dollie boy — jerga rahen ian.

Hinandra
3 min readAug 8, 2024

--

Jerga pergi berdua sama Ian, padahal harusnya Sebas ikut cuma dia lagi mager keluar rumah katanya, padahal mah gak tau aja kalo sebenarnya Sebas ngasih waktu buat Jerga supaya bisa pdkt sama Ian.

Hari-hari mereka diisi dengan banyak sekali obrolan yang tau-tau sudah mengubah perspektif masing-masing, utamanya sih Jerga dan Sebas berhenti main ewe sana sini. Sebenarnya gak seberhenti itu, tapi ya udah jarang banget.

Kepolosan Mahazian benar-benar berhasil meluluhkan sisi gelap dari Jerga dan Sebastian. Nggak tau kalo Rahen.

“Kakak ke toilet bentar, ya, Ian.”

Sambil menunggu pesanan makan malam mereka, Jerga pamit dan Ian mengiyakan, ponsel jadi perhatian setelah ditinggalkan. Ian jujur soal senang hatinya berteman dengan Jerga dan Sebas sebab kalo aja gak ada mereka berdua, Ian gak tau gimana dia bakal lewatin hari-harinya kangen sama Rahen disaat sedang menghindar begini.

Sekilas pikiran tentang itu membuat Ian ingat sama nasehat Sebas, ‘perasaanmu itu valid,’ ya memang benar, ‘coba untuk lebih berani,’ memangnya Ian harus apa? kalaupun menghadapi Rahen, Ian harus bagaimana?

“Mahazian?”

Sebuah suara mengetuk pintu lamunan, gak yakin sama siapa yang datang, Ian menoleh ke belakang, tapi yang dia tuju justru melangkah melewatinya untuk duduk di depan Ian, tepat di kursi Jerga.

“Abang.” Guman Ian dengan tatapan yang sulit diartikan, yang jelas dia terkejut.

Rahen sadar betul kehadiran nya membuat Ian kaget, tadinya Rahen juga berniat berlalu gitu aja tapi tubuhnya bergerak sendiri dan tau-tau udah negur Ian aja.

“Apa kabar?” tanya Rahen, suaranya lembut, nyaris gak terdengar malah. Aduh, canggung banget.

“Kabar baik, abang sendiri gimana?” balas Ian, kikuk banget senyumnya.

“Baik, tapi ada ngga baiknya,” ucap Rahen, jujur dong, “karena kamu ngehindarin abang,” katanya.

Jelas segera membuat Ian menunduk, “maaf,” ucapnya.

“Ini semua salah abang, Ian.” Begitulah tungkas Rahen duluan. Mendengar kata yang seharusnya dia katakan duluan malah membuatnya merasa kesal.

“Abang minta maaf,” ucapnya, beranikan diri tatap mata Ian yang berkaca-kaca, cepat banget nangisnya, tapi Rahen jelas tau kalau bocah ini gak pernah berubah, masih bodoh. Bodohnya dia memilih Rahen, kenapa harus? masih ada yang lain. Kalau aja Ian memilih orang lain, semua rasa sakit itu gak akan dia rasakan.

“Abang menyesal, Ian, maaf baru ngomong sekarang, selama ini abang kabur, maaf karena abang bener-bener pengecut,” kata Rahen, gak jago milih kata, dia cuma omongin apa yang dia rasain.

Dalam hati bertanya, ‘udah bener bukan begini, Bas?’ soalnya Rahen gak jago soal berperasaan.

Rahen mau ngomong lebih banyak, tapi baru mangap dikit dia udah liat Jerga berdiri agak jauh di belakang Ian, nafasnya langsung dia hela, niat ngobrol lebih lama pun urung, “maaf ya, Ian, abang harus pergi sekarang, tapi nanti Abang pasti dateng lagi, kita ngobrol dari awal, ya, Ian?” katanya kemudian, gak mau jadi perusak waktu berdua Jerga dan Ian.

“Buru-buru?” ujar Ian.

“Aa… iya kebetulan abang ada kerjaan deket sini, tapi boleh ‘kan nanti abang ketemu lagi sama kamu?” ujarnya setelah bangkit.

Ian cuma mengangguk karena Rahen tampak begitu diburu waktu, tapi jelas terlihat senyumnya yang lebih tua sebelum benar-benar pergi tinggalkan Ian dengan jantung yang masih berdebar kencang. Iya, rasanya masih sama, masih Rahen orangnya.

“Ian.”

“Maaf ya, Kakak agak lama tapi penuh banget,” kata Jerga setelah duduk kembali di depan Ian.

Ian yang terlihat agak kikuk dan memaksakan senyum, matanya fokus pada pintu keluar, Jerga gak meneliti lebih lanjut, dia gak mau membahas Rahen di saat mereka sedang berduaan. Walaupun kesel tapi udahlah. Rahen aja pergi setelah Jerga datang, buat apa Jerga membahas Rahen yang gak ingin tinggal?

to be continued.

demonycal property.

--

--

No responses yet