Hinandra
4 min readJan 23, 2024

ECCEDENTESIAST : Quiescence.

Sepekan telah berlalu, dan Jiho sadar. Semua ada disana, bahkan juga Kyungjun. Saat dulu, pertama kali merasakan koma dan sadar lantas menjadi Ahn Jiho, tidak ada Kyungjun yang menyapanya, ternyata Pria itu, yang perlu ia dengar ceritanya, tentang siapa dirinya, juga siapa Jiho untuknya.

Jiho, adalah Jin Dabeom.

Semua, kembali lewat mimpi. Semua yang dikira hilang, nyatanya tersimpan dalam memori yang tersembunyi dalam jiwa Jin Dabeom.

“Sejak kapan tepatnya kamu mencintaiku?”

Kyungjun menoleh, pada Jiho — atau sekarang kembali menjadi Jin Dabeom, — yang duduk di kursi roda, rooftop yang sama, dimana Kyungjun dan Monster dalam dirinya berlaga selamatkan Dabeom dari jurang kematian yang tak berujung.

“Romeo dan Juliette.”

“Waktu kamu bilang di skors sama Chanyoung?”

Kyungjun mengangguk.

“Yang ternyata saat itu Chanyoung sekarat?”

Lagi, Kyungjun mengangguk.

“Kamu hebat.”

Jiho tersenyum, Kyungjun menatapnya tanpa jeda, bahkan kalau bisa tak berkedip, akan ia lakukan.

“Aku benar-benar jatuh cinta.”

“Sama kamu, aku percaya, walaupun aku masih nggak suka Preman, tapi aku suka diperlakukan dengan baik, dilindungi sampai merasa aman, aku tenang menerima kamu.”

Jiho juga masih bisa tersenyum, walau Kyungjun menunduk, “kenapa?” tanyanya.

Kyungjun balik menatapnya, tapi seakan kelu tak mampu bersua.

“Kenapa harus ‘aku’ yang kamu libatkan dalam Drama itu?”

Kyungjun menggeleng, dan menunduk lagi.

“Aku mendongeng untukmu, supaya masih bisa kamu dengarkan selama tujuh menit sebelum kamu mati saat sudah tua nanti, lalu aku menelan semua obat yang bisa kutelan, aku ingin tidur, dan bisa terbang, sejenak aku senang, tapi aku nggak mau bangun lagi, karena mencintaimu saja sudah susah, mencintaimu saja sudah sakit,” lalu Jiho menggeleng dan tersenyum manis, air mata andil, tapi ia tak nampak menyedihkan, Kyungjun yang mewakilkan, kini, ia rasakan apa yang dahulu Dabeom rasakan.

“Aku berharap tidak akan jatuh cinta lagi, sama kamu ataupun orang lain dengan mati, aku mungkin hanya akan bertemu malaikat kematian, nggak mungkin aku jatuh cinta dengannya, tapi ternyata aku masih bangun, melihat semua orang dari sudut pandang yang berbeda, aku bukan lagi Jin Dabeom, Aku Ahn Jiho.”

“Tapi aku tetap mencintaimu.”

Kyungjun ingin tersenyum tapi ia justru menangis lebih banyak, bagaimana bisa ini terjadi? Bagaimana bisa sesakit ini? Rasa bersalah itu menelannya utuh sampai kehabisan kata-kata, sekedar meringis saja Kyungjun rasa tak pantas.

“Jangan lupa aku juga menyakitimu.” Kata Jiho.

“Kamu pasti trauma karena semua yang terjadi di hari itu, rekaman yang diputar di aula, semua luka dari Chanyoung, dan ciuman itu, aku mencium orang lain saat aku mencintaimu, aku menciumnya dengan kemarahanku, aku menciumnya dengan kekecewaanku, sama kamu.”

Sore di pilih agar hangat, tapi lupa kalau angin yang berhembus ciptakan sejuk kelewat membasuh wajah yang basah.

Senyum yang terbit, bersama perasaan yang terbenam.

“Tapi aku tetap mencintaimu saat menelan obat itu, aku tetap mencintaimu saat jatuh dari atas sana, aku tetap mencintaimu saat terbentur keras setelahnya, aku tetap mencintaimu saat koma, aku tetap mencintaimu, Kak Kyungjun, sampai detik ini,” terjeda kalimatnya, Jiho meraih telapak tangan besar Kyungjun yang tak lagi menangis namun tatapannya penuh harap, ber —asa, ingin bersama.

“Aku mencintaimu tanpa jeda, walaupun aku melupakan siapa aku, siapa kamu, siapa kita di masa itu, aku melupakan bagaimana aku bisa punya cinta yang sekuat ini untukmu, setelah semua yang aku lewati, aku ingin tetap Hidup, aku ingin bahagia.”

Kyungjun balas genggaman erat tangan Jiho, menatapnya penuh dengan asa, menyerahkan segenap perasaan dirinya penuh pada Jiho kali ini.

“Jin Dabeom.”

“Kakak benar-benar mencintaimu, di setiap rindu setiap malam dan setiap hari, sampai detik ini, Kakak nggak bisa menghidupkan kembali bunga yang sudah mati, tapi Kakak bisa menanam kembali bunga baru untuk Kita rawat sama-sama.”

Kyungjun melepaskan semua topengnya, ngerobek tirai yang menutup panggung Drama-nya, mengoyak semua skenario yang dahulu ia rangkai tanpa rasa iba, kini ia putus asa, segenap hatinya telah berpusat pada cinta yang hanya untuk Jin Dabeom seorang.

“Aku mencintaimu, Kak Kyungjun.”

“Dulu, untuk semua rayuan yang membuat aku berdebar, aku senang, senang sekali bisa merasakan semua itu dan benar-benar percaya dengan semua yang kamu berikan walau ternyata Kita hanya sedang Bermain Peran dengan Perasaan.”

“Dabeom….” lirih Kyungjun melempar senyuman, hatinya menghangat, genggaman tangan mereka mengerat.

“Aku mencintaimu, Kak Kyungjun.”

“Sekarang, untuk jeda yang menghidupkanku, senang sekali aku jatuh dalam pelukanmu, kalau saja aku mati saat itu, Aku nggak akan pernah belajar betapa berharganya hidup walau sulit, aku nggak akan pernah tau kenapa aku mencintaimu sampai saat ini, setelah semua yang terjadi.”

Senyuman itu bersinar, dalam redup sandyakala dilahap ufuk barat, menyongsong renjana yang telah utuh, bumi telah memutuskan, memulangkan matahari pada senja, dan menyambut rembulan nan tenang menghidupkan.

“Aku masih mencintaimu, untuk memaafkanmu, untuk berdamai dengan semua penderitaan di masa lalu, aku masih mencintaimu untuk membebaskan perasaanku dari kemarahan, dari kekecewaan yang hampir membunuhku.”

Genggaman terlepas, telapak hangat Jiho mendarat di bahu Kyungjun, tatapannya teduh, tidak lagi berselimut sendu ataupun nelangsa, ia benar-benar menghayati segenap cinta yang ada untuk Kyungjun, untuk memaafkan segalanya, sampai merasa lega.

“Jin Dabeom.”

Empunya nama mengangguk, “sekarang Ahn Jiho, yang pernah jatuh tapi sekarang berdiri lagi, yang pernah patah tapi sekarang sudah tumbuh, Jin Dabeom yang hilang nggak akan pernah berganti tapi ini Hidupku, sekarang, Ahn Jiho.”

“Ahn Jiho yang mencintai Yoon Chanyoung.”

Kyungjun memaksakan senyum, Jiho mengalih atensinya pada nyala jingga di menggalang hangat nan indah mewarnai langit sebelum gelap menyapa.

Jiho tau Kyungjun terluka, tapi sudah, sudah tersirat jelas jika saja semua tak ia selenggarakan dengan topeng dan naskah dramanya, Kyungjun akan menjadi Raja, dan Dabeom Ratunya.

“Ko Kyungjun, the sunset is beautiful, isn’t it?”

Kyungjun menurut langkah takdir, akan ia sapa selamat tinggal jika perlu, memeluk perpisahan walau lukanya terbuka dan menyiksa sampai lupa dunia, tak apa.

Perang yang sebenarnya baru saja usai, cerita Kyungjun dan Dabeom, selesai.

— special chapter satu, end.

demonycal property.

No responses yet