dari juwima, untuk hanan. 🔞
Juwima cukup sering kepikiran satu hal beberapa waktu belakangan, saat dia merasa ada yang memperhatikan ketika sedang masturbasi, perasaan yang membuatnya siaga karena takut bakal ketauan dan malas menanggung malu, tapi juga dibuat semakin bernafsu karena perasaan itu.
Jadi ketika Juwima mulai merasa ada mata yang memperhatikan dirinya, berseiring dengan tubuh yang memanas, darah yang mengalir cepat akibat jantung yang berdebar kencang sebab tekanan adrenalin, membuat gerakan vibrator yang menyumpal memeknya terasa lebih nikmat dari yang seharusnya, reflek buat Juwima desah kencang sebagai implementasi kenikmatan yang didapatkan.
Juwima mungkin sudah gila, dia hanya berpikir sedang masa subur atau apalah sejenisnya, sebab makin hari, makin gampang horny, film-film erotis yang juga jadi lebih sering dia tonton sebagai bahan pembangkit hasrat dan Hanan selalu memanfaatkan situasi saat di rumah sendiri, dia bisa lebih leluasa mendesah dan bergerak bermain dengan vibratornya.
Hari libur dan semua orang sibuk sendiri, layar laptop terbuka dengan film porno sedang berputar, sementara Juwima sedang menstimulasi dirinya sendiri, memainkan nipple nya, mengemut jarinya sampai benar-benar basah lalu melumasi liang kawinnya yang lapar dengan ludah, menusuk-nusuk memek beceknya dengan dua jari, sampai cairan ejakulasi membalut jarinya dan berpindah menyumpal mulut, Juwima mengambil vibrator dengan tangan satunya dan mulai berfantasi liar dengan benda lonjong panjang yang bergetar dalam liang basahnya.
“Eumh — ahh! yeahh, eung- nggh! enak… enak… ahh, eunhh!”
Jolt!
“Ahh!”
Lagi, Juwima merasakannya lagi, begitu dia dorong vibrator itu masuk lebih dalam dan mengenai titik nikmatnya, Juwima merasakan ada yang sedang memperhatikan dirinya, ekspresi wajah Juwi segera berubah jadi begitu antusias dan erotis di satu waktu, benar-benar mesum.
Gerakan tangannya semakin cepat, menciptakan suara becek yang khas tiap kali vibrator itu menancap ke dalam tubuhnya, cairan terus mengalir dari kegiatan Juwima sampai kakinya reflek mengangkang lebar-lebar dan lalu tertutup, menjepit vibrator dalam liang beceknya saat orgasme Juwima tiba, basahi sprai dan juga selimutnya, tapi tawa puas Juwi terdengar begitu murahan, yang tentunya karena dia bisa merasakan kenikmatan penuh hingga tubuhnya begitu terlena.
“Haahh… sampai kapan dia cuma mau ngintipin aku terus?”
— to be continued.
Hinandra’s property.