Jiho, napasnya hampir habis saat sang Kakak memutus atensinya dari tiga orang di ambang pintu untuk bangkit.
“Rapat ditunda dulu, kalian bisa kembali ke ruangan masing-masing.” Katanya.
Sepuluh orang keluar tanpa tapi, menunduk melewati Jiho yang menangis entah apa alasannya, mereka ingin tau tapi melihat ekspresi Jaeyong saja nampak ketakutan, lebih baik mereka juga diam.
Jiho masuk bersama Eunho dalam gendongan.
“Ada apa?” tanya Chanyoung.
Jiho tak menjawab, tapi air matanya terus mengalir, Chanyoung melihat Eunho yang menangis dalam kebingungannya, lantas menghela napas saat anak itu menangis keras bersama Jiho.
Paduan suara.
“Yong, bawa Eunho ke ruangan gue.” Kata Chanyoung sebelum Eunho semakin histeris.
Jaeyong meraih Eunho dari Jiho yang lemas dan sesenggukan, “Jiho, maaf,” ujarnya penuh rasa bersalah, lalu membawa Eunho pergi sambil berusaha menenangkannya.
“Jiho — ”
“Eunho.”
Diangkatnya pandangan jatuh pada Chanyoung yang disela, langsung runtuh tanpa banyak usaha, selanjutnya Jiho menyerangnya sampai kehabisan kata-kata.
“Aku pikir aku selalu bisa percaya sama kamu, Yoon Chanyoung.”
“Tapi apa kata mereka tadi bener-bener buat aku takut!”
“Jiho….”
“YOON EUNHO! …. bukan Ko Eunho….”
Jiho nampak sangat terluka sampai lirih di kalimat keduanya benar-benar jadi belati yang menusuk menyentak jiwa raga Chanyoung.
“Kalian bilang Eunho anakku, aku yang melahirkan dia, aku percaya saat itu, aku takut berpikir semua itu gak nyata karena Aku benar-benar percaya Eunho anakku!”
“Eunho hidupku!”
Jiho terus menangis sampai sesak, sampai kepalanya sakit, Chanyoung menarik kursi untuk ia duduk disana, sebelum Pria itu memulai ceritanya.
“Dia lahir satu bulan sebelum kamu sadar dari koma.”
“Namanya Ko Eunho, ditelantarkan Ayahnya sejak dalam kandungan, Ibunya kabur setelah melahirkan Eunho, hari itu aku putus asa karena hampir kehilangan kamu, Jiho, Aku cuma bisa minta ibuku untuk adopsi Eunho karena aku belum legal untuk itu, aku dan yang lainnya merawat Eunho sama-sama, sampai saat kamu sadar dan melupakan semuanya,” Chanyoung menjeda untuk mengambil napas panjang, sesak di dadanya menguras tenaga, yang lebih parah karena sakit yang tak berwujud dalam hatinya menyiksa luar biasa.
“Mama mu bilang kalau Eunho adalah Anak kamu.”
“Kamu yang melahirkannya, dan — ”
“Kamu Ayahnya….” lirih Jiho putus asa.
Chanyoung mengangguk kecil, “aku Ayahnya,” katanya.
Tiba-tiba tatapan Jiho menjadi kosong, tapi senyumnya timbul, sebuah kekehan miris terdengar, “karena itu, kita nggak menikah?” tanyanya.
Chanyoung menoleh, tatapannya redup, Jiho jatuhkan atensi padanya.
“Karena kamu merasa bertanggung jawab atas Eunho setelah hari itu, kamu merawat kami berdua seolah-olah kamu adalah Suami dan Ayah yang baik?”
“Jiho — ”
“Kamu mencintai orang lain!”
Bentak keras itu menghentak Chanyoung sampai terdiam.
“Karena Jin Dabeom itu kamu nggak menikahi aku?!”
“Aku harus ketemu sama ‘orang penting' itu apa dia? Jin Dabeom yang kamu cintai selamanya itu, iya?!”
Chanyoung terkekeh lantas menunduk, biarkan air matanya jatuh.
Hidup memang lucu, tapi tak tau bisa serumit ini lucunya.
“Iya.” Kata Chanyoung.
“Aku mencintainya.”
Matanya lurus, tatap Jiho diam terpaku.
Kepalanya tertunduk bersamaan dengan kedua lutut Chanyoung menyentuh lantai, menatap Jiho yang pada akhirnya akan kembali pada dirinya sendiri, kepada cinta yang semestinya.
“Aku sangat mencintai Jin Dabeom, Jiho.”
“Kak Kyungjun!”
Jiho berlari terburu tanpa peduli tempat itu ramai, malam dingin tak menjadi halangan, ia ingin Kyungjun membantunya segera sebelum Jiho menjadi gila.
“Jiho? kamu kenapa? ada apa? kenapa nangis?”
Panik Kyungjun, meraih Jiho yang sampai padanya dalam payah, napas berat dan wajah merah, basah, pedih tatapan Jiho jatuh padanya, Kyungjun takut bukan main karenanya.
“Kak…”
“Aku mohon….”
“Bantu aku, aku mohon….”
Diberinya sepasang mata penuh harap tapi juga sarat putus asa, hancur hati Kyungjun melihatnya, kedua tangan Jiho terkatup di depan dada, memohon padanya yang entah apa.
“Kamu tenang dulu, Jiho.”
“Jelasin ke Kakak kamu kenapa?”
“Siapa yang bikin kamu nangis begini?”
“Jin Dabeom!” seru Jiho rusuh.
“Aku harus ketemu sama dia! aku harus bicara sama dia, aku —”
“Jiho, tenang!”
Kyungjun menyentak bahu Jiho, menangkup wajah anak itu dan menatapnya penuh, barulah Jiho diam dan hanya balas menatapnya sambil menangis sesenggukan.
“Aku mau ketemu Jin Dabeom….” lirihnya dengan tatapan kosong.
Benar-benar putus asa.
Sama, Kyungjun juga sampai di titik terendah pertahanannya.
Ia akan membawa Jiho bertemu dengan Dabeom.
Tangan Kyungjun lepas dari wajah Jiho, merambat turun meraih tangan anak itu untuk digenggam, pertama kali setelah kembali dipertemukan, tapi Kyungjun tau ada siapa di mata Jiho saat ini.
“Ayo, kita ketemu sama Jin Dabeom.”
Tak ada Jiho yang ceria malam itu, genggaman tangan mereka terasa hampa, Kyungjun menangis dalam diam, berjalan sambil berpikir tapi tak benar-benar memahami apa yang dipikirkan, Jiho hanya diam tanpa bicara apapun.
Bertemu dengan ramainya barisan orang menunggu lampu berubah merah untuk menyebrang, genggaman tangan mereka lepas saat ponsel Jiho berdering.
“Ya?”
“Eunho?!”
Dan Jiho langsung berlari begitu saja tanpa sempat Kyungjun cegah.
“JIHO AWAS!”
BRAKKK!!!
Lutut Kyungjun membentur aspal di sisi tubuh Jiho yang terkapar setelah terlempar begitu sebuah mobil yang melaju menabraknya cukup keras.
“Da-Dabeom….” lirih Kyungjun saat mata Jiho masih terbuka.
Saat ia rengkuh kepala Jiho dengan tangan gemetar, saat darah mulai mengotori kemeja yang ia kenakan, saat napas Jiho mulai lemah dan Kyungjun menatap penuh dengan kepala berisik nan rancu, yang bisa ia temukan hanya satu.
“Jin Dabeom.”
Dalam riuh yang tercipta, kesadaran Jiho kandas setelahnya, seluruh tubuhnya sakit sampai tak sanggup menahan semua, tapi satu yang ia rasakan sebelum benar-benar tertidur adalah, ‘aku, Jin Dabeom.’ Dan, selesai.
— to be continue.
demonycal property.