Hinandra
8 min readJan 8, 2024

ECCEDENTESIAST : The Drama.

“JADI LO,… selama ini, cuma acting doang?”

Entah kenapa dengan nada kecewa itu, Jinha berada di sebelah, tepatnya di antara Seungbin dan Kyungjun yang saling berhadapan.

“Lo…. keliatan tulus dan bener-bener nyata, Jun, kemarin, kita semua percaya sama lo.” Ujar Seungbin masih dengan raut yang sama.

“Bin…” Jinha coba tenangkan, tapi matanya panas entah kenapa.

Kyungjun menghela napas dan mundur lalu menatap ke luar jendela, “gimana kalian bisa tau?” tanyanya menahan geram.

“Lo sering ngelarang kita berdua buat dateng ke tempat lo akhir-akhir ini, lo sering urus masalah lo sendiri, gue pikir itu karena lo emang lagi niat-niatnya berubah dan mungkin ngerasa malu atas perubahan lo itu, tapi…. lo bener-bener Drama King, Kyungjun.”

Bukan, itu bukan Seungbin tapi Jinha, kepalanya tak lagi kosong kali ini, matanya juga berisi, bukan hanya kecewa sebab Kyungjun melewatkan mereka untuk entah sebanyak apa rahasia selama ini, juga karena kepercayaan mereka yang teramat besar beserta harapan kalau memang Kyungjun menjadi anak yang lebih baik, mereka pun pasti akan menyertai tapi semua sia-sia.

“Lo gak bener-bener jatuh cinta sama Dabeom?”

Kyungjun berbalik dan menatap kedua kawannya emosi, “kenapa kalian jadi peduli sama dia!?” tanyanya.

“LO YANG BIKIN KITA PEDULI SAMA DIA GIMANA SIH?!” bentak Jinha, kesal.

“Lo yang bikin semua orang percaya sama sikap baik lo, anjiiiinglah, fak kata gue teh!” kata Seungbin, tak habis pikir, semua yang ia lewati selama ini menyangkut Kyungjun dan Dabeom bahkan ia ceritakan pada pacarnya yang ikut antuasias dan senang kalau Kyungjun memang berniat dan berusaha berubah menjadi lebih baik, terlebih itu karena Dabeom.

“Haaah, gila, gak nyangka gua lo bisa bermulut manis gitu, cocok nyalon jadi Presiden,” kata Jinha dengan gelak tawa kosongnya.

“Siapa yang bakal milih Presiden Drama King? omongnya kosong, gue pikir ketulusan gak bisa dimanipulasi, tapi — waahh, hebat banget lo, Ko Kyungjun!” kata Seungbin yang malah terdengar seperti sedang mengolok-olok sahabatnya itu.

“Mau kemana?!” tanya Jinha sewaktu Kyungjun hendak berlalu.

“Pemakaman.”

“Ngapain? siapa yang mati?” tanya Seungbin.

“Yoon Chanyoung.” Jawab Kyungjun.

Jinha dan Seungbin segera bertukar pandang.

“Kapan dia mati!?” tanya Jinha, seraya memasukkan ponselnya ke dalam saku jas.

“Kenapa dia mati?!” Seungbin juga kepo.

“Kenapa lo berdua peduli!?” tanya Kyungjun geram tanpa berbalik.

“Menurut lo kenapa? Kalo dia mati dan lo yang dituduh jadi terangka, kita berdua pasti keseret karena jadi temen lo.”

Barulah Kyungjun berbalik ketika Seungbin berkata begitu.

Matanya nyalang menatap kedua sahabatnya itu, mereka terus tampak kecewa walau kini tersenyum kecil padanya.

“Kenapa gua jadi tersangka?”

“Kok lo bisa tau kalo dia mati?”

Kyungjun terdiam begitu Jinha segera melempar tanya untuk membelas pertanyaannya.

“Lo yang bunuh dia, ‘kan?”

Kyungjun tak menjawab pertanyaan Seungbin.

“Kenapa kalian terus nyerang gua?!” bentaknya keras seraya melangkah mendekat.

“Gak ada yang nyerang lo, Kyungjun, lo sendiri yang ketakutan, jadi sedikit aja orang tanya-tanya ke lo rasanya kaya lagi diintrogasi, dan cuma penjahat yang ngerasa takut, karena sadar dirinya salah.”

Kyungjun kehabisan kata-kata, bagaimana bisa bahkan Jinha berkata demikian padanya?

“Kenapa lo lakuin ini semua? apa tujuan lo?” tanya Seungbin.

“Lo gamau kasih tau kita berdua? kita sahabatan udah selama ini loh, Jun.” Kata Jinha sedih.

“Ko Kyungjun!” bentak Seungbin sebab yang diajak bicara hanya diam.

Semakin lama melihat Kyungjun, rasanya semakin sakit, rasanya seperti tidak bernapas, berat, bersahabat dan dikhianati rasanya seperti mati.

“Yoon Chanyoung, dia masih hidup.” Kata Jinha seraya keluarkan ponselnya dan mengirim sesuatu pada sebuah ruang obrolan.

“APA YANG KALIAN LAKUIN, BANGSAT!”

BRAK!

“Jinha!” Seungbin berseru ketika Kyungjun melompat dan menyerang Jinha hendak mengambil ponselnya.

Jinha tersungkur menabrak tumpukan meja dan ponselnya terlempar.

“SEUNGBIN!” teriak Kyungjun seraya berlari.

Prak!

Tapi ponsel itu terbentur lantai dengan keras sebab Seungbin membantingnya kuat-kuat sampai hancur dan tak lagi bisa menyala.

“JINHA!” Seungbin tak peduli bagaimana paniknya Kyungjun coba menyalakan ponsel itu, ia berlari hampiri Jinha yang kepalanya terluka.

Menyangga tubuh Jinha dan memapahnya menuju ruang kesehatan, “terserah lo mau ngapain sekarang, gausah lo ajak-ajak kita berdua, kita udah gak peduli lagi,” katanya sebelum dengan buru-buru membawa Jinha yang kepalanya berdarah.

Dan —

“HAISSHHH! BRENGSEK!”

Ponsel Jinha sudah rusak semakin hancur dilempar Kyungjun ke dinding hingga berakhir pecah seribu di lantai.

Dijenggutnya rambut hingga berantakan, seluruh kepala panas membara, detak jantung berpacu riuh dengan amarah membumbung tinggi kali ini, Kyungjun hanya ingin menjadi ‘Kuat’ ia tak ingin berakhir menjadi yang dimangsa, ia tak ingin orang lain lebih baik darinya, terutama jika itu Yoon Chanyoung, Jang Hyunho dan siapapun.

Oleh karena itu, saat kebetulan keduanya mengarah pada satu orang yang sama, Jin Dabeom, Kyungjun ingin menguasainya.

Ia ingin Dabeom ada dalam genggamannya, sampai Hyunho mengaku kalah dan Chanyoung menyerah, sampai keduanya pasrah dan berhenti tunjukkan siapa yang paling hebat di antara mereka bertiga, sampai saat itu bahkan jika harus bermain peran, Kyungjun lakukan.

Dan benar, malam itu tak ia rencanakan, saat Karyawisata berjalan, Dabeom hanya sebuah boneka yang bisa ia peralat ternyata, saat ia usahakan sedikit permainan dengan kata-kata, Kyungjun bisa mengalahkan seorang Oh Jungwon yang dipawangi oleh Kim Somi, Kyungjun bisa membuat Junhee seorang yang amat sangat disegani itu bahkan bersikap baik padanya, lalu siapa lagi kalau bukan Jang Hyunho? Pemuda bodoh itu, terlena pada perasaannya hingga dengan mudah percayakan Dabeom pada seorang Ko Kyungjun.

Mungkin ia keliru, Seungbin dan Jinha malah benar-benar terjebak dalam Drama yang dia ciptakan, tapi setidaknya Hyunho sudah kalah dan sekarang Dabeom ada pada kuasanya, Chanyoung harusnya menyerah, jika memang ia belum mati, apa lagi yang ingin ia usahakan disini? Dabeom sudah mencintainya.

Mencintai Ko Kyungjun.

Dabeom hanya bisa menunduk di satu kursi yang dikelilingi semua orang, bahkan Yoonseo menatapnya tajam, rasanya seperti tak jadi mati hari ini tapi tetap dihakimi malaikat penjaga Surga dan Neraka. Khusus Chanyoung yang berdiri di belakangnya, dia Malaikat Pencabut Nyawa, habis pakaiannya hitam semua. Tapi bukan itu yang penting sekarang, semua orang sudah tau kenyataan.

Dabeom harus bagaimana lagi setelah ini, rasanya sudah muak menangis tapi konyol kalau tertawa, dia bukan orang gila walau warasnya pun perlu dipertanyakan juga.

Junhee ambil posisi di sebelah Jungwon, Somi di belakangnya, Yoonseo duduk manis di ujung sofa tapi matanya seolah tengah coba melubangi dahi Dabeom.

Semua orang menakutkan sekali hari ini. Hyunho terus terkekeh dan menghela napas lalu tersenyum-senyum sendiri atau memang dalam kepalanya sedang melukis skenario psikopat dimana ia benar-benar bisa membunuh Kyungjun dengan segala alasan berdasarkan fakta dan data yang ada.

Hanya Juwon dan Wooram yang jadi harapan, tapi sepertinya mereka berdua lebih memihak Oh Jungwon daripada membela Dabeom, dua kutil kadal itu tak akan berani secuilpun melawan Jungwon bahkan jika itu demi Dabeom.

“Eumm….” Dabeom bingung, ingin menangis, tolong.

Jaeyong menyeringai di ambang pintu ruangan entah apa lah itu, Dabeom tidak tau tapi di lihat dari tatapannya seperti Jaeyong senang melihat Dabeom dihakimi massa begini.

Hidup melelahkan, tapi khusus hari ini melelahkan sekali.

“Gue gatau harus ngomong apa.” Itu kata Junhee. Bahkan kepala Suku sudah menyerah.

Dabeom melas menatapnya, Junhee menghela napas pasrah, sudah, ampun.

“Hahahahah! aduuuhhh! hahahahahaha!” Yang ini, Oh Jungwon.

Dikira gila mendadak, sampai Somi menepuk bahu Pacarnya itu, “kamu teh kenapa?” tanyanya, takut.

“Ini anak,” tunjuk Jungwon pada Dabeom yang kemudian meringis, “inget nggak sih malam itu, dia manggil Kyungjun apa? hahahaha, goblok.” Kata Jungwon diakhiri dengan sebuah tatapan menghakimi yang membuat Jaeyong tergelak, serius.

Dabeom tak akan maafkan anak itu, demi apapun, Dabeom akan membawa Jaeyong mati nanti.

“Hidup lagi capek-capeknya malah percaya sama bajingan cap kodok zuma kaya Kyungjun,” keluh Kim Somi dengan julidnya.

“Gausah banyak omong lah, gimana dan dimana gua bisa bunuh dia? tangan gua udah gatel banget ini,” kata Hyunho dengan lengkung ngeri hias wajah gantengnya.

Wooram merinding sampai mencubit Juwon yang menahan pekikan, sialan, pedas sekali lengannya sampai biru.

“Kita bisa bubar dulu aja nggak?” tanya Dabeom kemudian.

“Kenapa? terakhir kali kita bubar lo udah masuk perangkap kadal buntung,” kata Jungwon.

Sadisssss.

“Setidaknya… kalian duduk, jangan kelilingin gue kaya gini, gue bukan Mafia, jangan hakimi gue, please….” kata Dabeom dengan getir mampus, melas penuh menatap semua orang di hadapannya.

“Duduk.” Kata Chanyoung.

Lalu semua, satu persatu dimulai dari Kepala Suku ambil posisi duduk tapi tetap mata mereka menatap Dabeom dengan tajam, khusus Yoonseo ada dendam disana, di sepasang mata anak manis nan polos itu, untuk pertama kalinya tersirat kebencian dan amarah yang sedang coba ditahan.

“Kalo lo gamau pindah sekolah, buat dia pergi dari sekolah.” Kata Jaeyong, ikut-ikutan.

Yasudahlah, mumpung sudah nyemplung, basah kuyup saja sekalian.

“Biar apa? lo bisa berkuasa?” tanya Wooram, sebal dia dengan Jaeyong memang.

“Sembarangan, nggak ya anjing!” ujar Jaeyong marah.

“Tapi — ”

“Bener.” Yoonseo menyela, tiba-tiba saja anak ini beraura beda, matanya berkilat dan seperti ada hawa gelap di sekitarnya.

“Bener kata Jaeyong, kalo kamu ngga mau pindah sekolah, kita buat Dia keluar dari sekolah.” Kata Yoonseo.

“Orang tuanya yang punya Yayasan,” kata Hyunho.

“Dia aja bisa hapus CCTV sesuka hati dan masih bebas bahkan ketahuan jadi tukang bully selama ini, masih ada tuh dia sekolah bebas dan tenang,” imbuhnya lagi.

Dabeom menghela napas dan menunduk, hampir menghantam kepalanya dengan kepalan tangan kalau saja tangan Chanyoung tidak tiba-tiba menyela dan menarik kepalanya menjadi tegak.

Junhee hampir memukul Chanyoung saat itu, tapi batal sebab kemudian anak itu bilang, “gua bawa kalian semua kesini bukan buat ribut gak jelas disini, diskusi, kalo kalian gak bisa cari jalan keluar, besok gua kirim mayat Kyungjun ke depan rumah Ketua Yayasan.” Kata Chanyoung yang seketika langsung disambut hening, bahkan Hyunho pun diam.

Bukan takut, tapi sebenarnya Hyunho akan dengan senang hati bergabung ke dalam tim dengan rencana cemerlang itu, serius.

“Jangan bawa-bawa kekerasaan dong,” kata Juwon selaku Ketua OSIS yang bijaksana, “serahin aja semua bukti ini ke Kesiswaan, harusnya mereka tetap adil siapapun itu muridnya, Kyungjun tetap harus dihukum atas perbuatannya,” imbuhnya.

“Lo pikir bisa segampang itu?” tanya Jaeyong dengan tengil.

“Kalo bisa cuma dengan bukti begitu, Abang gua gak harus sampai hampir mampus,” imbuhnya penuh dendam. Jaeyong tidak mau Chanyoung mati, ia malas sekali kalau harus menggantikan Kakaknya itu meneruskan semua usaha Keluarganya.

“Terus kita harus gimana?” tanya Wooram.

“Udah Dabeom pindah sekolah aja.” Kata Somi.

“Pindah Negara juga boleh, Kyungjun pasti terus cari ‘lo kalo tiba-tiba pindah sekolah dan menghilang,” kata Jungwon.

“Gausah mikir mau mati,” ujar Yoonseo langsung membungkam Dabeom yang baru buka mulut langsung terkatup kembali.

“Kalian bisa pulang aja nggak?”

Dan lagi, semua mata tertuju padanya. Dabeom tak lagi gugup atau merasa takut, tatapannya kosong tapi semua tau ia masih Dabeom yang sadar kalau dia masih bersama mereka.

“Pulang dulu aja terus besok kita ketemu di sekolah, anggap aja gue ngga tau apa-apa, anggap aja kita semua gak tau kebenarannya.”

“Kenapa?” tanya Hyunho, sewot.

“Karena dia yang mulai bermain peran duluan dan ngajak kita semua.”

Dabeom menatap semua orang di depannya satu persatu dan berhenti pada Kim Somi yang hanya perlu ditatapnya sejenak langsung balas menyeringai.

“This is a Drama, I’m the Drama.”

— to be continue.

demonycal property.

No responses yet