Hinandra
5 min readDec 29, 2023

ECCEDENTESIAST.

Ko Kyungjun menganggap dunia penuh dengan keklisean, semua hal terlalu mudah ditebak, berputar-putar begitu saja, sama saja, mudah melihat segalanya hanya dengan diam dan merekam semua kejadian; tapi saat malam datang di hari terakhir karyawisata, di puncak lantai 5 dengan angin dingin bertiup kencang, menusuk hingga tulang namun bukan itu yang menenggelamkan dirinya jauh pada keengganan untuk memberi atensi lebih pada sesuatu.

Adalah segelak tawa bersiring dengan air mata, amuk marah yang menggelora bersama sapuan sejuk yang pasti jadi keterlaluan sebab air mata berderai di wajah penuh luka itu.

Jin Dabeom.

Hanya seorang pemuda lemah yang taunya menghindar atau kena pukulan, dirundung hampir di setiap hari dalam 5 hari sekolah, belum lagi di hari ke-6 kalau-kalau tak sengaja bertemu dengannya, iya, salah satu alasan mengapa luka-luka itu terlukis diwajah Dabeom adalah Kyungjun.

“AAAARGGHHH!!”

Barangkali Dabeom tau bahwa angin kencang akan segera membawa hilang teriakannya, angin pula tak akan menertawai pecundang seperti dirinya, langit menerima kesedihannya lewat awan hitam yang menutupi rembulan, entah hanya tau atau memang sudah hapal sebab sesering itu Dabeom mengalami semua hal buruk dalam hidupnya hampir di setiap hari dalam satu pekan.

Ko Kyungjun yang awalnya berniat menikmati malam sendirian bersama kepulan asap rokok juga sekaleng soda batal, matanya seakan terpaku pada seberapa frustasi seorang Jin Dabeom jauh di ujung atap gedung.

Tak ada satu katapun yang terucap, membuat Kyungjun semakin penasaran apa yang dia pikirkan, bagaimana dia tertawa bersamaan dengan tangis yang tak kunjung reda? jatuh terduduk payah memukul dadanya, menunduk lalu menghela napas sampai Kyungjun menelan berat ludahnya, entah kenapa dadanya yang sesak.

Dabeom bangkit, kakinya melangkah setelah tangisnya tandas, mungkin sudah lelah dan ingin pergi tidur, Kyungjun kelabakan ketika itu, berpikir sudah tidak ada jalan lain, mengubah ekspresinya sedatar mungkin.

Dabeom membuka pintu dan Kyungjun hampir memijak lantai teratas menuju atap, pandangan mereka bertemu untuk beberapa saat, mata Dabeom masih berbinar basah saat membalas tatapan Kyungjun nan enigmatis.

Dabeom menunduk dan segera berjalan turun, hendak pergi dan mengabaikan Kyungjun.

tak, tak, tak….

“Dabeom.”

Kyungjun mengumpat dalam hatinya, sial, kenapa refleknya aneh sekali?!

Dabeom gemetar, Kyungjun tau itu.

“Ngapain di atas?” tanya Kyungjun.

“Cu-cuma… cari angin, iya…” jawab Dabeom, terpaksa membalas pandang Kyungjun.

Oh, dan jangan lupakan si tukang marah-marah itu memanggil namanya dan bukan ‘Kecil!’

Kyungjun ditepis, tangannya lepas dari lengan Dabeom yang segera berlari meninggalkannya, Kyungjun lupa niat awal mau sebat, menatap turun pada Dabeom yang seakan menghindari setan.

Kyungjun membawa langkahnya mengikuti Dabeom, melangkah lebar dalam keheningan malam, sepanjang menatap langkah pemuda itu dari jauh, Kyungjun berusaha melupakan apa yang dilihatnya tapi Dabeom terus saja menangis dalam ingatannya.

“Dabeom!” Yoonseo datang bersama Jungwon dan Junhee, mereka terlihat khawatir.

Tiga orang itu melihat Kyungjun jauh di belakang Dabeom, tapi di lorong yang sepi obrolan mereka masih bisa terdengar jelas, dan bagaimana sorot benci tiga orang itu tertuju padanya, membuat kesal.

“Kamu nggak apa-apa?” tanya Yoonseo dengan raut khawatir.

“Lo darimana aja sih, kita khawatir dan cari ‘lo kemana-mana tau!” galak Jungwon dengan wajah dinginnya.

Junhee menghela napas, menatap Kyungjun penuh dengan kebencian, “jangan bilang ‘lo habis dibabuin lagi sama dia?” tanyanya.

Dabeom jadi noleh ke belakang dan baru tau kalau ternyata ada Kyungjun, tapi segera menggeleng menjawab pertanyaan Junhee sebelum terjadi kesalahpahaman, “enggak, aku nggak apa-apa,” katanya ke Yoonseo, “gue sendirian dari tadi dan ngga tau ada Dia, Kak, udahlah, ayo ke kamar, besok kita udah balik,” katanya ke Jungwon dan Junhee yang jelas-jelas tidak cukup dengan jawaban Dabeom.

“Udah, ayo,” ujar Dabeom berakhir menyeret tiga orang itu kembali ke kamar mereka.

Kyungjun kembali ditinggalkan, yang sebenarnya terserah saja sih, toh memang Dabeom tidak pernah bersamanya tapi entah kenapa Kyungjun merasa amat tidak puas melihat Dabeom malam itu.

“Menurut lo kenapa orang malem-malem nangis sendirian?”

Jinha dan Seungbin menoleh begitu Kyungjun melempar tanya, sempat berpikir senyap karena Kyungjun sudah tidur tapi ternyata belum.

“Habis putus?” ujar Jinha.

“Itu mah elo,” kata Seungbin, “emang kenapa lo tanya begitu, Jun?” keponya kemudian.

“Jawab aja sih menurut lo pada kenapa,” balas Kyungjun sinis.

“Hmmmm, cewe apa cowo?” tanya Seungbin.

“Emang beda ya?” tanya Jinha.

“Ya beda lah, goblok!” balas Seungbin.

“Cewe?” ujar Kyungjun. Ini entah kenapa dia sebut cewe, padahal yang dipikirkan jelas-jelas Jin Dabeom.

“Kalo kata cewe gue ya, kalo pms itu bisa nangis tiba-tiba sedih banget kaya terluka mampus, tersiksa batin, biasanya malem-malem karna rawan ovt dan sepi jadi semacam keputer balik semua kesedihan yang selama ini ditahan,” kata Seungbin.

“Udah cocok lo jadi psikopat, Bin,” ujar Jinha.

“Psikolog, bangsat!” kata Seungbin, geplak keras kepala Jinha yang tololnya melampaui atmosfir.

“Kalo cowo?” tanya Kyungjun, mana serius sekali pula wajahnya.

“Siapa sih?” ujar Jinha random.

“Gausah kepo,” jawab Kyungjun.

“Oh, beneran ada orangnya ya?” tanya Seungbin.

Kyungjun balas menatap kedua bestodnya itu, “jawab aja apa pala lo gue gebuk batu bata?” ujarnya mengancam.

Jinha dan Seungbin kicep dan kemudian menjawab, “kan tadi gue udah bilang, siapa tau putus cinta,” kata Jinha.

“Depresi kali,” kata Seungbin, “cowo itu ‘kan kuat, kalo bukan karna cinta matinya mutusin, bisa jadi depresi, lagi capek-capeknya sama hidup,” katanya.

“Atau bisa jadi titidnya kejepit resleting,” kata Jinha.

“Lo tuh kenapa sih, bangsat?!” kesal Seungbin, dia ni berusaha mengimbangi keseriusan Kyungjun, si Jinha malah goblok banget, Tuhan, Seungbin capek.

“Bener ege, gue nangis waktu titid gue kejepit resleting,” ujar Jinha dengan manyun.

“Tapi, emangnya siapa sih?” tanya Seungbin ke Kyungjun.

“Hooh tuh, tumben amat mikirin gituan,” kata Jinha.

Kyungjun malah ngorok, kurang ajar, dari tadi dia ketiduran.

Tapi nyatanya pura-pura karena menghindari kekepoan dua bestodnya itu. Sambil terus dibebani pikiran dan terbayang-bayang tangis Dabeom di atas semalam.

Hingga Bus sudah siap mengantar mereka kembali ke sekolah, Kyungjun melirik barisan murid yang sudah masuk, biarkan Jinha dan Seungbin masuk duluan.

Dabeom masih memasukkan tas-tas yang lain ke dalam bagasi dibantu Junhee dan Hyunho.

Atensinya masih pada Dabeom sampai Junhee dan Hyunho masuk duluan dan Kyungjun segera meraih lengan Dabeom, menyeretnya tanpa bicara apa-apa.

“Kyungjun—”

“Duduk.”

Semua orang melihat mereka, Dabeom yang didorong Kyungjun.

“Ta-tapi — ”

“Duduk.”

Sebelum Kyungjun memaki hanya untuk hal sesepele duduk, Dabeom menyerah, biarkan dirinya menyentuh kursi di barisan tengah, dengan Kyungjun yang duduk di sisinya.

Yang sepanjang perjalanan, Dabeom duduk tegak menatap lurus ke depan atau sesekali menatap keluar jendela dengan earphone menutup telinga, enggan menoleh ke sisi sebelahnya, dimana Kyungjun memperhatikannya.

“Jin Dabeom.”

Empunya nama menutup mata lamat-lamat, tidak menoleh sedikitpun, walau Kyungjun yakin sebenarnya dia dengar panggilannya.

Srakk!

Kyungjun menutup jendela dengan tirai, reflek membuat Dabeom menoleh dengan tatapan bingung, Kyungjun segera menarik lepas earphone itu, mengganggu sekali.

“Denger gue manggil?” ujarnya intimidatif.

“Lo mau apa?” tanya Dabeom, menunduk dalam, selalu.

Kyungjun bingung, kenapa dirinya melakukan semua sampai sejauh ini.

Maka Kyungjun dengan Preman Cardnya mengenakan earphone Dabeom dan mendorong tubuh anak itu bersandar di kursinya, lalu melipat kedua lengannya sendiri di dada lalu menutup mata, merosot sedikit sampai sandarkan kepalanya pada bahu Dabeom dan terkekeh tengil, “selera musik lo boleh juga, Cil,” katanya.

Tolol.

Dabeom sudah ketakutan setengah mati dirinya akan dibully lagi, terlebih di dalam bus yang sebaiknya kondusif, ia tidak ingin menjadi alasan perjalanan pulang mereka semua tertunda.

Walau sebagai gantinya, Dabeom harus menahan sakit pada bahunya yang terluka sebab kemarin kemarin dibully.

Tanpa tau kalau dari sudut pandang Kyungjun menemukan sebuah plaster luka menutupi pergelangan tangan kiri Dabeom, siapa yang melukainya disana?

Dan begitulah semua dimulai, bagaimana Jin Dabeom ingin menyembunyikan segalanya disaat Ko Kyungjun berusaha menggali semua demi membunuh rasa penasaran dalam hatinya.

— to be continue.

demonycal property.

No responses yet