dollie boy — rahen ian, end.

Hinandra
4 min readAug 8, 2024

--

Rahen nervous banget.

Tapi dia udah gak bisa mundur lagi sekarang, Rahen harus nanggung semua hasil dari perbuatan nya terhadap Ian, apapun bentuknya setelah ini.

Toktoktok!

Pintu diketuk oleh Rahen dan Ian segera keluar. Iya keluar, terus tutup pintu. Rahen gak ditawarin masuk, tapi, “mau bicara di rooftop nggak?” tanya Ian.

“Boleh.” Yakali Rahen nolak.

Tapi mengingat jokes Sebas, dengan randomnya Rahen sempat berpikir, ‘apa gue mau dijorokin dari rooftop ya?’ soalnya ‘kan, siapa tau.

Tapi tidak, mereka duduk di sebuah kursi panjang menghadap ke pemandangan city lights alakadarnya yang lumayan menenangkan, langit juga cerah, angin cukup sejuk dan Rahen meletakkan paperbag yang dia tenteng sejak tadi ke pangkuan Ian.

“Maaf, saking nervous nya mau ketemu kamu tadi abang bingung mau bawain apa jadi itu semua yang abang inget kamu suka.”

Ian menelisik ke dalam paperbag di pangkuannya terus tersenyum, “makasih banyak, Bang, ini aku terima ya,” dengan riang membalas.

Bikin Rahen jadi makin kelimpungan milih kata, “anu…” ucapnya canggung, garuk tengkuk yang gak gatal.

“Aku nggak akan terima abang kalo misal abang ngajakin aku pacaran.”

Yah, langsung banget nih?

Bak muncul Zeus di langit bersama petir-petir menggelegar, dunia Rahen kacau. Tatapannya kosong, Ian di sebelahnya juga tetap tenang menatap langit malam dan bulan sabit yang menggantung di langit.

“Tapi aku tetep suka sama abang setulus-tulusnya, aku suka banget sama abang.”

Rahen bingung mau nangis apa jingkrak-jingkrak.

“Tapi apa yang terjadi sama aku karena abang itu benar-benar parah. Aku sakit, aku gak akan bisa kembali ke titik awal, abang sadar itu ‘kan?”

Rahen mengangguk, “iya,” katanya.

“Abang ngga akan bisa balikin aku ke hari sebelum abang ngelakuin itu, ‘kan?” ujar Ian lagi, tatapannya masih ke langit tapi suaranya mampu menusuk sampai Rahen sesak.

“Iya, Ian,” jawabnya.

“Abang minta maaf sebesar-besarnya atas apa yang dengan bejatnya abang lakuin ke kamu. Semuanya, semua kesalahan abang yang arogan dan egois, abang ambil apa yang penting banget buat kamu, Ian, abang menyesal, abang minta maaf.” Kata Rahen penuh sesal.

“Semua udah terlambat.” Kata Ian.

Makin dalam rasa bersalah Rahen dibuatnya.

“Aku ngga tau perasaan abang sekarang gimana, entah itu cuma rasa bersalah atau kasian, atau entahlah, aku ngga tau, tapi yang jelas, aku gak terima kalo tiba-tiba sekarang abang bilang abang suka sama aku.”

“Gak masuk akal, gak bisa diterima perasaanku. Jelas terasa abang gak tulus.”

Rahen mengangguk, “abang ngerti, Ian,” katanya.

“Tapi, Ian, apa kamu benci sama abang?”

“Apa kamu masih mau ketemu sama abang?”

“Ian, apa abang masih boleh deket sama kamu?”

Ian diam untuk sejenak, tersenyum kecil lalu menghela nafas.

“Kalau aku jauhin abang gimana caranya aku liat abang serius berubah atau nggak?”

Rahen tercekat, Ian menatapnya, teduh, tenang, beda banget sama Ian si bocil bodoh yang selalu menatap Rahen bak anak anjing penurut sebelumnya.

“Aku ngga bisa benci dan suka sama abang di saat yang bersamaan. Aku ngga akan sanggup, jadi aku pilih salah satunya.”

“Tadi aku udah bilang, aku tetep suka sama abang.”

Gausah dijorokin juga kayanya Rahen terjun bebas sendiri aja ini.

“Suatu hari,” ucap Ian dijeda.

“Suatu hari kalo abang serius suka sama aku, semoga aku masih suka sama abang.”

Rahen menoleh, tatapannya penuh, kali ini matanya berkaca-kaca, entah kenapa dia takut buat dengerin Ian lebih jauh.

“Karena setau aku, cinta sendirian itu berat, gak enak, mending saling cinta, atau kalau gak bisa, yaudah, pisah aja.”

“Dipermainkan itu rasanya sakit, ternyata.”

Dan inilah bentuk tanggungjawab Rahen atas luka yang dia goreskan di hati Ian yang tulus suka sama dia selama ini.

“Dua bulan.” Kata Ian.

Rahen menoleh lagi, menatap serius.

“Dalam dua bulan kalau aku ngga yakin sama abang, ayo kita ngga usah ketemu lagi.”

Deg!

Dua minggu pertarungan hidup dan mati Rahen.

“Dua minggu, abang sanggup!” ucap Rahen.

“Abang mampu, abang bakal yakinin kamu.”

“Kamu pasti gak akan sudi denger janji, jadi abang bakal usahain dua minggu itu sebaik mungkin!”

Tekad Rahen itu mutlak, matanya pun gak bohong. Suaranya tegas, jantungnya sendiri udah ribut sejak awal. Ian tergelak.

Rahen mau nangis malah diketawain.

“Jangan nangis kalau tiba-tiba ada orang lain yang suka sama aku.”

“Siapa? Jerga?”

“Bukan. Ya siapapun, nggak tau.”

Suara Ian terdengar bercanda, mendayu manis banget, Rahen degdegan.

“Tapi gimana soal Jerga?”

“Nggak gimana-gimana, hatiku cuma nggak memilih dia aja.”

Satu hal yang Rahen tau tentang Ian sejak awal adalah keteguhan hatinya, sekali Ian punya idealisme maka seterusnya dia akan berpegang teguh pada hal yang sama.

Dan meski Rahen ini adalah bajingan yang sudah menghancurkan kesuciannya, Ian tetap berpegang teguh pada fakta bahwa hatinya telah memilih untuk suka sama siapa.

Dan sampai akhir, Rahen tetap menjadi pemenangnya.

(( tamat ))

demonycal property.

--

--

No responses yet