Hinandra
4 min readAug 22, 2023

abryan-jefarhan; hormat kepada angin, meliuk lika liku luka.

yang menangis meraung menyuarakan sakit hatinya sepanjang malam adalah abryan, terjaga demi menanti jefarhan bangun dari tidur lelapnya.

takut. abryan hanya gak akan pernah bisa mengenali dirinya sendiri jika saja ketakutannya benar terjadi. satu hal yang biasa dalam hidup, namun gak akan pernah bisa membuat kita terbiasa, ialah kehilangan.

dan ibu serta adiknya ada disana, menenangkan abryan yang melewati badai dalam rengkuh nestapa, menyedihkan, melihat jefarhan tertidur setelah pingsan dan dikatakan oleh dokter bahwa alam bawah sadarnya sedang membutuhkan lebih banyak ketenangan.

tapi, abryan terus ketakutan, bagaimana kalau selama apapun gak cukup bagi jiwa jefarhan yang lelah?

dunia sudah terlalu jauh menindasnya, ketidakadilan yang serta merta juga meninggalkan trauma dalam hidupnya, jangan lupakan cinta abryan untuk sang sabiru, jika jefarhan menyerah, bagaimana abryan akan bertahan?

edgar bersama mario menjenguk di hari kedua, dan selama itu pula abryan masih dengan wujud yang sama, balutan pakaian yang sama, wajah kusam dengan kantung mata, netra merah yang masih sering menangisi kekhawatiran dalam hatinya, kini semua sudah tau apa yang terjadi, ibu dan adiknya juga edgar dan bahkan istrinya mario.

“bang,” edgar ada disana, berdiri bersisian dengan mario.

abryan duduk dengan tatapan penuh pada jefarhan.

“lo harus mandi, bang,” kata mario.

“minimal, kalau ‘lo mau jagain jeje, lo harus jaga kondisi lo sendiri.” ujar edgar.

“nanti aja, gue gak bisa tenang sebelum jeje siuman, ini pertama kali dia begini, kenapa gak bangun-bangun? gue gak percaya kata dokter, tapi gue lebih gak percaya lagi sama diri sendiri, gimana ini, gar, yo? jeje marah sama gue kali ya? gue gagal jagain dia, harusnya…”

“harusnya gue nggak biarin dia ketemu sama adam hari itu.”

“harusnya, gue ngga biarin jeje kenal sama dunia yang lebih luas, yang lebih buas dari dunia sempitnya, bundanya yang jahat dan gila harta.”

edgar dan mario kompak beradu pandang, prihatin dan sama halnya dengan abryan, rasa bersalah sebagai teman yang gak mampu lebih cepat tanggap pada situasi membuat mereka begitu sedih.

hingga tangan edgar dan mario mendarat di masing-masing sisi bahu lesu abryan, “ini bukan waktunya merutuki diri, bang, jangan terpuruk untuk memancing hal-hal yang lebih buruk terjadi,” kata edgar.

“setidaknya sekarang, kita tau gimana adam yang sebenarnya, dan gimana perjuangan ‘lo untuk jeje, lo bilang dia minta lo buat ngajarin dia jatuh cinta ‘kan? jangan nyerah dulu, bang, ‘lo ‘kan belum dengerin jeje bilang sendiri kalau dia udah cinta sama ‘lo.” kata mario penuh kepedulian, setidaknya dia benar-benar merasa ikut terguncang karena masalah abryan dan adam, kasihan sekali jefarhan.

“kalau kata quotes di pinterest ya, bang,” kata edgar, “cinta sejati akan selalu menemukan jalan yang tepat untuk pulang, jadi selama masih ada rumah, selama masih ada ‘lo yang setia cinta sama jeje, gue yakin dia pasti segera bangun dan sembuh,” imbuhnya penuh dukungan, secara moral dan mental.

hela napas abryan terdengar, mengusap wajahnya yang keruh, “gue kangen sabiru jefarhan-nya gue, cepet bangun, ayo kita nikah, semuanya hampir siap, ayo bangun, sayang, gue disini, selalu disini,” ujarnya, menggenggam erat tangan jefarhan yang bebas dari infus.

gesit tangan edgar menghapus air matanya sendiri, terharu dan sedih melihat perjuangan abryan dengan kisah cintanya, sementara mario hanya bisa menepuk pundak abryan berharap sang sahabat jadi lebih kuat untuk apapun yang akan dihadapinya.

“bang, man—”

“jeje?!”

jemari jefarhan bergerak, dengan sentak kaget abryan buat edgar segera berlari memanggil dokter lupakan sebenarnya bisa pencet tombol, namanya juga panik.

“akhirnya, sadar juga jeje,” ujar mario penuh syukur.

begitu dokter keluar setelah memeriksa keadaan jefarhan, edgar berdiri di sebelahnya, mendengus kesal dia kemudian, “si adam bajingan, gak habis pikir gue sama tingkahnya, ditemenin bukannya jaga kelakuan malah minta digebukin,” ujarnya penuh api kebencian.

“biarin aja, biar tau rasa sekarang kehilangan teman!” sahut mario, jelas gak boleh absen menjulid.

menelisik pada abryan, yang kembali menangisi jefarhan, cantiknya itu terbangun dalam keadaan yang baik, sama seperti situasi orang yang baru bangun tidur.

tapi mengertilah bahwa abryan sangat resah, bagaimana jika nyatanya jefarhan sedang memendam perasaannya, memaksa dirinya untuk nampak baik-baik saja?

“udah, ryan, jeje nggak apa-apa kok, berhenti dulu nangisnya, kasihan ryan pasti capek,” juga dengan tangan mengusap pundak abryan.

“sayang…” lirih abryan berusaha menelan tangis.

direngkuhnya hangat telapak tangan jefarhan dengan genggaman erat.

abryan gak akan memaksa sesuatu yang sedang diusahakan untuk tidak terjadi untuk terjadi, ia akan membiarkan semua berjalan apa adanya, sekalipun melibatkan sakit dan nelangsa, yang pasti dia akan selalu ada, di setiap bangun dan tidurnya jefarhan.

“jangan sakit lagi, je, rasanya sedih banget, aku khawatir kamu jauh lebih sakit dari yang bisa aku mengerti,” ujar abryan seraya ulurkan tangannya, mengusap lembut wajah jefarhan yang sedikit pucat.

dan senyum jefarhan terbit, benar ‘kan apa katanya?

“jeje tau kok, jeje bisa aja sakit banget, ryan,” kata jefarhan, usap lembut punggung tangan abryan yang genggamnya erat, “tapi sesakit apapun jeje, pasti akan sembuh kalau ryan disini, selalu disini temenin jeje, jagain jeje,” katanya.

buat abryan menangis lagi, tanpa suara. sisipkan kekehan manis berbalut air mata, jefarhan hapus basah yang mengaliri wajah abryan dengan tangannya.

“ryan.”

“iya jeje, sayang?”

jefarhan siap melangitkan doa, abryan siap dengan sejuta amin paling serius di seluruh dunia.

“terima kasih sudah mendatangkan badai untuk mendung jeje, ryan, boleh aja setiap badai meninggalkan kehancuran, tapi jeje baik-baik aja karena disini ada ryan.”

untuk kehancuran keluarga jefarhan, kehancuran pertemanan abryan dengan adam, tentu saja.

dan kini, semesta mengabulkan doa abryan tempo hari, setelah badai melahap mendung, enyah tinggalkan kehancuran sisakan puing-puing harapan.

biar cinta yang datang, menggagas warna-warni pelangi bersanding dengan gurat hitam di atas putih kanvas lehidupan abryan dan jefarhan.

“terima kasih selalu hebat, terima kasih selalu jadi lebih kuat untuk bisa melindungi aku.”

“dengan segala kurang dan lebihku, aku mencintaimu, satu-satunya semesta yang begitu menyayangiku.”

“abryan jagatnata.”

—to be continue.

©hinan

No responses yet