Hinandra
5 min readOct 10, 2023

ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤHEKSENJAGER.

“ARES!”

Persetan dengan tugas dan tanggung jawab, Marco berlari menyusuri Hutan Larangan demi mencari Ares yang pasti kabur darinya.

Marco tak sepenuhnya berbohong, dia memang Vampire, dan juga seorang Wizard & Witch Hunter, bukan hanya itu, Marco juga bisa jika ditugaskan memburu makhluk lain, kecuali Vampire, karena ya mana mungkin Marco memburu kaumnya sendiri.

Kembali pada perburuan—pencariannya, menurut Nicholas, teman Ares yang merupakan seorang Demigod Artemis, Ares pergi ke Hutan Larangan untuk menghindari Marco, jangan tanya kenapa Nicholas bocorkan info itu, Marco hampir menembaknya dengan Pistol khusus untuk memburu Demigod.

“ARES! JANGAN KABUR!”

Siluet seorang dengan surai platina itu berlari ke dalam hutan, dikejar oleh Marco dengan segenap tenaga.

“SIAL!” Ares mengumpat saat merogoh saku untuk mencari tongkat sihirnya.

“Appara—”

DOR!

“AAARGH! MARCO BANGSAT!”

Tongkat sihir Ares patah saat peluru Marco mengenainya, bahkan tangan Ares berdarah akibat tergores potongan kayu keras dari tongkat berwarna hitam itu.

“STOP LARI!” seru Marco.

“GUE GAK MAU MATI!” balas Ares.

“BERHENTI, ARES!”

Marco terus saja mengejar, dan Ares tanpa peduli kakinya sudah lecet-lecet tetap berusaha kabur.

“GUE BILANG — ”

Shoot!

Brugh!

“AAARGHH!”

Burung-burung berterbangan ke langit saat teriakan Ares terdengar begitu keras setelah tubuhnya ambruk karena kakinya tertancap panah dari Crossbow milik Marco.

“Shhh… sial!” pekiknya, meluruskan kaki yang berdarah.

Marco jelas mendapatkannya.

“Gue bawa banyak senjata, Res, kalau gue emang mau bunuh lo, dengan sekali tembak pun lo udah mati!” kata Marco saat berjalan mendekat, berakhit berlutut dengan satu kaki di depan Ares, tepatnya di depan kaki Ares yang masih tertancap panah.

“Kenapa lo tega bohongin gue, Co?” tangis si Penyihir tumpah.

“Gue nggak— ”

“Lo bohong! Lo bohong soal identitas lo sebagai Hunter! Lo—”

“Gue bisa jelasin, Res, dengerin gue dulu!”

Bentakan itu membuat Ares bungkam, kakinya sakit, karena itu dia menamgis, darah terus keluar, Marco juga membuatnya kecewa setelah Ares percaya padanya.

“Gue gak sepenuhnya bohong, gue beneran Vampire!”

“Tapi kenapa lo gak bilang kalau lo Hunter?”

“Karena…” Marco tercekat, “gue…” sulit untuk mengatakannya.

Ares terus menangis tanpa suara, tubuhnya lemas kini bersandar pada batang pohon berlumut di belakangnya.

Inikah saatnya ia akan mati di tangan Marco?

“Lo bunuh gue.”

Darah dari luka di kaki Ares menetes ke tanah berlumut, sisi Vampire Marco jelas bereaksi.

Crass!

“AKHHHH!”

Sekali lagi Ares berteriak keras, Marco menarik panah dikakinya, lalu melepas kain hitam yang semula menutupi setengah wajahnya.

Taring tajam menyela sudut bibir Marco, Vampire itu mengikatkan kain hitam tadi, menahan darah dari luka Ares, darah yang mengotori jemarinya lalu tanpa jijik dijilatnya darah Ares.

“Kenapa…” Ares kebingungan, ditengah betapa lemas tubuhnya hingga wajahnya mulai pucat, Marco mendekat.

“Waktu gue kasih tau identitas gue sebagai Vampire, gue juga mau bilang kalau gue bekerja sebagai Hunter, utamanya, gue memburu Penyihir,” kata Marco, “tapi apa lo tau gue gak bisa bilang karena... lo. Ares.”

“Mungkin ini terdengar gak masuk akal dan drama, tapi, gue jatuh cinta.”

Marco benar-benar dekat hingga Ares bisa bersitatap dengan sepasang mata Vampire berkilat merah itu.

“Lo nggak mungkin jatuh cinta sama Buruan lo sendiri, apa kata Hunter lainnya? lo bisa di cap berkhianat dan dipecat dari pekerjaan lo!” kata Ares kemudian, memarahi Marco yang gegabah.

Tapi cinta justru spontan, mana tau saat menatap lalu mendadak jatuh, cinta tak pernah gegabah.

“Dan apa lo siap mati ditangan gue?”

Ares jelas menggeleng, “nggak! gue nggak mau mati!” katanya.

“Tapi itu satu-satunya cara.”

Ares bergeming, kakinya mulai kebas dan mati rasa karena terikat.

“Please, nggak bisakah lo pergi dan cari Penyihir lain untuk lo bunuh? Lagipula, gue bukan Penyihir jahat, gue ada di Light side, tolong percaya sama gue, Marco, gue percaya sama lo selama ini!”

“Tapi gue kecewa, kenapa lo bohong? lo mau bunuh gue. Hunter nggak kenal belas kasih, sekalipun lo bilang lo jatuh cinta sama gue, buktinya aja lo lukain gue kayak gini!”

Setelan dalam hijau-hijau Ares membuat Marco terkekeh mendengar ocehan si lulusan Slytherin.

“Lo nggak ada di Dark Side tapi orang tua lo Death Eaters, yakin?”

“Tap… tapi… itu ‘kan mereka, gu… gue bu—”

“Kenapa gugup gitu?”

“Sshh… sialan!”

Ares menggeram marah, “fine! silakan bunuh gue, apapun mau lo, terserah deh!” katanya.

“Kenapa Slytherin kok pasrahan banget?” tanya si Hunter.

“Ares…” panggilnya kemudian.

“Panah ini ngga akan bikin lo mati, sakitnya cuma ngebantu gue untuk nahan lo.”

“Tapi gue tau lo juga suka sama gue, mulut lo bisa bohong, tapi mata lo nggak bisa. Gue tau lo pakai legilimency ke gue dan karena itu lo tau gue sering mikirin lo.”

Ares mencoba memanfaatkan situasi ssbaik mungkin asal ia tak mati.

“Lantas, bisakah dengan alasan itu lo nggak bunuh gue, Marco?”

Yang diberi tanya menatap penuh.

“Jawab!” seru Ares.

“Nggak.” Katanya.

“Itu aja nggak akan cukup, Ares.”

Lalu Ares benar-benar pasrah, ajal benar-benar tepat di depan mata.

“Jadi gue akan tetap mati di tangan lo?”

Marco mengangguk.

“Harus.”

Mau secinta apapun, Hunter tetaplah Hunter, tugasnya memburu, membunuh, Ares harus siap, sebentar lagi ia akan terbunuh.

“Udah lama gue nungguin moment ini, Res.”

Ares menyerah, tatapannya pasrah, Marco siap menikamnya kapan saja, pertemuan itu akan segera berakhir dengan kematiannya, juga keberhasilan Marco menjalankan tugasnya.

“Lo harus mati, Ares.”

Ares mengerjap mata saat dingin menusuk bangunkan dirinya.

Peti mati tempatnya bersemayam kini terbuka, Ares bangkit untuk duduk dan melihat kedua tangannya putih pucat.

Ares kembali mengedar pandang, yang ia ingat adalah Kematiannya. Tepat saat seluruh tubuhnya terasa sakit dan panas, entah apa yang Marco lakukan untuk mencabut nyawanya.

Tapi kenapa ia masih ada disini?

Bukankah Ares sudah mati?

“Selamat datang, Ares.”

“Sudah bangun, pasti bingung ya?”

Marco tepat di depan Peti Mati itu, berdiri tegap dengan setelan jasnya.

“Marco?”

“I-ini hari… Pemakaman gue?”

Ares pikir dirinya kini adalah Hantu dan bisa jadi Marco mampu melihatnya.

“Bukan. Sayang, ini hari Pernikahan kita.”

Seluruh ruangan dengan atmosfir dingin itu tiba-tiba benderang, lilin-lilin menyala tepat setelah Marco menjentikan jarinya.

“Bu-bukannya... gue udah mati hari itu?”

“Ke… kenapa gue ada disini, dan, menikah? Lo…”

“Ares.”

Marco mengulurkan sekuntum bunga mawar pada Ares yang masih terduduk bingung di dalam Peti Mati.

Bunga mawar yang dibalut dengan darah, membuat seketika Ares merasakan aneh pada tubuhnya, lalu Marco tersenyum penuh arti.

Ares dalam kebingungannya meraih tangkai bunga itu, memejam dan menghirup aroma darah segar dari bunga mawar itu.

Lalu Marco mendekat, memiringkan kepalanya dan menjatuhkan sebuah ciuman di dua titik bekas luka yang ada di leher Ares.

Yang membuat empunya membuka mata lalu terkejut, menyentuh luka di lehernya dan menatap Marco penuh, si Hunter lantas tersenyum dengan taring menyela sudut bibirnya.

“Marco…”

Empunya nama mengangguk, tau betul isi pikiran Ares.

“Dengan menjadi Vampire maka lo, Ares, nggak akan bisa lepas dari gue.”

“Lo udah mati. Tapi hidup kembali, menjadi Abadi, tenang, lo tetap Penyihir, tapi sekarang gue ngga perlu memburu ‘lo lagi.”

Marco menyingkirkan bunga mawar dari hadapan Ares, lalu menciumnya dengan lembut, menyadarkan Ares bahwa semua ini nyata;

“Now you’re totally Mine, Ares; for all Eternity.”

ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤSELESAI.

No responses yet